
Adiba melihat jam di dinding sudah menujukan pukul tujuh malam, ia bergegas menuju dapur untuk memanaskan makanan yang telah ia buat sore tadi. Ia tidak ingin menyambut sang tuan rumah dengan makanan dingin.
20.00
21.00
Sudah hampir dua jam ia menunggu kepulangan Arsen, tapi tidak ada tanda-tanda akan kepulangannya. Ia melihat ponselnya juga tidak ada notifikasi pesan masuk.
"Mungkin dia lagi banyak pekerjaan, dia kan sudah cuti beberap hari," pikir Adiba.
Ia memilih untuk mengambil air wudhu untuk shalat isya sambil menunggu kepulangan Arsen.
Adiba mengucapkan, ”Assalamu alaikum wa rahmatullah wa barakatuh” ketika menoleh ke kanan dan ke kiri untuk mengakhir rukun shalatnya.
__ADS_1
Selesai dengan rutinitasnya wajib lima waktu untuk lebih mendekatkan diri pada sangat pemberi kehidupan ia memilih menunggu Arsen di ruang keluarga. Ia duduk di sofa bukan untuk menonton sinema, ia merasa jenuh karena sudah seharian memandang televisi itu yang membuat matanya perih.
Ia melafalkan surat al mulk, yang bagus ia lafalkan sebelum tidur yang memberi banyak manfaat. Yang dapat pengampunan dosanya dan .endapat Syafaat pada hari khiamat juga terhindari dari siksa kubur dan neraka.
"tabarakallazi biyadihil-mulku wa huwa 'ala kulli syai`ing qadir
allazi khalaqal-mauta wal-ayata liyabluwakum ayyukum asanu 'amala, wa huwal-'azizul-gafur allazi khalaqa sab'a samawatin ibaqa, ma tara fi khalqir-ramani min tafawut, farji'il-basara hal tara min futur," ucap Adiba.
Arsen yang sengaja membuka pintu pelan itu melihat wanitanya masih terjaga, ia sengaja mengendap-endap berjalan menuju sofa ruang tamu. Ia duduk memperhatikan dengan seksama dengan mendengar suara merdu wanita yang sangat ia cintai.
"Qul ara`aitum in ahlakaniyallhu wa mam ma'iya au raiman fa may yujrul-kfirna min 'abin alm qul huwar-ramnu mann bih wa 'alaihi tawakkaln, fa sata'lamna man huwa f allim mubn qul ara`aitum in abaa ma`ukum gauran fa may ya`tkum bima`im ma'in," lafal Adiba dengan ayat terakhirnya.
Seperti mendengar suara masuk, ia segera menyalakan lampu ruang tamu untuk melihat apakah orang yang ia tunggu-tunggu telah datang.
__ADS_1
"Sen, kamu kok duduk disitu. Sejak kapan kamu pulang?" selidik Adiba yang tak mendengar suara salam ataupun suata pintu terbuka. Apa mungkin karena ia asyik dengan dirinya sendiri hingga tidak menyadari sang pemilik rumah telah datang.
Arsen berjalan mendekati Adiba yang berdiri tak jauh darinya sambil mengulas senyum bahagia.
"Sejak kamu melantunan surat Al-Mulk," ucap Arsen. "Cantik, sholeha, itulah kamu, wahai calon istriku," puji Arsen tak hentinya menatap wanitanya.
Adiba yang mendapatkan pujian dari Arsen tiba-tiba kedua pipinya merah padam, jantungnya mulai berdetak tak beraturan. Ia mencoba mengambil nafas berulang kali kemudian mengeluarkannya untuk menetralkannya agar ia tidak semakin gugup.
"Kamu kok belum tidur?" tanya Arsen dengan menempelkan dagunya dibahu Adiba yang membuat sang empu terlonjak kaget.
"Sen, jangan begitu! Sudah cepat makan malam, setelah itu tidur. Pasti kamu lelah," tutur Adiba dengan menyingkirkan kepala Arsen dari bahunya.
"Baik calon istriku, aku senang setiap aku pulang akan mendapatkan sambutan hangat darimu," ucap Arsen dengan menoel pipi Adiba.
__ADS_1
Bersambung..
Ingin dengar suara merdu Adiba yang buat meleleh Arsen yuk kepoin di ig : Duwi Sukema