Wedding Agreement

Wedding Agreement
88. Pemimpin


__ADS_3

Asha segera menghentikan langkah kakinya dengan memasukkan kedua kakinya kedalam saku jas yang ia kenakan. Ia masih menatap suaminya yang berjalan mengitari mobil untuk segera masuk ke dalam.


Ega yang berada di dalam mobinya segera memasang sabuk pengaman pada tubuhnya, melirik kesamping kursi penumpang belum mendapati istrinya ia segera menurunkan kaca mobilnya dengan sedikit berteriak memanggilnya namun dua kali ia memanggilnya tak kunjung merespon ia segera menekan klakson mobilnya.


Asha pun semakin berjalan mundur menjauh dari mobil suaminya, ia merasa terhina jika sang suami meneriakinya lalu membunyikan klaksonnya tersebut. Ega yang berada di dalam mobil memukul kemudi setirnya dengan cukup keras. Ia sudah tidak ada banyak waktu lagi tinggal satu jam waktu yang tersisa itu pun hanya untuk perjalanan menuju restoran tempat ia akan bertemu dengan klien.


Ega dengan sedikit menahan emosinya segera turun menghampiri istrinya yang entah apa yang dipikirkan hingga tak segera menyusulnya masuk. Ia tahu jika emosi istrinya sedang tidak stabil karena ia sedang mestruasi saat ini. Ia akhirnya mengalah dengan keadaan walaupun taruhannya adalah kontrak besar dengan perusahaan ternama dari luar jawa.


Ega segera berlari, lalu mencengkeram tangan istrinya dari belakang hingga posisi Asha seketika membalikkan tubuhnya menatap suaminya yang telah berubah menjadi lebih datar.


"Masuk ke mobil! Kamu mau apa?!" tegas Ega.


Mas Ega kalau marah menyeramkan juga ya. Kenapa bulu kuduku jadi merinding begini. Apa aslinya Mas Ega seperti ini di depan semua orang. Sungguh baru menyadari sikap dingin dan datar dia.


Asha yang merasa takut pun melangkahkan kakinya dengan segera duduk diam di kursi penumpang dengan mulut yang tidak berhenti mencibir kesal suaminya.


Ega segera memakai sabuk pengaman lalu dengan cepat menyalakan mesin mobilnya melaju dengan kecepatan tinggi meninggalkan butik menuju restoran dimana ia akan mengadakan pertemuan dengan salah satu kliennya. Tidak butuh waktu lama karena memang ia mengemudi mobilnya dengan kecepatan di atas rata-rata sampai dengan tepat waktu.


Bagi Ega seorang pemimpin harus memiliki manajemen waktu yang baik harus mengatur segala keperluan Anda lewat manajemen waktu yang dibuatnya. Dan hal itulah, sikap yang harus dimiliki pula oleh seorang pemimpin salah satunya selain selalu menghargai orang orang lain, memiliki sikap kreatif, selalu bersikap tenang ketika masalah menerpa walapun dalam keadaan tertekan, selalu bersikap rendah hati dan jujur, yang terakhir ialah ia harus mampu menjadi dirinya sendiri itulah kunci kesuksesan ia di usia muda.

__ADS_1


Asha yang melihat suaminya turun segera mengikuti langkah kakinya hingga mereka sampai di ruang vip yang masih kosong tidak ada satu pun orang di sana.


Ega duduk dengan menghembuskan nafas pelan sambil melihat pergelangan jam ditangannya. Masih ada waktu lima belas menit lagi, entah bagaimana jika nanti aku terlambat datang gumannya di dalam hati.


Mas Ega benar-benar marah denganku dari tadi dia tidak mau bicara satu kata pun. Apa rapat yang akan ia lakukan sangatlah penting hingga ia semarah ini denganku. Aku harus berbuat apa? Nanti saat klien dia datang bagaimana aku menyapanya? Aku bicara apa? Kini dibenaknya mulai timbul berbagai pertanyaan agar tidak membuat suaminya malu di depan rekan bisnisnya.


"Mas Ega kamu marah denganku ya?" tanya Asha dengan menyentuh tangan suaminya yang ada di atas meja.


"Tidak, buat apa aku marah."


"Kalau tidak marah kenapa sikap kamu datar?! Lalu kenapa juga naik mobilnya juga ugal-ugalan membuat jantungku mau copot saja. Untung aku tidak memiliki riwayat sakit jantung. Aku baru tahu kamu bersikap dingin seperti ini, Mas. Apa aku membuat kesalahan yang sangat besar ya hingga membuat kamu begini?"


"Pemimpin itu harus bisa menjadi pemimpin ideal dan baik harus memiliki sikap-sikap yang baik dan khas. Karena pemimpin akan menjadi sorotan dan contoh untuk anak buahnya. Pemimpin harus bisa mengatur segala sesuatu lewat manajemen waktu terbaiknya. Dimana Ia akan menempatkan seseorang yang mumpuni untuk bisa membantu dan memastikan manajemen waktu tersebut berjalan dengan baik. Apabila seorang pemimpin tidak memiliki kemampuan untuk manajemen waktu dengan baik, maka bisa dipastikan proses kinerja pun akan terhambat. Sekilas memang tugas pemimpin itu mudah yaitu hanya datang ke sebuah kantor atau lembaga untuk mengecek segala pekerjaan yang telah dilakukan oleh anak buahnya. Atau hanya datang ke kantor di waktu tertentu dan banyak melakuakn perjalanan dinas yang kerap membuat bawahannya merasa iri. Namun, dibalik asumsi semua itu seorang pemimpin adalah sumber utama yang karena itu, untuk menjadi pemimpin bukanlah sebuah perkara yang mudah, dipundaknya telah disematkan tanggung jawab yang besar sehingga bisa mengatur sesuatu dengan baik. Para ahli psikolog sepakat bahwasannya pemimpin yang murni itu lahir dari seseorang yang memiliki karakter koleris. Dimana Ia ditakdirkan memiliki karakter tegas dan mampu memimpin. Selain itu, sifat pemimpin ini lahir dari lingkungannya yang membentuknya sehingga sifat tersebut muncul dan menjadi karakter yang melekat pada dirinya.


adalah kunci pertama kesuksesan ia paling tidak suka dengan keterlambatan," jelas Ega.


"Begitu ya Mas, maaf ya aku sudah buruk sangka padamu. Mas, aku nanti harus bicara apa pada klien kamu. Apa aku diam saja tapi kamukan memperkenalkan aku sebagai sekrektaris kamu," tanya Asha.


"Kata siapa aku akan memperkenalkan kamu sebagai sekretaris aku membawa kamu kesini sebagai istriku."

__ADS_1


Maafkan aku, mas. Aku sudah su'udzon terhadap kamu. Harusnya aku tidak labil seperti tadi batin Asha.


"Benar begitu?!"


"Iya, kamu cukup tenang saja. Duduk manis dan tersenyum ramah nanti Tuan Alex bersama istrinya jadi kamu bisa mengobrol dengannya," jelas Ega.


Setelah sepuluh menit kemudian, Tuan Alex dan istrinya datang menyapanya, dengan senyum ramah dengan sedikit membungkukkan badannya lalu mengulurkan tangan untuk saling berjabat tangan.


"Tuan Albram, maaf membuat kalian menunggu! Karena kami tidak bisa mengemudi dengan cepat, istriku sedang hamil muda," jelas Tuan Alex.


"Tidak masalah, kami juga baru saja sampai. Silahkan duduk, Tuan Alex, Nyonya Rara," sapa Ega.


"Siapa wanita cantik ini Tuan Albram, sepertinya wajahnya tidak asing," kata Alex mencoba mengingat-ingatnya. "Apa ini Nabila tapi kok tidak pakai hijab," ucapnya.


"Mas Alex, ya bukan ah. Tidak mungkin Mbak Bila disini dia kan lagi di Jakarta aku saja baru kirim pesan dengannya," sahut Rara.


"Nabila?! Nabila siapa? Apa Mbak Bila yang suaminya Mas Kenzo?" tanya Asha menyelidik.


Bersambung...

__ADS_1


__ADS_2