
Ega yang melihat ekspresi Mita diam sambil senyum-senyum sendiri segera meluruskan perkataannya agar tidak semakin salah paham. Ia tidak ingin Mita salah mengartikan ucapannya.
"Aku bilang begitu karena aku sebagai sahabat kamu agar kamu segera memiliki pasangan hidup. Kamu sudah dewasa, umur kamu sebagai wanita sudah pantas untuk membina rumah tangga. Kamu itu lebih tua satu tahun dariku, aku saja yang laki-laki sudah menikah sedangkan kamu yang perempuan belum," tawa Ega. "Sudah ya kalian nikmati pestanya aku akan menyapa yang lain, Kamal cepat lamar Mita, aku doakan kalian jodoh. Pastinya segera menyusul untuk keplaminan menikah itu enak lo?" ucapnya lagi.
Saat Ega membalikkan badan untuk melangkah pergi, tangannya di cekal oleh Mita.
"Ga, apa tidak ada kesempatan untukku?!" tanya Mita menyelidik dan meminta kepastian akan jawaban perasaannya.
"Kesempatan apa?" tanya Ega dengan mengerutkan keningnya.
"Apa kamu tidak paham maksudku? Aku dari dulu menyukai kamu."
"Maaf aku hanya menganggap kamu sebagai teman tidak lebih. Kamu dari dulu kan tahu jika aku menyukai wanita masa kecilku. Maaf, aku harus pergi istriku sudah menunggu," kata Ega melepas tangan Mita dari lengannya.
***
Ega segera mencari sang mertua karena sejak tadi datang ia belum menyapa orang tuanya.
"Assalamu'alaikum warahmatullahi wabarakaatuh, Pah, Bun. Maaf, Ega baru sempat membantu menyapa kalian," sapa Ega.
"Waalaikum'salam warahmatullahi wabarakaatuh, tidak apa, Nak Ega. Bunda mengerti ini acara penting kamu pasti akan banyak orang yang penting untuk kamu sapa," jawab Aira.
"Kalian lah tamu penting Ega, Pah, Bun, terimakasih kalian sudah berkenan hadir menyaksikan acara kami dan menjadi saksi jika rumah sakit ini sudah jadi milik Asha. Papa sama Bunda nanti mengginaplah di apartemen kami."
__ADS_1
"Adik ipar, kamu kok bisa sich sandiwara menjadi orang miskin padahal kamu memilik segalanya sebenarnya apa alasan kamu," sahut Nathan. "Aku berharap kamu tidak memainkan perasaan adik kesayanganku," ucapnya meledek Ega.
"Tidak ada motif tertentu aku mencintai Asha dengan tulus sejak kecil bahkan saat itu aku mengetahui Asha bercita-cita ingin membangun rumah sakit sendiri aku bertekat untuk kerja keras membangunkannya rumah sakit ini. Jika Bang Nathan ingin tahu aku menyamar alasannya yang jelas aku ingin Asha mencintai dan menerima aku apa adanya tanpa melihat statusku," jelas Ega.
Nathan segera menepuk pundah adik iparnya, "Aku setuju dengan caramu! Dengan begitu kita bisa melihat mana yang tulus dengan kita mencintai kita apa adanya."
"Terimakasih, Bang. Oya apa kalian tadi belum bertemu dengan Asha?!" tanya Ega yang sejak mereka menemui Tuan Arnod mereka berpisah Asha meminta izin untuk mengobrol dengan sahabatnya.
Raka, Aira, Nathan, Aisyah saling menatap muka jika merek memang belum bertemu dengan Asha orang yang sangat ia sayangi.
"Memang dia tidak sama kamu? Apa kalian sedang bertengkar?" tebak Raka.
"Papa! Kamu ini anak sedang baik-baik saja asal menuduh saja, apa Papa tadi tidak melihat jika Asha dan Ega bernyanyi sangat romantis. Mereka masih muda, masih banyak belajar mencari pengalaman, apa lagi Asha anak kamu itu gimana sikapnya, tapi Bunda sangat yakin pada menantuku satu ini jika dia bisa mendidik dan menjaga Asha dengan baik," puji Aira.
***
Rizki yang kini duduk berdua dengan Naila merasa canggung padahal sebelumnya ia dengan Rizki selalu bicara ceplas-ceplos tanpa mengendalikan bibirnya untuk berucap apa kini ia merasa malu dengan dirinya sendiri. Entah apa yang membuatnya malu ia juga bingung dengan dirinya sendiri.
"La, kenapa kamu diam?! Mana Naila cerewetku, tadi waktu kita berangkat kamu banyak bicara dan aku suka itu," ucap Rizki menatap manik bola mata Naila.
Apa dia suka aku yang cerewet? Pasti dia sangat senang kalau aku tadi marah-marah, dia sekarang tahu kalau aku tadi cemburu buta. Rizki tadi tidak mau menjelaskan siapa bosnya mungkin agar tahu sesungguhnya cintaku batin Naila.
Rizki melihat Naila dengan tatapan kosong, ia segera memberikan sebuah kecupan di pipi sang kekasih untuk pertama kalinya.
__ADS_1
"Hai apa yang kamu lakukan?!" tegas Naila dengan mendorong tubuh Rizki dan melihat sekitarnya, ia merasa lega tidak ada orang di sekelilingnya. "Riz, gimana jika tadi banyak orang yang melihat kita? Ini pesta banyak orang," hardik Naila dengan wajah kesal.
"Jika tidak ada orang berarti boleh dong," goda Rizki. Rizki sebelum mencium pipi Naila ia sudah melihat situasi terlebih dahulu untuk memastikan aman atau tidak.
Naila memalingkan wajah, kini kedua pipinya sudah merah merona bagaikan menggunakan blouse on ia tak percaya jika perkataannya malah membuat sang kekasih semakin menggodanya.
Rizki segera berdiri memindah posisinya hingga ia saling berhadapan dengan Niala, lalu ia duduk sedikit berjongkok dengan bertumpu dengan kakinya.
"La, jangan marah ya. Aku janji tidak akan menciummu sebelum minta izin padamu, aku sangat mencintaimu," lirih Rizki.
"Apa itu benar? Apa buktinya jika kamu cinta padaku?"
"Bukti? Kamu mau aku buktikan gimana? Gimana jika aku ke atas panggung lalu menyatakan cinta di depan semua orang agar semua tamu disini jadi saksi ketulusan cintaku agar kamu percaya jika aku sudah berubah, aku tidak ingin lagi bermain-main. Aku sekarang sudah menemukan wanita yang tepat untuk mengisi hari-hariku. Menualah bersamaku, walaupun ini terlalu cepat, aku ingin kau tahu jika kau adalah calon istriku. Mungkin kau bukan yang pertama singgah di hatiku tapi aku janji kau akan yang jadi terakhir dari petualanganku, kau lah pelabuhan hatiku untuk yang terakhir kali," ucap Rizki dengan meraih kedua tangan Naila lalu menggenggam erat untuk menyakinkannya.
Naila merasa terharu akan ucapan kekasihnya ia tahu riwayat Rizki yang dulu sering bergonta-ganti pasangan tapi kini ia sedang dimabuk akan cinta antara percaya jika kekasihnya sudah berubah ataukah hanya sandiwaranya yang mencoba membuka benteng pertahanannya lalu mencampakkannya seperti wanita-wanita lainnya.
Rizki memang laki-laki yang sempurna dengan postur tubuh yang tinggi gagah, dengan body yang kekar dengan dada bagaikan roti sobek dengan wajah putih tanpa cacat siapa yang tidak tergila-gila olehnya di tambah dia laki-laki yang sangat royal.
"Aku tahu kamu pasti bimbang, tapi percayalah aku tidak akan meninggalkan kamu," ucap Rizki lalu memeluk Naila.
Siapa yang tidak akan luluh hatinya jika mendengar perkataan manis dari orang yang sangat kita cintai batin Naila.
Rizki yang melihat Naila masih diam tanpa membalas pelukkannya ia mulai melepas dekapannya.
__ADS_1
Bersambung