
"Sayang ayo kita salat berjamaah dulu, habis itu kita lanjut yang tadi," ajak Ega.
Ega berdiri di atas sajadah yang sudah ia gelar di lantai, ia sedikit merapikan baju koko yang ia kenakan dengan kopyah di kepalanya membuat penampilan sebagai imam lebih sempurna.
Tampan, pintar, penyayang, romantis, perhatian itu lah yang bisa di ungkapkan Asha saat melihat suaminya yang begitu sempurna. Pastinya dia suami yang tak pernah menuntut apapun darinya.
Asha segera berdiri di belakang suaminya dengan mengikuti gerak salat yang dipimpin suaminya dengan khusuk hingga akhir salam.
Mereka saat salat tidak begitu salam langsung pergi. Ega selalu mengajak istrinya untuk berdzikir, mendoakan pada sahabat rasul, orang tua serta saudara-saudaranya yang telah meninggal lebih dulu. Yang terakhir ia memimpin doa untuk kebahagian mereka agar selalu di lindungi dalam setiap langkahnya agar selalu diberikan kemudahan dan kelancaran tak lupa untuk meminta berkah dari sang pencipta atas kenikmatan yang mereka miliki sekarang.
Asha segera mencium tangan punggung suaminya, lalu Ega memberikan kecupan di kening sang istri.
"Sayang, dari tadi ponsel kamu berdering, kamu lihat sana siapa tahu penting," tutur Ega.
"Siapa ya Mas malam-malam telepon ngak ada hentinya, itu juga bel rumah bunyi saja kamu lihat Mas!" perintah Asha pada suaminya.
Siapa juga malam-malam bertamu tidak tahu kalau tuan rumahnya mau bercinta saja umpat Ega namun tetap berjalan menuju pintu.
Asha melihat nomer kedua sahabatnya segera menghubungi kembali untuk menanyakan apa yang terjadi. Ia takut jika terjadi sesuatu hingga menghubunginya hingga tiga puluh panggilan tak terjawab.
"Sha, kamu tidur kayak kebo. Kita jamuran tau nunggu kamu di depan apartemenmu!" hardik Naila.
"Apa?! Kamu sekarang disini?" Asha terkejut mendengar perkataan temannya.
"Iya, cepat buka pintu! Diana mau pamitan sama kamu, cepatan dech! Kakiku rasanya pegal-pegal ini nunggu kamu molor hampir satu jam," tegas Naila.
Saat Naila marah-marah dalam panggilan telepon pintu pun terbuka.
"Dokter Al, eh Bang Ega," sapa Diana. "Asha mana?" tanyanya lagi.
Kok suami Asha ada kalau tau ada di rumah tadi aku ogah di ajak kesini sama Naila kan jadi obat nyamuk aja pikir Diana.
Sedangkan Ega melihat kedua sahabat istrinya yang datang seperti orang pindahan rumah hanya diam penuh tanda tanya.
"Mas siapa yang datang? Apa Naila dan Diana?" teriak Asha menghampirinya.
__ADS_1
"Masuklah! Itu Asha," perintah Ega menpersilahkan masuk.
Naila dan Diana mengekori sang tuan rumah masuk ke dalam.
"Sha, kamu bilang suamimu keluar kota kok di rumah?" bisik Diana.
Asha diam lalu mengangkat bahunya.
"Sha, kita pamit pulang aja gimana ya? Aku lihat suamimu takut," bisik Naila.
"Ngapain pulang?! Mas Ega itu orangnya baik kok, santai saja. Kamu bawa apa sich? Kayak orang pindahan saja," tegur Asha.
Diana dan Naila saling pandang lalu menoleh ke Asha bersamaan.
"Kami itu niatnya mau nginap disini pas tau suamimu di luar kota, kita kan sudah lama ngak bobok bertiga rebutan guling sama selimut. Besok itu Diana akan pergi dinas di luar kota, ini hari terakhir kita bersama-sama tapi gagal dech," lesu Naila.
Gimana ini mereka juga penting tapi suamiku juga lebih penting mana dulu yang aku lakukan pikir Asha terdiam sejenak memilah mana yang terbaik.
"Sayang, sahabatnya di buatkan minum sana!" perintah Ega ikut bergabung bersama mereka.
"Seperti biasa," jawab mereka bersamaan.
"Ngak ada seperti biasa, aku ngak punya buah alpukat juga buah naga, adanya teh juga kopi."
"Aku sudah tau itu, ini buahnya aku sudah siapkan. Ini juga ada stroberi kesukaan kamu tinggal bikin jus, itu giliran kamu," tawa Naila dengan menyodorkan beberapa kantong plastik yang ia beli.
Asha mengambil alih semua itu dan membawanya ke dapur.
Di ruang tamu tinggal mereka bertiga. Diana dan Naila melihat raut wajah dingin Ega tidak berani menatap atau pun berbicara walaupun sekedar basa-basi.
"Kalian dari mana?" tanya Ega mencairkan suasana.
"Kami dari rumah, maaf ya kami malam-malam bertamu. Sebenarnya kami mau menghabiskan waktu bertiga sebelum Diana pergi kerja jauh saat tahu bang Ega pergi dinas di luar kota dari Rizki, tapi sekarang niat kami ngak jadi menginap," jelas Naila.
"Maaf ya, kami ngak sopan," sahut Diana.
__ADS_1
Ega tertawa.
Naila dan Diana saling pandang memikirkan ucapan mereka apa ada yang salah atau lucu hingga membuat Ega tertawa.
"Kalian jangan formal atau canggung seperti itu, santai saja. Anggap aku sama seperti Asha. Menginaplah jika kalian ingin menghabiskan masa-masa bertiga aku tidak akan melarang istriku asal dia tahu batas, toch kalian juga sesama jenis," ucap Ega.
Asha yang dari tadi mendengar percakapan suaminya segera memperjelasnya.
"Benaran boleh?" tanya Asha dengan meletakan minuman di atas meja.
"Boleh, tapi harus ingat batas-batasnya. Kalian bersenang-senanglah, aku akan pergi sebentar." Ega beranjak berdiri menuju kamarnya.
Yes dalam hati Diana dan Naila kegirangan bisa menikmati masa-masa seperti saat mereka awal kuliah yang selalu menghabiskan waktu bertiga kemanapun itu.
"Sha gimana, suamimu mengizinkan kita? Gimana boleh ngak kita menginap disini?" tanya mereka bersamaan.
"Boleh, bentar ya aku nyusul mas Ega dulu. Kalian nikmati saja makanan yang kalian bawa."
Asha segera menyusul suaminya ke dalam kamar yang kini telah berganti baju dengan celana jens.
Asha segera memeluk suaminya dari belakang.
"Maafkan aku, Mas."
Ega melepas pelukkannya lalu menatap istrinya.
"Maaf buat apa? Apa kamu buat salah?" tanya Ega dengan mengangkat dagu istrinya agar berbicara menatap matanya.
"Maaf karena teman-temanku bertamu malam-malam begini. Aku berani bersumpah saat mas pergi mereka tidak pernah kesini, aku pun juga tidak pernah keluar tanpa izin kamu."
Ega terdiam. Ia tahu jika istrinya sebenarnya sangat takut padanya jika ia marah atau tidak mempercayainya. Ia juga tahu setiap aktifitas istrinya di rumah ataupun luar rumah karena diam-diam ia selalu menjaga istrinya agar tetap aman walaupun tidak dalam jangkauannya.
"Sudahlah, jangan permasalahankan itu. Sudah cepat kamu temui mereka! Tidak enak jika mereka datang kamu malah dikamar, nanti mereka berpikir macam-macam," ucap Ega dengan memakai jaket levisnya.
"Tapi, kamu mau kemana? Jangan pergi! Aku akan menyuruh mereka pulang asal Mas jangan tinggalkan aku," rengek Asha entah mengapa dirinya selalu takut jika akan kehilangan suaminya itu.
__ADS_1
Ega mengecup kening sang istri lalu keluar meninggalkan Asha yang masih terdiam di posisinya.