Wedding Agreement

Wedding Agreement
24 Season 2


__ADS_3

Adiba bergeliat, lamat-lamat terdengar suara adzan subuh berkumandang membangunkan manusia-manusia yang sedang kena dalam mimpinya untuk segera memenuhi panggilan kemenangan.


Adiba bangkit melanjutkan shalat subuh yang sebelumnya didahului dengan dua rakaat sebelum subuh. Dua rakaat yang bahkan nilainya lebih berharga dari dunia dan isinya.


Adiba segera melipat mukenanya, sebelum ia ke dapur untuk membuatkan sarapan sang tuan rumah. Tidak mungkin ia duduk bersantai saja, dengan numpang makan dan tidur menurutnya itu bukan tipenya.


Ia bergegas meletakan mukenanya di lemari, ia menyisir rambutnya lalu mengikatnya asal seperti kuda.


"Pagi ...," suara itu tersentak dari balik pintu. Suara yang hadir bersamaan bau wangi yang menguar masuk ke indra penciuman, ia sangat mengenali baunya dan ia sangat menyukainya. Seketika ia menoleh.


Saat ia menoleh, Arsen sudah berdiri membungkuk. Entah sejak kapan ada disana. Tak ada suara ataupun ketukan pintu. Apa karena ia tak mendengar lantaran pikirnya ini melayang kemana-mana.


"Sayang kamu mau ngapain?" tanya Arsen malah memeluk dari belakang dengan tangan melingkar di perut Adiba. Ia berbisik mesra, tersenyum memberi kode untuk meminta penyemangat pagi untuk hari-hari yang indah.


Harusnya yang nanya itu aku. Kok kebalik pikir Adiba.

__ADS_1


"Ngak salah kamu tanya begitu padaku," kekeh Adiba. Ia mencoba melepas tangan Arsen yang melingkar diperutnya tapi usahanya sia-sia justru Arsen semakin mempererat lingkar tangannya membuat ia tidak bisa berkutik.


"Kenapa dilepas biarkan begini sebentar, aku masih merindukan kamu." Arsen berkata sambil sedikit membungkuk dengan meletakkan dagunya di bahu Adiba hingga kulit pipi mereka saling bersentuhan.


"Ini dosa lo," tegur Adiba.


"Tidak, hanya dosa sedikit kita tidak melakukan apa-apa hanya berpelukan. Aku janji kok akan menjaga kamu sampai menghalalkan kamu. Aku tidak akan melewati batasku, tapi kalau khilaf sedikit tak apalah. Aku ini hanya manusia tak sempurna banyak kesalahan," lirih Arsen dengan mengoyang-goyangkan kepalanya secara tidak langsung Adiba juga mengikuti pergerakkannya.


Aku harus cari cara agar sikap ini tidak kelewatan. Aku tidak mau berbuat dosa besar yang akan mendapatkan hukuman lebih besar dari Sang Pencipta batin Adiba.


Arsen tidak menjawab ia masih engan melepas pelukannya, ia sudah memesan sarapan melalui develiry hingga tidak ada alasan untuk wanitanya meninggalkan dirinya yang masih ingin bermesraan sambil menikmati arunika pagi ini.


"Sen ...," lirih Adiba.


"Hem."

__ADS_1


"Kamu kayak gini terus nanti kamu khilaf. Kamu mau aku buatkan menu apa?"


Arsen melepas pelukannya, ia meraih tangan jari-jemari Adiba menariknya keluar kamar.


"Sen, kita mau kemana? Dapur itu kesana," tanya Adiba penuh selidik.


Adiba menatap punggung Arsen sambil bertanya-tanya dalam hatinya. Ia akan dibawa kemana pagi-pagi begini sedangkan ia bilang ingin ke dapur untuk memasak.


"Ke kamar," jawab santai Arsen.


Ke kamar?! Pikir Adiba seketika ia menghentikan langkah kakinya. Ia mencoba melepas tangannya dari genggaman laki-laki yang engan melepaskannya.


Apa dia akan semakin khilaf, apa yang akan dia lakukan denganku. Pikiran Adiba mulai berkecamuk tidak karuan ia hanya bisa banyak-banyak berdoa agar dirinya tidak lepas kontrol. Walaupun ia sangat mencintainya, ia tidak ingin melakukannya sebelum ada ikatan pernikahan.


Bersambung.

__ADS_1


Yuk apa yang akan mereka lakukan beri komentar kalian..


__ADS_2