
“ Ck ! Untung saja kamu istriku! Kalau bukan sudah aku hajar kamu ! “ kesal Aryan uring-uringan sendiri saat usahanya membeli makanan itu seperti sia-sia karena Nara malah memilih meneruskan tidurnya.
Masih di pinggir jalan, Aryan yang tidak ingin menyetir dalam keadaan emosi itu masih berusaha meredam otaknya yang memanas.
Merasakan perutnya yang juga lapar, Aryan akhirnya menyetop penjual sate yang melintas. Sesuatu yang hampir tidak pernah dilakukan oleh tuan muda seperti Aryan yang selalu teratur nutrisi makanannya selama ini.
“ Bang sate kambing setengah matang, gak pake lama ! Buruan , saya lapar !”
Permintaan Aryan pada penjual sate sudah layaknya sebuah perintah yang harus dituruti saat itu juga. Terbiasa memerintah, Aryan bahkan tidak sabar saat pesanannya tidak juga datang.
“ Silahkan, Mas.”
“ Lama bener ! Gimana saya pesen yang mateng !” oceh Aryan dengan kesal sampai menggigit satenya membabi buta. Bahkan dengan dua kali kunyah saja daging sate kambing setengah matang itu pun masuk ke kerongkongannya.
Masih memendam kejengkelannya sendiri, Aryan yang kemudian membayar satenya dengan uang dua ratus ribu itu kembali ke mobilnya dan mendapati Nara masih terlelap.
“ Hehhhh !” Aryan menghela napasnya lalu menjalankan mobilnya pulang. Hingga sampai di rumah pun Nara yang padahal sudah seharian tidur itu masih asik berselancar ke dunia mimpi. Lagi dan lagi Aryan membopong tubuh Nara hingga masuk ke kamar mereka. Nara mengucek mata saat tubuhnya baru diletakkan ke atas tempat tidur.
“ Aryan ?”
“ Sudah di rumah, tidurlah.”
“ Aku lapar. Bakminya sudah ada ?”
Aryan mendesau letih karena Nara masih ingat saja dengan keinginannya yang belum tuntas.
“ Ada, sudah dingin. Kamu ketiduran tadi pas aku beli.”
“ Yaahhh!” Nara nampak kecewa dan kembali ingin menangis.
“ Apa? Nangis lagi ? Aku sudah berusaha membangunkan kamu tapi kamu terlalu lelap.”
Nara menggetarkan bibirnya dengan wajah yang sudah memerah. Hanya ingin makan sesuatu yang murah dan sederhana saja ia harus berulang kali menangis.
“ El,” Aryan langsung mendekap istrinya dengan sentuhan di pucuk kepalanya.
” Kamu kenapa jadi gampang nangis, sih ? Ya sudah, aku panaskan lagi makanannya. Kamu tunggu di sini.”
__ADS_1
Dengan langkah gontai dan sejuta sugesti untuk membuatnya lebih sabar, Aryan beranjak ke dapur. Nara yang masih duduk di kamar tiba-tiba teringat kekacauan yang dibuat Aryan semalam saat berada di dapur.
Akhirnya dengan langkah terburu Nara menyusul suaminya. Dan benar saja, Aryan masih bingung dengan cara apa menghangatkan kembali bakmi yang tadi dibelinya.
Dengan cepat Nara menyahut sebuah frypan lalu menuang mie ke dalamnya. Aryan jadi tidak enak sendiri saat ini.
“ Maaf ya. Besok ajari aku di dapur, El. Biar bisa melayanimu saat lapar seperti ini.”
Meski rasa ngidamnya tidak bisa terealisasi dengan sempurna, Nara yang sudah sangat lapar itu kemudian memakannya sampai habis. Setelah makan Nara langsung beranjak menuju kamarnya untuk sikat gigi dan berganti pakaian.
Namun wanita itu sungguh kaget karena kamar yang biasa ia tempati ternyata sudah kosong.
“ Hey, lupa ya ? Kamu kan sudah pindah ke sini, El.”
Nara akhirnya mendesau pasrah menuju kamar utama dimana barang-barangnya ternyata sudah dipindah ke sana. Aryan pun tak tahan untuk mengacak rambut Nara yang nampak menggemaskan karena menurut saja saat Aryan sudah menyambutnya di ambang pintu kamar.
Nara kemudian menyisir letak barang-barangnya yang sudah tertata rapi di lemari. Mengambil sebuah baju tidur lengan pendek , Nara yang sudah merasa sesak dengan bawahan celana itu akhirnya ganti mengambil baju tidur model terusan di atas lutut berbahan satin yang lembut.
Sementara Aryan memilih melepas bajunya langsung di depan lemari sampai membuat Nara bergidik aneh.
“Hahhh !” pekik Nara yang benar-benar terkejut dengan keberadaan Aryan. Lantas ia buru-buru menarik bajunya ke bawah.
“ Bisa ketuk pintu dulu, gak ?”
“ Ngapain mengetuk pintu kamar mandiku sendiri, El.”
Tubuh Nara tiba-tiba gugup lalu dengan gerakan cepat mencuci wajahnya singkat saja lalu menggosok gigi pun dengan kecepatan tinggi. Aryan pun langsung punya insting menggoda istrinya saat ia pun menggosok gigi dengan menempelkan tubuhnya ke punggung Nara.
“ El, kata dokter tadi aku sudah bebas virus, lho. Untung cepat ketahuan jadi cepat juga diobati.”
“ Oohh!”
Nara yang sudah berkumur lantas berbalik badan dan mendongak saat Aryan tidak mau bergeser dan makin membuatnya terhimpit tanpa merasa berdosa. Aryan bahkan kini mengunci tubuh Nara dengan satu lengannya sementara dia sedang berkumur lalu mengelap bibirnya .
Melihat Nara yang mengenakan baju tidur terusan satin seperti ini, benjolan di leher Aryan jelas naik turun tak beraturan. Apa lagi ia baru saja memakan sate kambing yang konon bisa membangkitkan gairah pria lebih dari biasanya.
“ El, kamu…. cantik pakai baju ini,” puji Aryan tak tahan lagi menghirup harum tubuh Nara yang seperti memancarkan warna tersendiri dari baju tidur peach yang ia kenakan.
__ADS_1
“ Aku, mau tidur !” Nara mendorong tubuh suaminya menyingkir lalu ia buru-buru ke tempat tidur lalu menenggelamkan dirinya di bawah selimut.
Nara merasakan aroma yang mendebarkan saat ia pun melihat tonjolan khas pria di leher Aryan begitu seksi saat bergerak naik turun. Tak bisa membendung hasrat di dalam dirinya lagi, Aryan pun menyusul lalu meringsekkan tubuhnya seperti biasa.
“ El….”
Nara tidak menjawab saat telinganya merasakan hembusan napas Aryan yang terasa tak biasa.
“ Kamu masih ingat ucapan dokter kemarin? Dia bilang kita sudah aman untuk…..”
Punggung Nara kini sudah terasa berat karena ada wajah Aryan yang mengendus aroma tubuhnya saat ini.
“ El, maaf sepertinya aku tak bisa lagi menahan diri lebih lama, melihatmu seperti ini setiap hari aku sungguh tidak kuat . Bolehkah aku…..”
Tak dipungkiri, Nara pun kini semakin gugup karena napas Aryan mulai tersengal berat terlebih tangan yang tadinya ia letakkan di perut istrinya, kini dengan permukaan baju tidur yang halus malah merambah ke area lainnya.
Aryan menyusuri inci demi inci area sensitif istrinya yang tak menolak namun juga belum mengiyakan. Tak mendapat jawaban, Aryan dengan kasarnya menyingkap selimut lalu dengan secepat kilat sudah berada di atas tubuh Nara untuk menindihnya.
“ Tolong izinkan aku, ku mohon.”
Aryan kini merebahkan kepalanya ke permukaan kasur tepat di sisi leher Nara lalu memposisikan dirinya seaman mungkin, Aryan tentu tidak lupa kalau ada tempat kehidupan yang harus ia jaga jangan sampai tertindih.
Masih belum mendapat jawaban, akhirnya Aryan bangkit dan mengecupi wajah hingga leher istrinya dengan harapan Nara menyambut keinginannya.
“ Ar, emmpphh !” dessah Nara saat suaminya itu mengecupi leher Nara yang mulus hingga meninggalkan bercak bulat kemerahan di beberapa tempat.
Ada sebuah sengatan listrik yang tentu saja menjalar di jiwa Nara saat dengan ganas namun masih lembut, Aryan menyusur dadanya kini. Gigitan demi gigitan ditinggalkan Aryan.
Melihat potongan leher baju tidur yang rendah , pria mana yang tahan untuk tak membiarkan hamparkan kulit putih itu terpajang sia-sia. Aryan kini mencumbui bibir Nara dengan maksud mengenalkan babak pemanasan yang belum ia lakukan dulu saat dua kali menyetubuhi Nara hingga hamil. Bahkan kedua tangan Aryan pun tak sungkan lagi menggerayangi punggung dan melewati bagian dalam baju tidur yang longgar.
“ Akhh, Ar !” pekik Nara saat Aryan kini menggigit pelan telinganya.
“ Kamu tidak menolakku, El? “ bisik Aryan berhembus sangat panas sampai Nara menggeliat merasakan betapa rangsangan yang diberikan Aryan padanya membuatnya melayang hingga lupa dengan segala keburukan pria itu pada nya.
.
...****************...
__ADS_1