
Asha yang kesal harus berdebat dengan suaminya terpaksa beranjak berdiri dari tempat duduknya dengan malas.
"Awas kamu, Mas! Nanti malam tidak ada jatah buat kamu," cabik Asha.
Apa dia bilang tidak ada jatah! Tadi sore aja gagal pelepasan gara-gara dia menundanya menawar nanti malam sekarang dia malah bilang begitu, awas saja aku tidak akan memberi ampun. Batin Ega menatap punggung Asha.
Asha segera membukakan pintu kedua orangtuanya dengan bersemangat walaupun tadi ia sempat berdebat dengan suaminya hanya ingin melihat seberapa keberanian suaminya.
Cklek
"Bunda, Papa," teriak Asha langsung memeluk sang bunda. "Aku kangen kalian," ucapnya lagi.
"Assalamualaikum," sapa Raka melepas pelukan dua wanita di depannya yang melepas rasa rindu.
"Papa!" ucap Aira dan Asha bersamaan.
"Ucap salam dulu, Nak! Apa kalian akan berdiri disini saja," tegas Raka.
"Astagfirullah, kenapa bunda sampai lupa," kata Aira mengusap dadanya. "Waalaikumsalam," kata Aira menjawab salam suaminya.
Asha hanya nyengir tanpa dosa. Asha segera merangkul lengan sang bunda mengajaknya masuk ke dalam.
Raka dan Aira melihat ruang tamu yang sepi tidak mendapati menantunya segera mengarahkan pandangan matanya ke penjuru arah.
Mana Mas Ega kemana? Apa segitu takutnya dia ketemu orang tuaku batin Asha juga mencari suaminya yang sudah tidak ada di tempat duduknya.
"Mana suami kamu?"
Asha masih diam tidak menyahut ucap sang papa, ia masih mencari alasan yang tepat untuk keberadaan Ega yang entah kemana sembunyinya. Mereka saling diam sibuk dengan pemikirannya masing-masing.
Sedang dari arah dapur seseorang sibuk membawa nampan yang di atasnya ada beberapa toples camilan ringan. Tiga orang yang sedang berdiri itu pun menatap laki-laki tampan yang berjalan kearah mereka dengan kagum.
__ADS_1
"Sayang, Papa dan Bunda tidak kamu persilahkan duduk!" ucap Ega dari kejauhan berjalan untuk ikut gabung bersama mereka. "Duduk dulu, Pah, Bun," ucap Ega meletakan toples di atas meja.
Setelah meletakkannya dia atas meja. Ega segera menyalami tangan kedua mertuanya, lalu duduk disamping Asha.
"Silahkan Pah, Bun, camilannya," kata Ega mempersilahkan kedua mertuanya untuk memakan jamuan yang telah ia siapkan. "Sayang, buatkan Papa dan Bunda minum," kata Ega dengan menepuk paha Asha.
Asha yang sedari tadi melamun menatap sikap suaminya itu segera tersadar saat bagian tubuhnya ada yang menyentuhnya.
"Hem," jawab Asha.
Setelah kepergian Asha, Ega segera membuka percakapan sekedar basa-basi agar tidak ada suasana canggung karena ini kali kedua Ega berhadapan langsung dengan mertuanya setelah acara ijab kabul beberapa bulan lalu.
"Papa dan Bunda gimana kabarnya? Maafkan kami belum bisa berkunjung kesana," ujar Ega.
"Kami baik seperti yang kamu lihat, kalian sendiri gimana? Gimana hubungan kalian, apa ta'aruf yang kalian jalankan berjalan lancar? Apa putri Bunda merepotkan kamu, maklum dia itu sangat manja. Mohon bimbing dia ya, Nak Ega. Bimbing dia agar lebih baik lagi dan dekat dengan Allah," lirih Aira.
"Alhamdulilah, hubungan kami semakin hari semakin baik seperti yang Papa dan Bunda lihat saat ini. Yang awalnya tidak saling kenal hingga dengan seiringnya waktu kita saling mencintai. Asha tidak pernah merepotkanku, dia sangat membantuku. Dia wanita yang sholeh, aku yakin dia tanpa bimbinganku selalu menjadi yang lebih baik," jawab Ega.
"Siapa yang sholeh?" tanya Asha menyelidik.
Raka yang sudah lama tidak mengusili putri bungsunya itu segera menjahilnya.
"Yang sholeh itu mantan pacar Ega, tidak seperti kamu! Salat saja masih bolong kalau tidak di marahin pasti meninggalkan salat," ejek Raka.
"Mantan!" ucap Asha. "Papa ku yang tampan nomer dua, suamiku ini tidak punya mantan. Mantan pacarnya hanya aku, yang jadi istrinya juga aku," jelasnya.
Jadi kamu sudah tahu banyak hal dari suamimu itu. Berarti diantara kalian memang sudah ada cinta. Alhamdulilah jika memang kalian sudah saling cinta maka aku yakin tidak akan ada perpisahan di antara kalian. Walaupun kamu bukan Albram atau siapapun kamu asal kamu bisa merubah putriku menjadi lebih baik aku akan selalu mendukung dan selalu berharap kau menjadi bagian keluarga Wijaya. Pikir Raka sedikit melirik Ega yang sedang menatap putrinya.
"Benar itu, Nak Ega?" sahut Aira.
"I-iya, Bunda. Aku tidak ada banyak waktu untuk mengenal wanita, jadi aku tidak punya mantan," ucap Ega yang sebenarnya sangat malu harus menceritakan kejombloannya sepanjang masa mudanya.
__ADS_1
"Wah, kamu seperti Bunda. Bunda juga tidak pernah pacaran tapi langsung menikah, pacaran setelah menikah lebih asyikkan. Anak Bunda semua begitu kecuali Asha yang berbeda dengan Bang Nathan, sama Mbak Bila," jelas Aira. "Tapi Bunda dan Papa selalu berlaku adil terhadap mereka," ucap Aira mengusap rambut Asha.
"Bunda! Kenapa jadi banding-bandingkan Asha dengan Abang, juga Mbak. Kalau aku sama seperti mereka pasti tidak asyik karena tidak ada ceritanya. Kok semua anak Bunda sempurna kan harus ada yang sedikit bandel gitu biar seru, tapi kan aku tahu batasnya," cabik Asha.
"Tahu batas! Kalau saat itu tidak ada seseorang yang menelepon kami pasti kamu sudah kelewatan batas," kata Raka keceplosan.
Jadi saat itu Papa dan Bunda tahu gara-gara ada yang memberi tahu mereka tapi siapa dia? Apa jangan-jangan itu juga orang suruhan Mas Ega seperti yang dia katakan tadi.
"Papa!" bentak Aira. "Sudahlah yang lalu biarlah jadi pelajaran buat Asha agar jadi wanita yang sholeh juga berbakti pada suaminya. Tolong! Nak Ega, tegur saat putriku bersalah, ingatkan dia ya," kata Aira memohon kepada Ega.
"Itu sudah jadi tugasku dan kewajibanku. Bunda dan Papa malam ini menginap disinikan?" tanya Ega.
"Kalau Papa sich terserah dengan Bundamu. Apa tidak merepotkan kalian nanti."
Aku berharap jika Aira menjawab menginap disini. Dengan begitu maka ada kesempatan aku untuk menginterogasi menantuku siapa sebenarnya dia pikir Raka.
"Bunda gimana? Menginaplah semalam saja disini!" mohon Asha.
Aira masih terdiam ia tidak ingin menggangu tidur pasutri yang sedang senang-senangnya bercinta kerana ia tahu pasti yang dilakukan putrinya dan menantunya itu karena mereka masih tergolong pengantin baru.
"Bunda gimana?" kini giliran Raka bertanya pada istrinya.
"Apa tidak sebaiknya kita menginap di hotel kita saja. Sekalian kita lihat perkembangannya, Pah. Kita sudah lama tidak berkunjung kesanakan," alasan Aira.
Tumben Bunda perduli dengan bisnisku, biasanya dia cuek kalau masalah hotel. Paling dia mau bergabung saat membahas masalah desain pikir Raka.
"Sudah malam, sebaiknya Papa dan Bunda menginaplah disini," saran Ega.
Raka segera memberi kode istrinya agar mau menerima tawaran menantunya itu.
Bersambung...
__ADS_1