
Di dalam mobil Aira dan Raka sedang perjalanan menuju apartemen Albram bertanya-tanya siapa sebenarnya menantu bungsunya itu.
"Mas Raka, Umi Syarah pernah bercerita sedikit tentang menantu kita. Tapi beliau hanya bilang sekilas tidak detail," kata Aira.
"Cerita apa? Kenapa kamu tidak bilang padaku?" tanya Raka dengan merubah posisinya menatap istrinya yang berada disampingnya.
"Sebenarnya saat itu aku mau bilang ke kamu, Mas. Ingin meminta kamu menyelidikinya namun aku lupa gara-gara ngurusi kamu. Aku tanya ke Umi agar bercerita latar belakang Ega jawabnya Umi malah singkat sekali. Beliau hanya bilang kalau Ega anak yatim, papanya sudah meninggal. Anehnya saat itu Umi bilang jika suatu saat kamu tahu Ega jangan pernah membencinya karena dia suami idaman, dia anak yang baik. Apa maksud itu, Mas?" Aira bercerita serius menatap suaminya agar bisa memberi jawaban dari siasat Umi Syarah.
"Apa maksudnya? Suami idaman! Apa jangan-jangan dia pemilik Albram, nama belakangnya sama dengan Asegaf Albramata. Kenapa aku tidak menyadarinya?"
"Apa berarti dia seorang pengusaha?! Lalu kenapa dia mengaku hanya seorang ob? Apa dia merencanakan sesuatu yang buruk dengan keluarga kita? Mas kamu tidak sedang bermusuhan dengan perusahan Albram kan?" cecar Aira. Aira khawatir jika keluarganya dalam bahaya karena mereka sering mendapatkan mara bahaya dari rekan bisnis Raka yang sedang bersaing dengan perusahaannya.
__ADS_1
Berarti jika Ega itu benar-benar pemilik Albram berarti dia orang yang berkuasa di kota Malang yang terkenal dengan berbagai karakter di kepribadiannya. Tak menyangka jika dia memang benar-benar Albram seperti mimpi memiliki menantu yang multitalenta sungguh menantu yang sempurna. Batin Raka merasa bersyukur.
Sebenarnya ada motif apa dia menyembunyikan semua ini, kenapa dia tiba-tiba mau begitu saja menerima tawaran perjodohanku dengan Abah. Sedangkan dia memiliki segalanya mungkin jika dalam segi kekayaan hampir setara dengan keluarga Wijaya pikir Raka.
Tidak terasa mobil yang dikemudikan Pak Men telah sampai di apartemen mewah yang bernaungan atas perusahan Albram itu. Aira segera merapikan hijab syar'i yang ia kenakan.
"Mas, ayo kita masuk! Nanti Bunda harap, Papa jangan membahas apa pun kecuali menantu kita yang mulainya. Bunda ingin seberapa jauh dia berbohong pada kita. Setelah dari sini, aku harap kamu segera mencari tahu kebenarannya dan apa motif Ega itu," jelas Aira.
"Tidak kamu suruh pun aku akan mencari tahu. Aku harap dia tidak akan menyakiti putri bungsuku itu. Jika dia sampai macam-macam sudah aku hajar dia," tegas Raka.
"Sayang, kenapa jadi bahas masa lalu segala? Kita ini sedang membicarakan anak-anak kita. Itu pun juga sudah tiga puluh tahun lalu kenapa kamu masih mengingatnya apa masih ada luka di hatimu hingga kamu masih mengingat dengan jelas kejadian awal kita menikah," ujar Raka menghentikan langkahnya menatap istrinya itu.
__ADS_1
"Maaf, Mas. Aku tidak bermaksud untuk mengungkit masa lalu itu. Aku tidak ingin kamu menyalahkan seseorang sebelum tahu faktanya," jelas Aira merasa bersalah dengan ucapannya.
"Aku juga minta maaf, sudah jangan bahas itu lagi ya. Aku menyesali semua itu, aku dulu terlalu bodoh hingga menyia-yiakan wanita sebaik kamu," lirih Raka mengecup kening istrinya.
Aira dan Raka telah berada di depan pintu apartemen putri bungsunya mereka segera menekan tombol hijau.
"Lama sekali!" lirih Raka yang merasa kakinya pegal-pegal menunggu putrinya tidak segera membuka pintunya.
"Baru juga lima menit, kayak Mas tidak pernah muda saja," goda Aira.
"Benar kata kamu, mungkin mereka lagi membuatkan kita cucu."
__ADS_1
Sedangkan di dalam Asha dan Ega malah sibuk berdebat siapa yang akan membukakan pintunya.
Bersambung...