
"Iyalah, daripada disini lihat wajah Papa datar seperti itu lebih baik istirahat tidur. Bukan begitu, Sayang," ucap Aira kepada Asha.
"Bunda! Kita datang jauh-jauh dari Surabaya ke Malang hanya menyaksikan mereka tidur! Tidak, sekarang menantuku harus bergadang menemani Papa ngopi dan main catur," tegas Raka.
"Papaku sayang, suamiku tidak pernah main catur. Mas Ega juga tidak menyimpan catur, sebaiknya kita istirahat saja. Lihat ini sudah jam sembilan malam tidak baik bergadang. Besok Mas Ega juga ada rapat di rumah sakit," alasan Asha agar suaminya bisa kabur dari papanya.
"Sayang, tidak apa aku akan menemani papa main catur kita kan jarang-jarang ada momen bersama begini. Tolong ambilkan catur Mas di ruang kerja kamu cari di laci paling bawa ya," perintah Ega.
"Laki-laki sama saja, tidak tahu waktu besok juga bisa kan main catur," dengkus Asha pergi menuju ruang kerja suaminya.
Setelah kepergian Asha kini tinggal Aira, Ega dan Raka.
"Pah, apa Papa sudah memaafkan Ega? Apa Papa akan selalu merestui hubungan kami?" tanya Ega menyelidik karena melihat raut wajah sang mertua laki-laki yang begitu santai ia takut jika mertuanya itu merencanakan sesuatu.
"Pertanyaan konyol. Jika aku tidak merestui kalian maka aku tidak akan menikahkan kamu dengan putriku. Jika kamu bohong masalah seperti ini tidak masalah tapi jika kamu berani berbohong tentang perselingkuhan atau pengkhianatan aku tidak akan tinggal diam. Akan aku jadikan kamu makan buayaku," ancam Raka.
"Tidak akan, karena aku sangat mencintai Asha hingga akhir hayatku," jawab Ega denga tegas.
Asha segera membawa kotak berbentuk persegi panjang, lalu membukanya di atas meja.
"Ini caturnya!" ucap Asha. "Mas kamu beneran bisa main catur, Papa sangat jago lo. Aku takut nanti kamu jika kalah mendapatkan tantang," bisik Asha di telinga suaminya.
"Tenang saja, percaya dengan ku," tegas Ega dengan menepuk tangan Asha yang berada di pundaknya.
Raka paham akan raut wajah putrinya yang sangat mengkhawatirkan suaminya. Kini ia semakin menantang pasang pengantin baru itu seberapa bucinnya mereka.
"Susah kalian jangan diskusi saja!" tegas Raka. "Ga, cepat kita main catur, jika kamu kalah kamu harus meninggalkan putriku karena kamu sudah membohongi kami," hardik Raka.
"Apa?!" teriak Asha dan Ega bersamaan.
"Papa jangan seenaknya saja. Ini tentang hubungan rumah tangga, janji suci dihadapan Allah. Aku tidak setuju tantangan macam apa. Sudah Mas, sebaiknya kita tinggalkan Papa saja," kesal Asha dengan menarik tangan Ega untuk segera berdiri.
__ADS_1
"Kamu Ega! Berani berdiri, jangan salahkan aku jika akan membawa paksa Asha pulang ke Surabaya!"
Tadi Papa Raka tidak marah denganku tapi ini belum ada satu jam kenapa sudah berubah pikiran begini. Apa sebenarnya yang ia rencanakan? Batin Ega menatap bergantian antara istri dengan mertuanya.
"Papa ini apa-apa sich! Aku bingung dengan Papa. Dulu aku pacaran dengan Dion, menentang keras hubungan kami. Lalu Papa memaksa aku menikah tanpa cinta di antara aku dengan Mas Ega, kini di saat aku sudah sangat mencintai suamiku merubah sikap dan kepribadianku menjadi lebih baik demi mengabdi pada kalian tapi kalian tega memisahkan kami. Sebenarnya apa yang Papa inginkan?" ucap sendu Asha dengan mengusap air matanya.
Ega melihat istrinya menangis segera menghapusnya air matanya dengan kedua ibu jarinya.
"Jangan menangis! Melihat kamu begini hatiku sangat sakit, sebaiknya kita bicarakan baik-baik. Ini memang salahku, aku tidak akan membuat kamu terluka aku akan memperjuangkan kamu seperti janji kita," lirih Ega.
Raka melihat sepasang sejoli yang sedang di mabuk cinta menahan tawa di dalam hatinya karena ia mampu menggerjain putri dan menantunya hingga ia tahu seberapa besar cinta mereka.
Aira yang membawa nampan berisi dua cangkir kopi, melihat wajah putrinya dengan wajah bengkak segera mendekat memastikan apa yang sedang terjadi.
"Siapa yang membuat kamu begini? Katakan pada Bunda? Apa suami kamu melukai kamu?" cecar Aira.
Asha menggeleng.
"Papa jahat, Papa tega sama Asha. Seharusnya kalian tidak usah datang jika hanya ingin membuat rumah tangga Asha hancur," teriak Asha.
Ega segera berdiri memeluk Asha agar sang istri bisa mengontrol emosinya bagaimana pun yang sedang mereka hadapi adalah orang tua mereka yang haris di hormati.
"Sayang, tidak sopan berteriak pada orang tau. Duduklah! Jaga emosi kamu, kita bicara baik-baik. Kamu diam! Biar Mas bicara dengan Papa, jika kamu seperti ini maka masalahnya tidak akan selesai-selesai," tutur Ega.
Ega segera menuntut istrinya itu agar segera duduk tenang di sofa yang berhadapan langsung pada Papa Raka.
"Pah, apa tidak ada pintu maaf buat Ega. Apa pun akan Ega lakukan demi mendapatkan maaf dari Papa. Jika Papa ingin semua aset milikku, maka aku siap menyerahkan semuanya asal Papa tidak melarang pernikahan kami dan selalu merestui kami karena hanya restu kalian yang amat berharga bagi kami," lirih Ega.
Hampir sepuluh menit tidak ada yang berbicara, Papa Raka pun sibuk dengan pemikirannya. Sedangkan Ega yang tidak kehabisan ide segera berjalan mendekat ke arah Raka untuk bersujud agar mendapatkan maaf.
Saat Ega sedang berlutut, Aira segera menarik tubuh Ega untuk berdiri.
__ADS_1
"Jangan lakukan hal bodoh seperti ini! Papamu memang keterlaluan, entah setan apa yang membisikkan hatinya hingga menjadi keras dan dingin seperti itu. Bunda selalu merestui hubungan kalian, doa Bunda selalu menyertai langkah kalian menuju jalan Allah. Ingatlah pada Allah pasti kalian akan selalu diberikan kebahagian, abaikan Papamu itu," jelas Aira menepuk bahu menantunya.
"Sungguh pemandangan yang sangat dramatis, aku salut dengan perjuangan cinta kalian. Semoga kalian selalu bahagia, Papa merestui kalian. Maafkan Papa jika bercandanya Papa barusan melewati batas, Papa hanya ingin melihat seberapa cintanya kalian," jelas Raka kini memeluk menantunya.
Raka segera membimbing Ega untuk duduk disampingnya, sedangkan Ega kini mulai bernafas lega karena sudah mendapatkan restu.
"Ada yang ini Papa sampaikan untuk menantuku cukup dengarkan ucapanku yang akan panjang lebar ini," jelas Raka.
Ega pun segera mengangguk.
"Saat pertama kali putri kecil kami terlahir di dunia, dia menjadi simbol kebahagiaan bagi kami, orang tuanya.Bahagia yang tiada tara kami rasakan enak. Kami menjaganya siang dan malam, sampai kami melupakan keadaan diri sendiri. Kami sadar, memang seharusnyalah seperti itu kewajiban orang tua. Kami besarkan dia dengan segenap jiwa dan raga. Kami didik dengan semaksimal ilmu yang kami punya. Dan kami jaga dia dengan penuh kehati-hatian."
"Dan waktupun berlalu, Dia kini telah menjadi sesosok gadis cantik. Betapa bangga kami memiliki. Kami berpikir, betapa cepat waktu berlalu, dan terbersit dalam hati kami untuk tetap menahannnya disini. Bukan meletakkan ego kami atas hidupnya, sebagai orang tua, siapa yang dapat berpisah dari anaknya, Putri kesayangannnya."
"Tapi, saat dimana kami harus melihatnya terbalut dalam pakaian cantik, yaitu gaun pengantinnya. Gadis kecil kami telah tumbuh dewasa.Dan sesudah ijab kabul ini, kau lah kini yang menjadi penjaganya. Menggantikan kami. Mari ikatkan tanganmu kepadanya. Akhirnya kami berangkat berpisah dengannya. Walaupun kau adalah orang yang asing dan baru yang dikenalnya, sedangkan kami adalah orang tuanya yang telah menyerahkan semua yang kami punya. Namun, tak ada sama sekali Kemarahan kami atas dirimu, menantuku. Namun ijinkan kami sedikit meluapkan kesedihan atas seorang putri kami yang harus jauh meninggalkan kami, karena harus mengikutimu.Kamipun akan protes kepadamu, karena mulai hari ini, dia harus mengutamakan kau diatas kami."
"Tolong, jangan beratkan hatinya, karena sebenarnya dia telah berat meninggalkan kami dan hanya mengabdi kepadamu. Seperti hal nya anak yang ingin berbakti kepada orang tua, pun demikian dengannya. Kami tidak setuju harus sendiri, tanpa ada gadis kecil kami dulu yang selalu menemani dan menolong kami di masa tua. Kami menikahkanmu dengan anak gadis kami dan memberikan kepadamu dengan cuma-cuma, kami hanya memohon untuk dia selalu kau jaga dan kau bahagiakan."
"Jangan sakiti hatinya, karena hal itu berarti pula akan menyakiti kami. Dia kami besarkan dengan segenap jiwa raga, untuk menjadi penopang harapan kami dimasa depan, untuk mengangkat kehormatan dan derajat kami. Namun kini kami harus menitipkannya kepadamu. Kami setuju, karena berarti terjagalah kehormatan putri kami."
"Jika kau tak berkenan atas kekurangannya, ingatkanlah dia dengan cara yang baik, mohon jangan sakiti dia, sekali lagi, jangan sakiti dia," mohon Raka.
"Suatu saat dia menangis karena merasa kasihan dengan kami yang mulai menua, namun harus sendiri berdua disini, tanpa kehadirannya lagi. Tahukah engkau wahai menantuku, bahwa kau pun memiliki orang tua, pun dengan istrimu ini. Disaat kau memerintahkan dia untuk menemani orang tuamu disana, pernahkah kau berpikir betapa luasnya hati istrimu? Dia mengurus egonya sendiri untuk tetap berada disamping orang tuamu, menjaga dan merawat mereka, sedang kami tahu betapa sedihnya dia karena itu berarti orang tuanya sendiri, harus sendiri. Sama sekali tiada keluh kesepakatan tentang semua itu, karena semua adalah untuk menepati kewajibannya kepada Allah."
"Dia mementingkan dirimu dan hanya bisa mengirim doa kepada kami dari jauh. Jujur, sedih hati kami saat jauh respons. Namun apalah daya kami, memang sudah masa seharusnya seperti itu, kau lebih berhak atas dari pada kami, orang tuanya sendiri."
"Maka hargailah dia yang telah dengan rela mengabdi kepadamu. Maka hiburlah dia yang telah membuat keputusan yang begitu sulit. Maka sayangilah dia atas semua pengorbanannya yang hanya demi dirimu.Begitulah cantiknya putri kami, Semoga kau tahu betapa berharganya istrimu itu, jika kau menyadarinya."
Raka yang selesai bicara panjang lebar itu pun segera memeluk Ega, "Aku percaya kamu akan membuat putriku bahagia, sekali lagi aku titipkan dia padamu."
Bersambung..
__ADS_1