Wedding Agreement

Wedding Agreement
46 Season 3


__ADS_3

Adiba telah selesai dengan penampilan yang terlihat memikat, ia kenakan sleeveless dress dengan aksen lace. Dress dengan tone warna salem ini, ia kombinasikan bersama kain tulle beserta belt. 


Ia padukan tambahkan aksesori teardrop earrings dengan riasan makeup bernuansa  bold. Penampilannya kian sempurna dengan tambahan heels berdetail strap belakang dengan hijab yang senada.


"Ayo!" ajak Adiba dengan menepuk bahu Arsen dari belakang. "Keburu jalanan macet," ucap Adiba dengan merapikan hijabnya.


"Cantik," puji Arsen.


Mobil yang dikendarai Arsen kini masuk kesebuah halaman rumah klasik yang besar. Ia menghentikan mobilnya, melepas sabuk pengamannya.


"Ini rumah siapa?" tanya Adiba.


"Oh, ini rumah kita. Nanti setelah menikah kita akan pindah kesini, oya sayang jika mereka tanya kamu tinggal dimana jawab aja di apartemen yang kamu tempati saat ini. Tapi ingat jangan bilang tinggal bersamaku, mereka tahu kalau aku tinggal disini," jelas Arsen. "Mohon kerjasamanya sayang," ucap Arsen lagi dengan melepas sabuk pengaman yang melingkar di tubuh Adiba.


Apa aku harus berbohong? Sekali aku berbohong pasti akan terus menimbulkan kebohongan lagi. Batin Adiba yang tidak suka kebohongan.

__ADS_1


"Jangan khawatir hanya sekali," lirih Arsen lagi dengan membukakan pintu mobil untuk Adiba.


Adiba mengangguk. Hanya sekali ini, tidak ada kedua kalinya pikir Adiba.


Adiba segera berjalan mengekori Arsen yang telah melangkah lebih dulu.


"Assalamualaikum," sapa Arsen dengan membuka pintu rumahnya.


"Waalaikumsalam, sudah pulang, Nak. Oh ada calon menantuku juga," sapa Asha dengan berdiri berjalan menuju dekat pintu. "Masuk, Nak Adiba! Gimana kabar kamu?" tanya Asha dengan mengusap punggung Adiba ketika dia menyalami punggung tangannya.


"Alhamdulillah tante, Adiba baik. Tante sendiri bagaimana?" tanya Adiba dengan santun.


"Kok tante, Nak. Panggil mama seperti Arsen, sebentar lagi kamu menjadi bagian keluarga kita. Mama baik seperti yang kamu lihat saat ini, lama ngak ketemu kamu tambah cantik ya, Nak. Pantas saja putraku tergila-gila oleh kamu, mama kalau jadi laki-laki pasti akan kepincut olehmu," ucap Asha.


"Tante bisa saja, cantik itu relatif tante semua wanita pasti cantik. Aku hanya butiran debu yang ada dijalan, usam tak terawat," lirih Adiba merendahkan diri.

__ADS_1


"Aduh, sudah mama bilang jangan panggil tante. Oya, Sen panggil papa kamu sana! Bilang menantu kesayangnya datang."


"Biarkan saja, mungkin papa lagi istirahat ngak enak ganggu orang tidur," ucap Arsen dengan mengambil camilan yang ada diatas meja. "Kamu mau," tawar Arsen pada Adiba.


Adiba memberikan tatapan tak suka pada Arsen. Kini sorot matanya memberikan isyarat padanya agar memanggil sang papa sesuai perintah sang mama.


"Baiklah aku panggil papa, kamu ngobrol dengan mama ya," ucap Arsen berdiri dari tempat duduknya.


"Tidak perlu membangunkan papa, papa tidak tidur."


Arsen mendengar suara dari belakangnya ia menoleh, melihat sang papa berjalan menghampirinya untuk bergabung ia duduk kembali.


"Assalamualaikum, Nak Adiba," sapa Ega.


"Waalaikumsalam, om," jawab Adiba dengan mengulurkan tangan meraih tangan Ega untuk menyalaminya. Namun Ega memberikan isyarat jika ia tidak ingin bersalaman, ia pun menarik kembali tangannya lalu duduk.

__ADS_1


Papa?! Geram Arsen melihat sikap sang papa memperlakukan calon istrinya hingga membuat Adiba malu. Apa salah kamu hingga papa bersikap angkuh.


Bersambung.


__ADS_2