
Adiba mendengar ucapan Arsen mulai gelagapan, ia tidak tahu harus menjawab gimana. Jujur ia tak ingin lagi main-main, ia hanya ingin menikah. Ia sadar usianya sudah tidak muda lagi.
Adiba tersenyum kecut, dengan menyilangkan kedua tangannya di dadanya.
"Benarkan kataku? Itu buktinya kamu senyum malu-malu," ledek Arsen sambil menoel-noel hidung mancung wanitanya.
"Apaan sich?" kelakar Adiba. "Sen, aku memang ingin menikah tapi ngak sama kamu," ucapnya lagi.
Deg.
Arsen merasa dadanya sesak seketika mendengar pernyataan Adiba. Yang menyatakan tak ingin menikah dengannya. Kini hatinya bagaikan ditusuk ribuan jarum, ya tusukkan yang menyakitkan tapi tak berdarah.
Wajah Arsen berubah murung, ia engan untuk mengangkat wajahnya. Rasanya ia tak sanggup menatap wanita yang ingin ia lamar esok hari itu. Padahal ia sudah mempersiapkan segalanya untuk besok, tinggal ia meminta restu pada kedua orangtuanya.
"Siapa laki-laki yang beruntung menjadi suami kamu? Apa kah dia lebih dariku?" tanya Arsen untuk mencoba tegar.
__ADS_1
"Dia lebih dari segalanya bagiku, dia orang yang begitu aku cintai dari dulu hingga saat ini. Setiap sujudku selalu ku sebut namanya, berharap pada sang pencipta jika dia kelak jodohku," ucap Adiba dengan seulas senyum di kedua wajahnya.
Siapa dia?! Apa dia..., pikir Arsen mengarah kesahabatnya. Ia mulai berpikir kembali mungkin yang ia lihat beberapa tahun lalu adalah kenyataan.
Adiba meraih tangan Arsen.
"Laki-laki yang spesial dalam hidupku adalah kamu. Kamu tahu aku tak mampu melupakan kamu, Adelio. Cinta pertama ku dan aku berharap kau jodohku sampai akhir hayatku kita selalu bersama," ucap Adiba dengan mengengam kedua tangan Arsen.
Arsen sontak memeluk Adiba. Ia bahagia, sangat bahagia dengan apa yang barusan ia dengar. Tanpa ia sadari Arsen meneteskan air matanya.
Arsen menggeleng, ia kembali memeluk Adiba dengan erat. Rasa ia tidak ingin melepas pelukkannya, ia takut jika ia melepasnya Adiba akan pergi meninggalkan dirinya.
Adiba yang tidak bisa bergerak dan bernafas itu sedikit mendorong tubuh Arsen. Namun, tenaganya tidak sebanding dengan Arsen. Ia kini hanya bisa pasrah dengan nanah sesak.
"Maafkan aku, aku membuat kamu kesulitan nafas," lirih Arsen dengan melepas pelukknya.
__ADS_1
Adiba tersenyum.
"Terimakasih kamu sudah mencintaiku dari dulu hingga saat ini, semoga cinta ini selalu abadi," ucap Arsen dengan hati yang berbunga-bunga.
Arsen memindahkan posisinya, ia memilih berbaring di sofa dengan meletakan kepalanya dipaha Adiba sebagai batalannya.
"Izin sebentar ya," ucap Arsen tanpa menunggu jawaban 'iya' dari sang pemiliknya. "Rasanya tiduran begini sungguh nyaman, membuat hatiku lebih tenang," tuturnya lagi.
"Hai, aku belum mengizinkan kamu kenapa sudah berbaring disini?"
"Biarlah sayang, hanya sebentar. Satu jam saja," pinta Arsen.
Adiba terkekeh, "Itu sangat lama, bisa-bisa pahaku kebas mati rasa."
"Kalau mati rasa aku pijitin dech, atau nanti kita gantian. Aku sangat merindukan kamu," rayu Arsen dengan memainkan ujung rambut Adiba yang tergerai sempurna.
__ADS_1
"Sen, kamu beneran akan menikahiku?" tanya Adiba sekali lagi untuk memastikannya. "Apa orangtua kamu akan merestui hubungan kita, pasti mereka tahu masalah kita dulu. Mereka tahu aku telah mengkhianati kamu," lirih Adiba dengan sendu.