Wedding Agreement

Wedding Agreement
Penyesalan


__ADS_3

“ Bik Ina, tolong saya,” lirih Nara memohon seraya menggenggam lengan bik Ina saat dirinya kini berada di atas brankar rumah sakit.


Di ruangan instalasi gawat darurat kini Nara berada ditemani bik Ina, sementara Aryan masih bicara dengan dokter yang menangani. Mendapati Nara yang kesakitan tadi, Aryan seolah langsung tersadar bahwa dirinya salah. Dibawanya Nara ke rumah sakit segera bersama bik Ina saat wanita itu meraung tak ingin lagi dekat dengan Aryan yang tadi seperti kerasukan setan. 


Banyak masalah di perusahaan, ditambah mendapat laporan dari Jonas bahwa Nara bertemu Ayana dan malah berbincang berdua, membuat otak Aryan langsung mendidih sempurna.


“ Untung saja tidak ada pendarahan , tapi untuk mengetahui lebih detail kondisi bayinya, pasien akan kami arahkan ke poli kandungan.”


Aryan mengangguk saat dokter di IGD memberitahu kondisi Nara yang merasakan nyeri di perutnya akibat guncangan yang begitu membuatnya syok. Sembari menunggu Nara yang akan dipindahkan ke poli  kandungan, Aryan kini menghampiri istrinya yang masih menangis tersedu. 


Bukan menangisi perutnya yang sudah mereda , namun ketakutan akan sosok Aryan yang bisa sewaktu-waktu berubah ganas dan mengerikan.


“ El. bagaimana? Masih sakit?” Aryan yang  begitu gugup dan cemas kini menangkup jemari Nara saat bik Ina menepi.


Dan Nara jelas menolak uluran tangan Aryan yang kentara sekali menyesali perbuatannya. Hingga kemudian bik Ina terpaksa membujuk Aryan untuk sementara mengalah karena Nara tengah emosional saat ini.


“ Tuan muda, tolong jangan memaksa Nyonya dulu. Tunggu sampai emosinya mereda. Yang penting kondisinya sudah membaik, Nyonya Nara sudah tidak merasa nyeri lagi. Biar bibi yang temani dulu.”


Bik Ina terpaksa meminta Aryan menunggu menjauh karena Nara jelas kembali trauma melihat Aryan yang tak segan bermain tangan padanya. 


“ Nyonya, atur napas yang baik, ya. Semuanya akan baik-baik saja. Dokter akan memeriksa kandungan Nyonya sebentar lagi.” Nara yang sudah tak melihat wajah Aryan lagi itu lega karena ucapan lembut dari seorang ibu seperti bik Ina ini langsung menenangkannya. 


Dua orang tim medis kemudian datang dan membawa brankar Nara keluar dari IGD menuju ke ruang pemeriksaan dokter kandungan. Sementara Aryan pun mengikuti di sampingnya tanpa Nara berniat menoleh sedikitpun pada suami yang masih mencoba meraih tangan Nara itu.


“ Pasien datang dengan keluhan nyeri di bagian perutnya. Dari hasil pemeriksaan sementara ada sedikit flek. Tekanan darah sudah lebih stabil setelah tensinya naik. Ada riwayat hepatitis B dan sudah dilakukan pemeriksaan, hasilnya akan keluar sepuluh menit lagi. 


Dokter kandungan segera paham saat perawat menerangkan hasil pemeriksaan di IGD, dan Nara langsung dipindahkan ke bed periksa untuk dilakukan USG.


“ Bagaimana, Ibu? Sudah lebih tenang? Tidak apa, jangan panik ya. Kita lihat dulu dedek bayinya.” 


Wajah Nara langsung tegang, begitupun dengan Aryan yang mengambil tempat di samping kiri Nara seraya meraih jemarinya lalu digenggam erat tak peduli Nara masih berusaha menariknya. Aryan melirik leher Nara dan mengelus luka baret memerah akibat tangan setannya yang menarik paksa kalung di lehernya. 


“ Sorry !” bisik Aryan diakhiri sebuah kecupan kecil namun lagi dan lagi Nara membuang wajahnya menjauhi suaminya.


Sebuah gel dingin dioleskan ke perut bawah Nara yang sudah terasa mengeras. Dokter lantas menggerakkan dengan sedikit menekan alat transducernya. 


“ Bagus, tidak ada masalah. Janin Bapak dan Ibu masih berada di tempatnya. Pergerakan ada sedikit perlambatan.”

__ADS_1


Aryan langsung mendongak dengan perasaan was-was.” Maksudnya apa ya, dok?”


“ Janin Bapak juga mengalami syok karena guncangan, tapi masih dalam nilai yang normal. Sudah empat bulan dan pergerakannya harusnya sudah mulai terasa. Kita cek detak jantungnya, ya.” 


Dokter kembali menekan banyak tombol di alat USGnya. Aryan dan Nara kini sama-sama menahan napas mereka melihat deretan garis hitam putih di layar dengan suara detak jantung bayi mereka. 


Deg..deg..deg !


“ Nah, ini suara detak jantung bayinya. Alhamdulillah, babynya cukup kuat.” 


Ada bulir air mata yang keluar begitu saja di sudut bibir Nara yang tercengang kala mendengar bahwa bayi yang ia bawa dalam tubuhnya itu benar-benar hidup menunjukkan suara jantunganya. 


Dan Aryan pun melihatnya. Diusapnya air mata tanpa isakan itu seraya mendekatkan wajahnya ke wajah Nara yang masih terpana. 


“ Anak kita…. dia sehat, El. Maafkan aku.” 


Nara tidak menjawab dan tidak pula menghindar. Sampai kemudian dokter kembali melakukan pemeriksaan dalam ke inti Nara yang sempat terdapat flek di ****** ********. 


“ Bagus, tidak ada pendarahan. Lain kali lebih diperhatikan lagi ya, Bapak dan Ibu. Guncangan seperti ini sangat rawan sebenarnya. Tapi Ibu dan adik bayi sungguh kuat . Selamat !” 


Aryan pun mengangguk lega dan tak putus memeluk Nara yang sudah duduk di tepi bed pemeriksaan. Nara sendiri pun merasa lega meski tidak ia tunjukkan. Setidaknya ia tak bisa membayangkan jika terjadi sesuatu pada kandungannya saat ini dan dampaknya yang mungkin akan berbuntut panjang nantinya.


“ Nah, Bapak dan Ibu. Lebih diperhatikan lagi ya. Meski bayinya kuat saat ini bukan berarti Ibu bisa terguncang lagi. Saya sarankan Ibu untuk bedrest satu minggu ke depan. Untuk hubungan seksuual bagaimana? Apa ada kendala selama trimester pertama?” 


Nara jelas canggung dengan pertanyaan super konyol yang mampir di telinganya. 


“ Eemm, kami……..” Aryan ingin sekali menjawab tapi ia takut salah karena hal ini justru tidak pernah ia lakukan sama sekali.


“ Masih belum berani, ya? Tidak apa, trimester awal memang masih rawan. Tapi ini sudah masuk bulan ke empat, artinya janin akan bertumbuh lebih kuat . Jadi, sudah aman jika Bapak sesekali ingin menengok anaknya di sana.”


Aryan jadi menahan senyumnya mendengar penjelasan yang tidak perlu repot ia tanyakan malah dokter sendiri yang memberikan saran padanya.


Setelah semua dirasakan aman, Aryan membawa pulang Nara yang langsung digendongnya dengan sengaja dari sejak memasuki lift hingga memasuki kamarnya meski tak ada sepatah katapun yang keluar dari bibir Nara pada Aryan yang sungguh menyesali perbuatannya. 


“ Bik Ina. Tolong temani saya tidur malam ini,” pinta Nara menahan lengan bik Ina yang akan keluar setelah membawa masuk obat-obatan Nara. Tak peduli di sini adalah kamar pribadi suaminya, Nara tetap menahan bik Ina untuk membuang ketakutan yang masih menjalar di pikirannya . 


Bik Ina menoleh ke arah Aryan yang kemudian mengangguk lalu mengalah keluar kamarnya sendiri. Nara segera menghadapkan dirinya ke bik Ina yang juga meletakkan dirinya di atas tempat tidur.

__ADS_1


“ Bik, jangan pergi. Saya takut di sini. Andai saya bisa pergi , tapi pergi kemana?” lirih Nara menumpahkan kesedihannya kembali pada seorang asisten rumah tangga lantaran tak memiliki tempat lagi untuk melarikan diri. 


“ Sabar, Nyonya Muda. Nanti bibi bantu bicara dengan tuan muda.” 


“ Sampai kapan dia akan seperti itu, Bik? Padahal saya hanya bertemu dengan Mama Ayana. Mengapa dia semarah itu? Sebenci itu dia pada ibunya sendiri,” ucap Nara dengan napas tersengal mengingat begitu kasarnya Aryan padanya tadi.


“ Seperti yang bibi pernah cerita. Tuan muda itu sangat menyayangi Nyonya Ayana. Tuan muda hanya tidak mengerti cara mengungkapkan sayangnya ke orang tua, itu saja.” 


Bik Ina kini mengelus wajah Nara yang lemah dan memintanya tidak lagi membicarakan soal kejadian sore tadi. Hingga tak lama kemudian Nara pun sudah bernapas dengan teratur. 


“ Kasihan Nyonya Nara. Mudah-mudahan Nyonya dan Tuan Muda setelah ini hidup bahagia,” ucap bik Ina jelas mengandung sebuah doa untuk kebahagiaan Nara yang ia tahu persis bagaimana menderitanya Nara saat masuk dalam jeratan seorang Aryan Maheswara. 


Sekian lama bik Ina masih menemani Nara yang terlelap, hingga kemudian Nara kembali merasa resah dan gelisah dalam tidurnya. Wanita itu segera beranjak dan menghampiri Aryan yang merebahkan dirinya dengan sejuta penyesalan di sofa ruang tengah.


“ Tuan muda……..”


“ Sudah tidur, Bi?”


“ Sudah , Tuan. Sepertinya nyonya sedang membutuhkan anda.”


Aryan segera membangunkan dirinya lalu memeluk singkat bik Ina hanya sekedar untuk menenangkan dirinya yang tengah gelisah dengan rasa bersalahnya.


“ Tolong jaga nyonya muda, Tuan. Sayangi nyonya, jangan disakiti lagi. Tuan muda bisa , kan?” 


Aryan mengangguk paham lalu bergegas memasuki kamarnya. Melihat Nara yang meringkuk tidak tenang dalam tidurnya, Aryan lantas memposisikan dirinya seperti biasa. 


“ El, maafkan aku.” Aryan bicara pada Nara yang tidak mendengarnya.


Mengelus leher Nara yang ia lukai, lalu mengelus tempat calon buah hati mereka berada dan mengecupnya seolah tengah meminta maaf pada calon anaknya. 


Merasakan ada hembusan napas yang menghangat di wajahnya, Nara pun membuka mata. Tubuh bik Ina yang terakhir dilihatnya berubah menjadi sosok pria yang tadi menyakitinya. 


“ El, aku mohon !” pinta Aryan menahan tubuh Nara yang akan menyingkir.” Aku menyesal, aku minta maaf, tolong….” suara Aryan mengharu biru terdengar menyayat, terlebih ia seperti terisak.” Aku janji akan mengatur emosiku , El. Tolong maafkan aku.”


Meski Nara melihat sebuah ketulusan Aryan yang menempelkan wajahnya penuh penyesalan, namun mengingat perlakuan kasar Aryan padanya, Nara pun semakin tak berdaya. 


“ Apa salahku, Ar? Apa kamu baru akan benar-benar sadar jika aku mati ?” 

__ADS_1


.


...****************...


__ADS_2