
Ega segera memeluk istrinya yang sedang marah dengan raut wajah cemberut. Asha yang mendapatkan perlakuan tiba-tiba itu segera memberontak semakin kesal dan marah.
"Jangan peluk aku!" hardik Asha.
"Sayang, kenapa sich? Kamu itu kan istriku, wajar dong aku peluk. Kalau kamu melarangku memeluk kamu, lalu aku harus peluk siapa?"
"Kamu kan juga suka sama wanita yang kamu maksud tadi! Kenapa kamu tidak meminta peluk dia saja, aku ngak suka berbagi!" tegas Asha.
"Wanita siapa?! Wanitaku hanya kamu tidak ada yang lain."
"Itu pemilik rumah sakit yang kamu bilang cantik, katanya kamu juga cinta dia," dengus Asha.
"Calon pemilik rumah sakit kan Ashanum Ananda Wijaya. Kamu itu aneh cemburu sama dirimu sendiri."
"Aku! Kapan juga aku jadi pemilik rumah sakit? Papa ku tidak pernah membangun rumah sakit di Malang. Kamu itu di ajak bicara yang serius dong Mas. Ini bukan waktunya bercanda, aku itu lagi kesal denganmu," tegas Asha.
"Kesal apa kesal?!" goda Ega. "Sayang, memang yang membuat rumah sakit itu bukan papa kamu tapi suami kamu ini. Aku tahu kamu kamu dari dulu bercita-cita ingin memiliki rumah sakit sendiri setelah lulus kuliah, makanya Mas membuat itu buat kamu."
"Kamu kok tahu?!" tanya Asha. Aku tidak pernah bilang cita-citaku pada Mas Ega, dia tahu dari mana? Apa jangan-jangan dia bisa membaca pikiran seseorang batin Asha. "Mas kamu bisa baca pikiran orang ya?" Asha menatap suaminya dengan menyelidik.
"Tidak, aku hanya seorang psikolog. Aku tahu semua itu karena kamu yang mengatakan saat itu." Aku tahu karena aku selalu menyelidiki semua tentang kamu, aku juga menyuruh seseorang yang selalu mengikuti kamu.
Kapan juga aku mengatakan padanya, pasti karena dia bisa baca apa yang ada dipikiranku batin Asha.
"Mas Ega, itu beneran rumah sakit kamu ya," ucap Asha dengan memainkan jari-jemarinya di dada bidang Ega yang terbalut kain kaos.
__ADS_1
"Beneran, itu aku buat untuk kamu. Sekitar lima tahun lalu, mulai minggu depan semua aset rumah sakit telah berpindah tangan dengan nama kamu sebagai hadiah ulang tahun kamu," kata Ega keceplosan.
"Kado ulang tahun!" ucap Asha. Aku juga tidak pernah mengungkit masalah tanggal lahirku dengannya kenapa dia seperti tahu banyak hal tentang diriku. Apa Mas Ega benar-benar selalu mengikutiku seperti yang ia katakan. Lima tahun lalu, berarti saat aku sudah pacaran dengan Dion. Apa jangan-jangan orang suruhannya lah yang selalu menggagalkan ciumanku dengan Dion? Aku harus menanyakan sama dia.
"Mas Ega ada yang ingin aku tanyakan padamu, tolong jawab jujur dan ku harap kamu tidak akan marah. Aku sangat penasaran dengan kamu kok tahu banyak hal tentang aku, kok bisa gitu?"
"Aku pernah bilang padamu, jika aku janji akan selalu menjaga kamu hingga aku benar-benar bisa memiliki kamu seutuhnya. Janji kecil Rama dengan gadis kecil yang takut kegelapan yang selalu merengek nangis meminta pulang hingga saat itu berhenti menangis saat aku berjanji aku menjagamu dan mencintaimu," jelas Ega.
Asha segera mengingat semua perkataan Ega yang hampir saja hilang dari ingatnya. Ia segera tersenyum bahagia saat mendengar suaminya yang dari dulu selalu menjaganya dari kejauhan. Asha segera memeluk suaminya erat memohon maaf atas sikapnya yang telah ingkar akan janji yang pernah ia ucapkan.
"Aku minta maaf, aku telah membuat kamu kecewa. Aku juga sudah berbuat zina saat itu, apa kamu tahu semua dosaku itu, Mas?"
"Aku tahu, sudah yang terpenting kamu sekarang sudah bertaubat dan jangan pernah kamu ulangi lagi kesalahan itu. Sebaiknya segera rapikan penampilan kamu, Papa dan Bunda akan datang, ini sudah hampir setengah jam pasti mereka sudah ada di loby," kata Ega dengan memainkan dagu istrinya lalu mengecup bibirnya sekilas. "Ingat nanti malam, kamu memiliki hutang servisan denganku," bisiknya dengan nada manja di telinga Asha.
"Kalau tidak lupa," jawab Asha dengan merapikan ramnbutnya yang sedikit berantakan.
Kini pikirannya mulai di ambang rasa kecemasan, bagaimana jika kedua orang tuanya marah yang mendapati suaminya telah banyak membohonginya? Gimana jika orang tuanya meminta jika harus menjauhi Ega, disaat ini ia sudah banyak menyimpan rasa cinta yang amat dalam hingga tidak mampu jika harus kehilangannya atau pun sekedar jauh.
Ega yang baru saja duduk disamping istrinya melihat tatapan kosong Asha kedepan, ia segera memalingkan wajah istrinya hingga kini mereka saling berhadapan.
"Lagi mikirin apa? Aku juga sudah ada disini, tidak mungkin jika kamu sedang memikirkan aku," goda Ega dengan memegang dagu istrinya. "Sha, jika ada masalah terbukalah padaku agar tidak ada sesuatu yang kita tutup-tutupi di antara kita berdua karena suatu hubungan rumah tangga tidak baik jika kita saling memendam masalah sendiri-sendiri," ucapnya.
Asha hanya memandang suaminya, ia merasa bingung jika ia bercerita maka akan membuat suaminya bertambah pikiran untuk menghadapai orang tuanya.
__ADS_1
Ega yang melihat istrinya tidak mau berbagi keluh kesah yang ada di dalam pikirannya segera memberi nasehat.
"Sayang, dalam rumah tangga sebaiknya pasangan atau istri tidak merahasiakan hal-hal semacam apa pun kecil masalah itu, dengan tetap memberikan edukasi kepada pasangannya yang memiliki kesalahan atau sifat yang kurang baik dari ia sadar dari kekeliruannya dan tidak terus menerus berada dalam kubangan kesalahan yang sama. Keterbukaan dalam kehidupan rumah tangga akan menghilangkan atau meminimalisir kondisi buruk sangka seorang pasangan terhadap pasangannya," jelas Ega.
Kamu itu, selama ini kamu juga sudah berbohong denganku cukup lama sekarang saja bisa memberiku nasehat, kemarin-kemarin harusnya kamu menasehati dirimu sendiri. Batin Asha.
Asha segera menutup mulutnya dan tertawa terpingkal-pingkal.
Ega mendapati istrinya tertawa itu pun segera meneliti dirinya apa ada sesuatu yang lucu hingga membuat sang istri itu berubah tertawa.
"Apa ada sesuatu yang lucu?" tegas Ega menghentikan tawa istrinya itu.
"Ada, kamu itu lucu, Mas. Kamu sekarang menasehati aku untuk saling terbuka tapi nyatanya kamu kemarin-kemarin berbohong padaku. Sudah lupakan saja, aku sedang baik-baik saja. Lebih baik kita memikirkan gimana caranya menjelaskan pada Papa dan bunda. Kamu tahu Papaku gimana orangnya kan?"
"Tahu, seorang Raka Wijaya yang kejam dan menakutkan, yang selalu di segani oleh semua orang."
"Kamu tidak takut berhadapan dengannya?" tanya Asha.
Tok ... Tok ...
"Sepertinya mereka sudah datang, sebaiknya kamu buka pintunya dulu!" perintah Asha.
"Kenapa tidak kamu saja, aku bingung jika mereka nanti langsung memberikan berbagai pertanyaan, lalu aku harus jawab gimana?" kata Ega melemah.
Bersambung..
__ADS_1
sambil nunggu up yuk mmpr dikarya teman aku