
Diana yang mendengarkan percakapan sahabatnya dengan suaminya itu merasa tidak enak padahal ia juga tidak ingin melakukan perawatan baginya mandi dua kali sehari itu sudah merupakan perawat wajib baginya. Masalah putih mulus biarlah alami apa adanya dari bawaan lahir.
"Sha, aku pulang saja. Sepertinya aku kurang enak badan. Aku takut jika aku kelayapan hari ini besok pas acara ulang tahun kamu aku ngak bisa hadir kan jadi ngak asyik," sahut Diana.
"Sakit apanya? Wajahmu saja ceriah gitu, sudah ngak ada penolakan. Kamu ngak usah merasa ngak enak segala, suamiku itu baik hati dia selalu mengizinkan asal itu baik dan jelas, benar begitukan Mas Ega?" tanya Asha menatap suaminya.
"Iya sayang, sudah kamu pulang hati-hati. Mas mau lanjut kerja, assalamualaikum."
Ega segera mematikan layar ponselnya, lalu berjalan mengambil jasnya untuk pergi melihat sendiri rancangan konsep untuk acara besok malam.
***
Ega yang telah sampai di hotel anak cabangnya telah di sambut ramah oleh para petugas dari desainer terkenal yang membimbingnya melihat semua konsep yang ia inginkan.
Ia segera berjalan keliling mengecek setiap perlengkapan acara besok berlansung, walaupun hanya acara ulang tahun istrinya itu baginya sangat penting karena ini pertama kalinya ia memperlihatkan diri ke publiks dan keseluruh media tentang kehidupan dirinya juga pribadinya.
Ia ingin besok malam akan menjadi berkesan buat Asha juga orang-orang yang disekitarnya yang pernah menghinanya juga istrinya. Ia sudah tak sabar melihat reaksi Dion serta Bela jika mengetahui jika ia orang nomer satu di kota ini, mungkin mereka akan menjilat memohon ampun padanya karena ia lah pemilik sebenarnya rumah sakit ini bukan Pak Doni yang selalu mereka banggakan dan andalkan.
Ega juga melihat dekorasi panggung untuk acara hiburan yang di desain dengan nuansa putih sesuai dengan tema yang ia terapkan.
Merasa puas dengan hasil finisingnya, ia berganti memeriksa meja tamu yang akan di hadiri sekitar tujuh ratusan orang yang bekerja di rumah sakit serta sahabat juga rekan bisnisnya saja yang akan hadir.
"Sempurna," puji Ega.
***
__ADS_1
Ega yang sampai di apartemen menjelang magrib itu melihat rumah sudah sepi tidak ada orang lagi. Ia segera masuk ke dalam kamarnya memastikan istrinya sedang berbuat apa?
Cklek
Ega membuka pintu perlahan, sambil mengendap-endap untuk mengejutkan istrinya dengan sebuah paper bag di tangan kanannya.
"Ngendap-ngendap! Seperti apa aja, Mas!" tegur Asha dengan menepuk pundak suaminya dari belakang.
"Sayang, kamu membuat mas kaget saja. Kamu dari mana?"
Harusnya yang tanya itu aku, Mas. Kamu itu lupa ini hari sudah menjelang gelap, adzan magrib pun sudah mau menyambut malam tapi kamu baru pulang batin Asha dengan wajah cemberut.
"Dari dapur membuatkan makan malam buat kamu. Mas kamu dari mana? Kenapa tidak memberiku kabar? Lupa punya istri yang sedang menunggu di rumah," cabik Asha berjalan melewati suaminya.
Asha segera melangkahkan kakinya menghampiri suaminya hingga berdiri di depannya. Ia segera mengambil alih kancing jas milik suaminya melepas satu persatu hingga lepas dari tubuh kekar suaminya. Ia juga melepaskan dasi yang melingkar di kerah kemeja suaminya, kemudian membawanya ke keranjang baju kotor.
Asha segera menyiapkan air hangat untuk suaminya mandi, baginya menyiapkan semua kebutuhan suaminya sangatlah sesuatu yang menyenangkan walaupun Ega selalu melarangnya.
"Mas, air hangatnya sudah. Sebaiknya kamu mandi dulu, setelah itu kita jamaah salat magrib," ujar Asha sambil menyiapkan sarung serta baju koko untuk suaminya.
"Siap, Sayang," jawab Ega. "Sayang, kamu sudah tidak datang bulan lagi ya? Nanti malam minta jatah ya," bisik Ega di telinga istrinya lalu ia berlari menuju kamar mandi.
"Dasar mesum! Kamu itu tidak pernah membiarkan aku semalam saja untuk menikmati tidur nyenyakku," lirih Asha segera mengambil air wudhu.
Asha segera mengelar sajadah lalu ia membuka al-quran untuk melantunkannya sambil nunggu suaminya selesai mandi juga adzan magrib.
__ADS_1
Asha segera membaca surat Al-Hujurat dengan khusyuk dengan merdu hingga ayat ke 11.
يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا لَا يَسْخَرْ قَوْمٌ مِّنْ قَوْمٍ عَسٰٓى اَنْ يَّكُوْنُوْا خَيْرًا مِّنْهُمْ وَلَا نِسَاۤءٌ مِّنْ نِّسَاۤءٍ عَسٰٓى اَنْ يَّكُنَّ خَيْرًا مِّنْهُنَّۚ وَلَا تَلْمِزُوْٓا اَنْفُسَكُمْ وَلَا تَنَابَزُوْا بِالْاَلْقَابِۗ بِئْسَ الِاسْمُ الْفُسُوْقُ بَعْدَ الْاِيْمَانِۚ وَمَنْ لَّمْ يَتُبْ فَاُولٰۤىِٕكَ هُمُ الظّٰلِمُوْنَ
Asha yang mendengar adzan magrib berakhir segera menyudahi membacanya, menutupnya meletakan di meja sampingnya.
"Mas, sudah ambil air wudhu belum?" tanya Asha saat melihat suaminya memakai baju kokonya.
"Sudah dong sayangku. Merdu sekali suara istriku, ini. Makin cinta dech sama kamu," puji Ega. "Sayang kamu tahu arti surat yang terakhir kamu baca tadi itu artinya apa?" ucapnya lagi sambil berjalan menuju sajadah yang sudah di gelar di lantai oleh Asha.
"Memang artinya apa?"
"Artinya : Wahai orang-orang yang beriman! Janganlah suatu kaum mengolok-olok kaum yang lain (karena) boleh jadi mereka (yang diperolok-olokkan) lebih baik dari mereka (yang mengolok-olok) dan jangan pula perempuan-perempuan (mengolok-olokkan) perempuan lain (karena) boleh jadi perempuan (yang diperolok-olokkan) lebih baik dari perempuan (yang mengolok-olok). Janganlah kamu saling mencela satu sama lain dan janganlah saling memanggil dengan gelar-gelar yang buruk. Seburuk-buruk panggilan adalah (panggilan) yang buruk (fasik) setelah beriman. Dan barangsiapa tidak bertobat, maka mereka itulah orang-orang yang zalim."
Ega pun segera meneruskan ayat 12 surat Al-Hujurat dengan suara sangat merdu.
يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوا اجْتَنِبُوْا كَثِيْرًا مِّنَ الظَّنِّۖ اِنَّ بَعْضَ الظَّنِّ اِثْمٌ وَّلَا تَجَسَّسُوْا وَلَا يَغْتَبْ بَّعْضُكُمْ بَعْضًاۗ اَيُحِبُّ اَحَدُكُمْ اَنْ يَّأْكُلَ لَحْمَ اَخِيْهِ مَيْتًا فَكَرِهْتُمُوْهُۗ وَاتَّقُوا اللّٰهَ ۗاِنَّ اللّٰهَ تَوَّابٌ رَّحِيْمٌ
Wahai orang-orang yang beriman! Jauhilah banyak dari prasangka, sesungguhnya sebagian prasangka itu dosa dan janganlah kamu mencari-cari kesalahan orang lain dan janganlah ada di antara kamu yang menggunjing sebagian yang lain. Apakah ada di antara kamu yang suka memakan daging saudaranya yang sudah mati? Tentu kamu merasa jijik. Dan bertakwalah kepada Allah, sesungguhnya Allah Maha Penerima tobat, maha penyayang.
Astgafirullah, aku selalu berprasangka pada Mas Ega. Padahal dia selalu menjaga dirinya dengan baik. Ya Allah juahkanlah aku dari sifat buruk ini jadikan hamba orang yang selalu berbuat baik. Menjadi istri yang sholeh. Jauhkanlah pikiran buruk, negatif dari benak dan pikiranku batin Asha.
"Sayang, ayo kita salat!" ajak Ega berdiri sambil membenarkan posisi kopiah yang ada dikepalanya.
Bersambung..
__ADS_1