
Adiba memberanikan diri untuk bertanya pada Arsen apa yang selama ini dia takutkan agar dirinya bisa membantunya sebisa mungkin walaupun mungkin sulit baginya.
"Sen, berceritalah padaku apa yang kamu takutkan itu?" tanya Adiba.
Arsen mencoba mengatur netranya sebelum berbicara. Ia meraih tangan Adiba untuk menggenggamnya agar wanita didepannya tak emosi atas ucapan yang terlontar dari bibirnya. Ia tak bermaksud apa-apa, ia tulus mencintai Adiba tanpa memandang apapun itu.
"Sayang, dengarkan aku bicara! Jangan memotong ataupun menyangga sebelum aku selesai mengutarakan isi hatiku ini. Dan aku mohon kamu jangan marah ya," pinta Arsen.
Adiba mengangguk, ia akan menurut dan mendengar apa yang diucapkan Arsen sampai selesai apapun itu.
"Sayang, aku sebenarnya juga tidak tahu pasti bagaimana orangtuaku menyikapi hubungan kita. Mereka bilang merestui hubungan kita tapi aku merasa ada yang ganjal terhadap sikap papa. Kamu tahu papaku orang yang pilih-pilih, saat Adelia menikah beliau yang diam-diam menentang hubungan mereka hingga akhirnya Adelia menerima suami pilihan papa. Aku takut," lirih Arsen.
__ADS_1
"Apa aku boleh bicara?" tanya Adiba meminta izin.
Arsen mengangguk.
"Kamu takut jika kamu dijodohkan oleh papa kamu. Kamu takut jika menikahi wanita pilihan kedua orangtua kamu. Sen, jika mereka memiliki jodoh yang terbaik untuk kamu berarti mereka ingin kamu bahagia. Setiap orangtua pasti akan mempertimbangkan menantunya melalui 3B yaitu bobot, bebet, bibitnya. Sedangkan aku," ucap Adiba mencoba tersenyum walaupun sebenarnya hatinya sesak menahan kenyataan jika orang miskin sepertinya tak pantas bersanding dengan seorang putra pengusaha kaya raya seperti Ega.
Adiba mencoba untuk tegar, ia mendongakkan kepalanya ke atas menatap langit-langit plafon ruang tamu. Ia sengaja melakukan itu menghindar dari tatapan Arsen sejenak untuk mencegah agar bulir embun disudut matanya tak jatuh. Ia harus kuat dan tegar, kalau ia tak dapat bersatu dengan Arsen berarti dia bukan jodohnya. Ia mencoba berpikir positif.
"Sayang, cara berbakti tidak harus mengorbankan perasaan dan kebahagianku. Masih ada cara lain, aku berjanji akan berbakti pada mereka karena aku sangat menyayangi mereka juga menyayangi kamu. Bagiku kalian sama-sama penting dihatiku, sulit untuk memilih salah satu, aku ingin kalian selalu menjadi bagian hidupku sampai ajal menjemputku," lirih Arsen.
"Sudahlah, jangan bersedih begitu. Lihat wajah tampanmu hilang kalau kamu seperti ini," goda Adiba. "Sekarang kita berdoa, berpikir positif semoga apa yang kamu pikirkan dan takutkan itu hanya ilusi saja," ucapnya lagi.
__ADS_1
Adiba berdoa didalam hatinya, "Robbi zidnii ilmma, wawassih liifii rizqii, wabariklii fiimaa rozaqtanii, waj'al ni mahbuunnaa fii qulubi ibadika wa qalbi ummi, wa'azizzaa fii uyuu nihim, waj'alnii wajihhaa fiddunyaa muaq hiroti i na zawaal, yaa mubdian bila misaal, falakal hamdu, walminnat, wassarofu alakulli haal."
Artinya:
"Ya Allah berilah aku tambahan ilmu. Luaskanlah rezekiku. Dan berkahilah harta yang engkau berikukan padaku. Jadikan aku disenangi di hati hamba-hambu-Mu dan di hati ibuku. Dan mulia di mata mereka. Jadikan aku di dunia dan akhirat termasuk orang-orang yang dekat (kepada Allah)"
"Sen, tunggulah disini! Aku akan bersiap, kita akan menemui keluargamu," ucap Adiba yang ingin segera menyelesaikan masalah yang ada.
"Sayang, kamu benaran sudah siap?" tanya Arsen menyelidik, ia takut hari ini akan menjadi hari terakhir hubungan mereka sedangkan undangan telah tersebar luaskan.
Bersambung..
__ADS_1
Yang ingin lihat undang mereka cek ig ya..