
Asha segera menghapus air matanya, lalu ia duduk di kursi dengan menyandarkan kepalanya di pinggiran ranjang dengan salah satu tangannya menggenggam erat tangan Ega hingga tidak terasa ia ketiduran.
Di dalam alam sadar Ega merasa mendapati dirinya berada dalam sebuah ruangan kosong yang seluruhnya berwarna putih. Seperti putihnya cahaya. Kanan, kiri, depan, belakang, bahkan atas dan bawah juga putih. Yang kini ia lihat di depan ada dua pintu dan dua penjaga. Yang satu tampak pintu itu dijaga seorang yang tampan, teduh wajahnya, lembut sorot matanya dan tampak ramah. Yang satu lagi hitam, sangar, menakutkan dan tampak pemarah. Lalu ada yang memperingatkannya.
"Jangan ke sana, kalau kamu ke sana, kamu tidak bisa kembali," ucap orang yang berjubah putih dengan memancarkan sinar putih tanpa kelihatan raut wajahnya.
Di saat itu juga ia mendengar suara kedua anak kecil yang berlari-lari memanggil namanya dengan sebutan Papa hingga ia mengikuti kemana arah kedua anak itu berlari hingga nafasnya terengah-engah dengan keringat membasahi kedua wajahnya namun saat ia mengusapnya kedua anak kecil itu hilang dari pandangan matanya. Ia hanya mendengar suara panggilan cepat bangun hingga akhirnya ia membuka mata perlahan-lahan.
Asha yang merasakan gerakan tangan suaminya segera membuka paksa matanya yang lelah, letih akibat semalaman bergadang sampai waktu matahari terbit.
Asha segera menekan tombol pemanggil di sisi tempat tidur pasien berharap dokter segera datang memeriksa suaminya yang mulai menunjukan tanda-tanda akan sadar.
__ADS_1
Ega melihat orang yang dicintai mulai menujukan wajah panik, ia menggenggam tangan istrinya dengan salah satu tangannya sambil membuang alat yang terpasang di mulut dan hidungnya.
"Mas jangan dilepas! Kamu masih butuh alat itu," mohon Asha dengan penuh khawatir jika suaminya akan mengalami kejadian yang tidak terduga.
Ega tersenyum, ia menghapus air mata istri yang sangat ia rindukan.
"Aku haus sayang, tolong bantu Mas ambil air minum itu," ucap Ega.
Ega meneguk habis air dengan tiga kali tegukan saja. Ia seperti orang yang baru bangun tidur tidak menunjukan gejala-gejala seseorang yang baru mengalami koma.
"Mas apa kamu merasakan sakit? Mana yang sakit mas?" cecar Asha.
__ADS_1
"Aku baik-baik saja, kenapa aku ada disini? Ayo, bawa aku pulang! Aku ingin menyiapkan kamar untuk anak kita. Kenapa perut kamu sudah makin bulat padahal aku hanya tidur semalam," ketus Ega.
Apa semalam? Kamu koma satu bulan dan sekarang sadar seperti orang yang tidak terjadi apa-apa tidak. Tapi aku bersyukur kamu tidak hilang ingatan mas, aku sangat bersyukur kamu sudah sadar masih diberi kesempatan untuk kita bersama. Semoga kita diberikan umur panjang hingga bisa menyaksikan anak cucu kita hidup bahagia batin Asha merasa bahagia.
Empat dokter dengan lima perawat datang dengan nafas naik turun akibat berlari menuju ruangan dimana Ega di rawat. Mereka tidak ingin membuat kesalahan jika mereka terlambat sedikit saja entah apa yang akan terjadi dengan karirnya sebagai dokter.
Bersambung
Yuk mampir juga di single mom! kisah Diana sahabat Asha yang akan aku pindahkan ke sini juga..
__ADS_1