
Arsen melihat Adiba tidak kunjung menjawab pertanyaannya, ia mengangkat dagu Adiba agar mata mereka saling bertemu. Ia ingin memperlihatkan ketulusan hatinya, dengan sorot matanya.
"Adiba, tatap mataku. Lihatlah! Aku tulus mencintaimu, maaf jika kata-katamu menyakiti kamu. Apa kamu mau memberi aku kesempatan lagi," ucap Arsen lagi.
Adiba mencoba mengatur nafasnya dalam-dalam untuk menetralkan detak jantungnya yang memacu tidak karuan.
"Apa perkataanmu dapat dipercaya?"
"Kamu ingin bukti apa? Aku akan membuktikannya asal kamu memberikan aku kesempatan lagi, aku berjanji tidak akan menyakiti kamu," pinta Arsen.
"Tidak perlu bukti, aku hanya ingin melihat bagimana sikapmu padaku. Belum genap satu hari kamu bilang tidak mencintaiku, sekarang kamu sudah berubah lagi. Aku tidak tahu harus percaya ucapan kamu yang mana?" ucap Adiba.
__ADS_1
"Aku tidak ingin terluka untuk kesekian kalinya, kamu terlalu kasar. Aku juga butuh kelembutan dari sikapmu, bukan sikap kejam arogantmu. Jika kamu benar-benar masih mencintaiku kamu pasti akan memperlakukanku dengan baik," jelas Adiba dengan menyadarkan punggungnya di matras ranjang.
Arsen bingung harus menjelaskan dari mana, jika tidak segera ia jelaskan mungkin masalah akan berkepanjangan yang berakibat kehilangan wanitanya kembali.
"Adiba, kamu tahu kenapa aku bisa berada di sekitar kontrakkan kamu?"
Adiba menggeleng, ia tidak perduli kenapa mantan kekasihnya itu bisa ada di sekitar dilingkungannya tinggal. Ia hanya menebak mungkin hanya kebetulan lewat, disisi lain ia berpikir jika kebetulan lewat juga tidak mungkin karena kontraknya bukanlah jalur yang mudah diakses kendaraan roda empat.
"Karena aku ingin tahu bagaimana keadaan kamu. Tadi pagi di perusahaan aku mencari kamu untuk membuatkan kopi dan membersihkan ruanganku. Katanya kamu sakit, aku ingin menjengukmu. Tapi, aku terlalu gengsi hingga preman itu menegur dan mengajak aku berkelahi."
"Sungguh di lubuk hatiku yang paling dalam masih ada namamu, tidak ada yang lain. Memang bibirku mencoba menolak kamu tapi hatiku tetap menginginkan kamu jadi milikku, jadi istriku. Aku sadar, jika aku egois lagi. Aku akan kehilangan wanita sebaik kamu," jelas Arsen.
__ADS_1
"Kenapa kamu memilih aku, diluaran sana banyak wanita yang ingin menjadi pendamping hidupmu. Pasangan yang sepadan, sederajat denganmu, tidak seperti aku yang sakit-sakitan, miskin, serta anak yatim piatu. Orangtuamu pasti sangat membenciku."
"Tidak ada wanita yang sempurna dimataku. Hanya kamulah segalanya untukku, mari kita memulai dari awal lagi. Aku ingin cinta kita tidak saling menyakiti tapi saling membahagiakan satu sama lain. Aku mohon kamu mau," pinta Arsen dengan memelas.
Adiba meraih tangan Arsen, ia bukan bermaksud menolak atas ucapan yang akan ia lontarkan tapi ia ingin menguji ketulusan laki-laki yang sangat ia cintai itu.
"Kamu tahu,' kan aku murahan. Sering bergonti-ganti laki-laki apa kamu ngak jijik denganku, kamu ngak tahu luar dalamnya aku. Masihkah kamu mau kembali lagi denganku," tanya Adiba. "Mungkin juga aku sudah tidak seperti yang kamu harapkan, aku," ucap Adiba sengaja ia gantung.
"Aku akan menerimanya, mungkin itu hukuman untukku. Dulu harusnya aku mendengar penjelasan dari kamu sebelum aku pergi. Aku akan menerima kamu apa adanya, asal kamu tetap setia denganku," jawab Arsen.
bersambung..
__ADS_1
Aku satukan mereka aja ya, biar bahagia dan ending..