Wedding Agreement

Wedding Agreement
92. Berhijablah


__ADS_3

Ega semakin asik melancarkan aksinya tanpa ia melupakan tempat dan kondisi mereka saat ini. Sedangkan Asha yang mulai ngos-ngosan karena mengimbangi suaminya segera mendorong tubuh suaminya.


"Mas Ega sebaiknya kita lanjut lagi nanti," saran Asha.


"Kenapa?! Apa aku tidak boleh melakukannya dengan istriku sendiri? Aku masih rindu, dan pastinya masih kurang," bisik Ega sambil menjelajahi tengkuk leher istrinya.


"Mas, kita ini di dalam mobil lo. Gimana jika nanti ada yang lihat kita, kamu tahu ngak kita ini di parkiran masjid sebaiknya kita cari tempat aman saja," tawar Asha.


Ega yang sudah tidak tahan akan nafsu birahinya segera mendengkus kasar. Ia segera membenarkan pakaiannya lalu segera menyalakan mesin mobilnya meleset pergi jauh menuju perusahaannya.


Sampai di depan gedung yang menjulang tinggi, Ega segera turun yang di ikuti Asha. Ia segera menggenggam tangan istrinya untuk masuk ke ruangannya. Saat Ega dan Asha berada di dalam lift saat itu juga pun pintu tertutup, Ega segera membungkukkan wajahnya ke arah wajah istrinya ia ingin melanjutkan hal yang tertunda tadi ralat bukan yang tertunda tapi ciuman dengan durasi yang kurang lama.


Asha yang melihat suaminya semakin mendekat, segera menegurnya dengan sedikit mendorong tubuh suaminya itu.


"Mas Ega lihat itu dech, ada cctv! Apa kamu mau kita jadi viral, sudah tahan saja dulu," tunjuk Asha ke arah atas pojok.


Ega melihat sekilas lalu ia segera menutupi kepala mereka dengan jas yang sengaja tidak ia kenakan saat di dalam mobil tadi. Ega segera mendaratkan lagi sebuah kecupan yang sangat lama di bibir istrinya hingga mengikuti irama dengan alunan yang bergejola di hati mereka mengikuti hawa nafsu yang semakin mengebu-gebu.


Ega segera melepaskan tautnya lalu berbisik di telinga istrinya, "Sayang, nanti lanjut lagi ya."


"Mas Ega!"


"Apa?! Itu juga merupakan ibadah lo," ketus Ega melangkahkan kakinya keluar dari lift.

__ADS_1


Aku juga tahu kalau itu ibadah tapi juga harus tahu waktu dan tempat umpat Asha.


Ega yang masuk ke ruangannya itu pun segera duduk di kursi kebesarannya lalu menyalakan laptop yang ada di depannya. Melihat semua laporan karyawannya selama sepekan ini.


Sedangkan Asha segera menyandarkan punggungnya di sofa yang tak jauh dari tempat kerja suaminya. Melihat suaminya fokus menatap layar laptopnya mengabaikan dirinya sendiri ia memilih untuk memainkan ponselnya.


"Sebaiknya aku menghubungi Mbak Bila saja, aku kangen sama Irsyad," lirih Asha.


Asha segera mencari nomer kontak sang kakak itu, namun saat ia mencoba menghubunginya beberapa nomer yang ia tuju sedang tidak aktif.


"Kemana kamu kak, tumben nomer kamu tidak aktif."


Asha melangkahkan kakinya menghampiri suaminya yang masih sibuk dengan pekerjaannya, masih beberapa langkah ia pun mengurungkan niatnya. Melihat wajah serius suaminya yang terlihat ada beberapa tanda lipatan di dahinya seperti ia sedang berpikir keras.


Ia segera membawa secangkir kopi serta satu piring buah pir serta apel yang telah ia kupas bersih. Ia segera meletakan di meja kerja suaminya. Berinisiatif untuk menyuapinya.


"Mas buka mulutnya! Aku kupaskan buah pir, pasti sangat segar di makan siang-siang begini dengan cuaca yang sangat panas," ucap Asha dengan menyodorkan satu potong buah pir yang ada di tangannya.


Ega segera membuka mulutnya lebar-lebar mengguyahnya lalu fokus kembali dengan dokumen-dokumen yang harus ia tanda tangani.


Asha yang setia berdiri disamping suaminya dengan menyuapinya dengan telaten hingga tinggal beberapa potong yang tersisa di atas piring.


Ega segera menarik Asha untuk duduk dipangkuannya, kemudian ia mengambil alih sepotong apel yang ada di tangan Asha memasukkan ke mulut istrinya.

__ADS_1


"Mas Ega, kalau aku duduk disini bagaimana kamu kerjanya," lirih Asha mencoba berdiri.


"Sudahlah, kalau kamu begini aku jadi semangat kerjanya. Kamu sekarang bantu aku ya."


"Bantu apa? Aku tidak tahu tentang bisnis, aku kan hanya tahu ilmu medis itu pun kepintaranku masih jauh dibawa kamu. Kalau aku yang mengerjakan nanti takut salah terus membuat kesalahan kamu rugi gimana," jelas Asha panjang lebar.


Ega mencium pipi Asha dengan gemas, belum ia menyampaikan apa yang ia perintahkan istrinya telah berasumsi sendiri yang tidak sama dengan apa yang ia pikirkan.


"Sayang, aku meminta kamu untuk membantu memijat punggungku, bukan masalah kerjaan. Aku tidak ingin membebani pikiran kamu tapi kalau kamu lelah cukup diam saja disini, izinkan aku untuk bersandar sebentar saja di bahumu untuk menghilangkan rasa lelah, letih serta pikiranku yang mulai terasa penat."


"Kenapa harus meminta izin segala, aku kan sudah halal jadi milikmu. Jika ada masalah berceritalah denganku berbagilah susah juga denganku. Aku akan senantiasa mendengarkannya walaupun aku tidak tahu pasti masalah kamu."


"Aku tidak ada masalah yang serius, aku hanya ingin kamu berhijab. Menutup aurat kamu karena aku sebagai suami bertugas untuk mengingatkan istrinya agar tidak lalai dengan ajaran Allah," lirih Ega dengan mengusap wajah Asha dengan ibu jarinya.


Asha masih terdiam ia tidak bisa memberi jawaban begitu saja. Ia harus memikirkan dengan matang-matang walaupun sebenarnya orang tua serta kakaknya telah mengingatkan dirinya sejak dulu untuk berhijab tapi bagi dirinya masih belum mampu untuk menjalankan hal itu ia masih takut jika tidak bisa konsisten dengan apa keputusannya. Baginya menjalankan tugas sang pencipta serta mencoba untuk selalu berbuat baik meninggalkan larangannya itu adalah tugas yang ia jalankan. Belajar menjadi istri sholeh tidak berbuat dosa lagi itu rencana awalnya, untuk berhijab ia belum mantap akan itu.


Ega yang melihat istrinya terdiam, ia paham akan hal sulit itu karena ia tahu bagaimana sifat istrinya dari dulu sebelum ia menikah.


"Sayang, aku tidak memaksa harus berhijab sekarang. Tapi aku hanya ingin suatu saat nanti jika kita memiliki anak berhijablah, aku tahu kamu wanita sholeh. Wanita yang taat agama, mungkin kamu masih belum siap. Aku mengerti," ucap Ega.


"Makasih ya, Mas. Kamu sudah mengerti pemikiranku, tapi aku janji suatu saat jika hati dan pikiranku sudah mantap maka akan aku putuskan untuk berhijab. Untuk saat ini aku ingin memperbaiki diriku terlebih dahulu sebelum berhijab, aku takut jika aku sudah berhijab akan membuat dosa lagi."


"Berhati-hatilah, jangan sampai kamu berbuat dosa lagi. Kita tidak tahu kapan usia kita berakhir, sebelum itu terjadi banyak-banyak bertaubat dan berbuat baik," tegur Ega.

__ADS_1


Kenapa Mas Ega sebut-sebut mati atau jangan-jangan tanda-tanda ia akan pergi batin Asha.


__ADS_2