
Arsen duduk dikursi kebesarannya dengan membolak-balikkan dokumen yang ada di tangannya. Ia harus bekerja keras saat ini, agar ia bisa pulang lebih awal. Ia sudah berjanji pada Adiba untuk pulang saat makan siang.
"Bos," sapa Yuda langsung duduk dikursi didepan Arsen dengan pembatas meja. "Bos, nanti siang klien dari perusahan C meminta kita untuk datang bernegosiasi masalah harga," kata Yuda.
Arsen menghentikan membacanya, ia menutup dokumen yang berada di tangannya meletakan diatas meja. Ia menyadarkan punggungnya dikursi dengan menggerakkan kepalanya kekanan-kekiri untuk merenggangkan otot-otot sekitar kepala.
"Bos kamu sakit ya," tanya Yuda khawatir.
"Tidak, aku hanya kurang istirahat saja. Bagaimana kalau kamu yang bertemu dengan klien. Masalah ini aku serahkan pada kamu, nanti aku beri kami bonus tambahan. Aku mau pulang, aku ada acara dengan calon istriku," ucap Arsen dengan berdiri dari tempat duduknya.
Ada acara. Itu namanya bukan kurang enak badan, dasar bos bucin umpat Yuda didalam hatinya.
"Bos, tapi ini penting kalau bos tidak datang pasti kita akan kehilang kontrak kerjasama kita."
__ADS_1
"Ini juga lebih penting. Ini masa depanku, kebahagianku, harta bisa dicari tapi kalau cinta sangat sulit didapatkan," jelas Arsen. "Kamu urus, kalau memang dia ngak mau. Biarkan saja," ucap Arsen dengan menepuk bahu Yuda.
Yuda hanya bisa pasrah, berharap tidak akan kehilang klien penting itu. Ia juga tidak bisa menyalahkan sikap sang bos yang egois memetingkan urusan pribadi. Ia merasa kasihan dengan Arsen yang telah banyak menderita masalah percintaan.
.
.
.
Adiba mendengar bunyi bel, segera bergegas untuk membuka pintu menyambut sang pemilik pulang.
"Assalamualaikum," sapa Arsen dengan melonggarkan dasi yang melingkar di kerah kemejanya.
__ADS_1
"Waalaikumsalam," jawab Adiba dengan mengambil alih tas yang dibawa Arsen. "Mau aku buatkan minum apa?" tawar Adiba dengan berjalan dibelakangnya.
"Minum air putih saja, aku mau ganti pakaian dulu. Setelah ini kita makan siang sekalian kita ke butik untuk melihat pakaian yang akan kita kenakan untuk ijab kabul."
"Sen, aku sudah menyiapkan makan siang. Kita makan di rumah aja ya, aku tunggu di meja makan," ucap Adiba meninggalkan Arsen di dalam kamarnya.
Setelah kepergian Adiba, ia menatap dirinya didalam pantulan cermin. Ia meneliti dirinya yang sebentar lagi akan melepas masa perjakanya diusia 30 tahun. Ia sudah tidak sabar menunggu satu minggu lagi, rasanya ia ingin segera memiliki Adiba seutuhnya.
Setelah menganti pakaiannya dengan celana levis dengan kaos, ia segera menuju meja makan. Ia menarik kursi duduk disebelah Adiba.
"Sen, mau lauk apa?" tawar Adiba. "Pakai sayur apa? Ca kangkung, sayur ayam pakai sambal terasi atau dua-duanya," tanya Adiba.
"Samain kayak kamu aja."
__ADS_1
Mereka makan dengan hening, setelah selesai makan Arsen ingin menanyakan sesuatu dengan Adiba. Mungkin saja calon istrinya memiliki impian saat menikah yang akan dilakukan seumur hidupnya. Ya seumur hidup sekali itu yang mereka harapkan tapi semua itu kembali ke takdir. Mereka hanya bisa berdoa agar berjodoh dunia akhir. Tidak akan ada orang ketiga dalam kehidupan rumah tangganya.
Bersambung