
“ Ada apa ? Ada yang sakit?” tanya Aryan yang langsung mendudukkan dirinya karena merasakan pergerakan dari istrinya.
Nara menggeleng, ia masih malas bersuara di depan suami kejamnya. Wanita itu membangunkan dirinya pergi ke kamar mandi. Dengan usia kandungan yang semakin bertambah, Nara jadi sering buang air kecil saat ini.
Keluar kamar mandi, Aryan yang resah langsung menghadangnya.” Kamu tidak apa, kan?”
Nara hanya mendengus dengan napasnya yang kasar. Ia tak mau terlena lagi dengan kebaikan Aryan yang sewaktu-waktu bisa berubah menjadi amarah. Nara kembali ke tempat tidur dan Aryan pun menyusulnya.
Pura-pura memejam, Nara masih tidak ingin terlibat pembicaraan apapun, meski Aryan kini merengkuhnya dengan sebuah pelukan hangat sampai beberapa saat kemudian terdengar suara perut Nara yang kelaparan di tengah malam.
“ El, kamu lapar? Tunggu di sini, aku buatkan sesuatu.”
Aryan segera bangkit dan menuju dapur . Membuka lemari es, meski ada banyak bahan makanan di sana, namun Aryan yang sudah menjadi tuan muda sejak kecil itu kemudian bingung.
“ Apa aku bangunkan bik Ina, ya ? Ah, tapi kasihan sudah malam,” gumam Aryan yang masih mencari ide akan memberikan Nara makanan apa di jam dua dini hari ini.
“ Masa mie? Aku mana bisa bikinnya. Eh, tapi ibu hamil kan tidak baik makan mie. Roti saja kalau gitu.
Aryan mengambil dua lembar roti lalu mencari sesuatu sebagai isian. Sekian lama Aryan masih mondar-mandir mencari entah apa.
“ Telur? Astaga , aku bahkan tidak bisa memecahnya. Dihh, bik Ina dimana lagi naruh selai sama kejunya.”
Aryan masih menyisir isi kulkas satu persatu barang di dalam sana. Terbiasa dilayani sejak kecil, Aryan bahkan tidak tahu letak barang-barang di rumahnya sendiri.
Hingga sekian lama Aryan yang belum kembali, Nara yang sudah kelaparan itu akhirnya keluar kamar dan mendapati Aryan berkutat entah melakukan apa.
“ El, eemm… lama ya . Tunggu sebentar lagi.
Nara masih menatap Aryan datar lalu memilih duduk di kursi ruang makan yang menyatu dengan area dapur. Buah-buahan yang sore tadi dibelinya sudah tertata rapi di atas meja dan Nara mengambil satu buah pisang dan langsung memakannya dengan lahap.
Aryan menoleh dan mendapati istrinya sudah melahap buah sedang dirinya belum juga selesai hanya membuat roti isi saja. Belum puas makan pisang, Nara mengambil sebuah apel dan membawanya untuk digigit.
“ Ehh !” cegah Aryan langsung menyahut apel itu untuk dicuci sementara tangan Nara sudah menggantung di udara.
” Jangan langsung memakan buah tanpa dicuci. Tunggu aku potong dulu.”
Nara mendesau pasrah seraya mengusap dahi sampai ke rambutnya, saat Aryan memotong buah apel itu menjadi empat bagian lalu mengupas kulitnya dengan susah payah. Sambil menunggu, sebuah pisang lagi masuk ke mulut Nara sampai habis. Tiba-tiba hidung Nara mengendus sesuatu. Seperti bau hangus yang ternyata bersumber dari sebuah pan yang berasap di atas kompor.
__ADS_1
Mata Nara langsung membulat lalu segera berlari dan mematikan kompor. Sebuah roti yang tengah dipanggang dalam pan kini berubah wujud menjadi roti arang.
“ Maaf,” sesal Aryan yang tidak mengerti cara membuat makanan bahkan hanya sebuah roti panggang saja.
Melihat calon makanan yang dibuat oleh suaminya, Nara sudah kehilangan selera. Bahkan apel yang tidak jadi ia makan pun sudah tak berbentuk karena mengupas kulitnya pun Aryan tak bisa melakukannya.
Ingin sekali marah, namun mengingat ia sudah lelah emosi , Nara hanya kembali mendesaah lelah.
“ Maaf, El. Aku payah sekali di dapur. Aku pesankan dari layanan restoran saja, ya?”
“ Tidak usah!” jawab Nara singkat lalu membuka lemari dapur mengambil mie instan koleksi bik Ina lalu memanaskan air.
“ Nara , kamu makan mie instan? Mie kan tidak baik untuk ibu hamil.”
“ Aku juga tidak akan mati hanya dengan makan mie ! Sejak kecil aku hidup susah dan makan saja apa yang ada. Buktinya sekarang aku juga masih hidup!”
Aryan tak lagi berani mencegah Nara yang dengan cekatan merebus mie dan hanya ditambah sebutir telur. Pria itu rasanya menelan ludah mencium aroma asap mie yang mengepul gurih.
Nara pun tak mau menunggu dingin untuk segera menikmati mie yang masih mengeluarkan asap panas itu.
“ Awas hati-hati. Sini, aku suapi. Jangan sampai lidahmu nanti terbakar karena makan terburu-buru.”
“ Ini makanlah .”
Kelopak mata Nara melebar melihat wajah Aryan yang berubah seperti anak kucing saat ini. Begitu manis, namun siapa yang tahu beberapa waktu ke depan atau kapan akan berubah menjadi singa buas.
Karena kelaparan, Nara terpaksa menerima suapan dari Aryan yang ngiler juga melihat Nara begitu lahap hanya dengan memakan mie kuah saja.
“ Kamu mau?”
Aryan yang menelan ludah itu menggeleng malu karena istrinya seolah paham siapapun yang melihat orang makan mie pasti akan menginginkannya juga.
“ Tidak. Aku hanya senang kamu makan lahap.”
Aryan masih dengan telaten memasukkan sesuap demi sesuap mie sampai habis. Melihat Nara yang mengelus perutnya setelah kenyang. Aryan jadi tertawa sendiri melihatnya. Terlebih Nara kemudian menguap lebar lalu mengucek matanya.
“ Ngantuk?”
__ADS_1
Nara mengangguk lalu beranjak dari meja makan. Namun bukan masuk kamar, ia terlebih dulu membawa mangkuk mienya untuk di cuci, beserta pan gosong hasil perbuatan Aryan tadi.
Aryan masih menyaksikan bagaimana Nara lebih memiliki kebiasan baik ketimbang dirinya yang hanya tahu memerintah dan meminta saja. Setelah membersihkan tangannya, Nara masih membuka lemari penyimpanan makanan dan mengambil sebungkus biskuit lalu dibawanya masuk kamar. “ Masih lapar?”
“ Yang lapar anakmu, bukan aku !” jawab Nara gengsi sampai membuat Aryan menahan tawanya dengan membungkam mulutnya sendiri.
Nara bahkan sudah memakan dua keping biskuit gandum lalu meletakkan sisanya ke atas nakas lalu kembali merebahkan dirinya membelakangi Aryan yang kemudian memeluknya dari belakang.
Awalnya Nara merasa risih, namun Aryan seperti tak ingin melepas pelukannya. Hingga kemudian Nara pun tertidur tak lama setelah Aryan mengelus perutnya.
“ Dasar ! Kamu yang lapar pakai mengkambing hitamkan anak lagi.”
Keesokan paginya, Aryan yang hanya memejam tak lebih dari dua jam itu terbangun lebih dulu saat Jonas sudah menjemputnya. Aryan keluar kamar dan melihat bik Ina sudah berkutat di dapur.
“ Bik. tolong buatkan makanan yang bisa di makan tengah malam, ya. Sama itu, mie instan koleksi bik Ina sementara tolong disembunyikan dulu.”
“ Baik, Tuan Muda. Apa Nyonya sudah mulai suka makan tengah malam ?”
“ Semalam dia makan mie. Apa semua orang hamil seperti itu, Bik?”
“ Orang hamil itu mudah lapar, kan yang makan dua orang sekaligus.”
Aryan mengangguk mengerti dengan ucapan Nara yang bicara bahwa anak mereka yang merasa kelaparan di tengah malam buta.
“ Jo, hari ini aku mau libur dulu. El masih harus bedrest dan aku mau menemani dia seharian.”
“ Tapi, Tuan Muda. Hari ini jadwal anda cek dokter spesialis dan penyakit dalam, juga ke psikiater. Obat anda….”
Aryan yang masih mengenakan pakaian santai itu lantas memikirkan sesuatu lalu mengambil botol obat penenang yang biasa ia minum menjelang tidur.
“ Masih banyak ? Anda lupa meminumnya, Tuan?” Jonas sampai menggoyang wadah obat itu dan mendapati masih banyak yang tersisa sedangkan hari ini jadwalnya Aryan mengunjungi dokter terapinya.
“ Iya, aku bahkan lupa sudah beberapa lama tidak meminumnya.” ucap Aryan yang baru menyadari hal yang diingatkan oleh asistennya itu.
“ Sepertinya sejak aku sudah tidur satu kamar dengan istriku !”
.
__ADS_1
...****************...