Wedding Agreement

Wedding Agreement
Bubur Ayam


__ADS_3

“ El, boleh aku minta sesuatu ?” tanya Aryan kala menjadikan tubuhnya sebagai tumpuan Nara yang kini berbaring di atas kedua kakinya. 


“ Jangan minta apapun, aku tidak punya apa-apa, Ar.”


Nara kini menyandarkan punggungnya di sebuah bantal yang diletakkan di atas paha Aryan, hingga kini Nara memainkan jemarinya dengan kurang ajar menyusur dada bidang suaminya yang tertutup kaos tipis dengan bekas keringat yang malah diendus sampai ia memejam keenakan. 


“ Aku hanya minta sebuah janji. Kalau di kemudian hari ada keluhan di kehamilanmu, jangan lagi menyalahkan anak ini, mengerti?”


Aryan memindahkan tangan Nara yang bermain di tubuhnya ke perut hamilnya saat ini. Pria itu ingin mereka merasakan sama-sama keberadaan calon anak mereka yang berawal dari sebuah kesalahan ayahnya dan ketidaksadaran ibunya. 


“ El, aku sudah cukup bersalah seumur hidup karena merusak hidupmu. Anak ini juga tidak meminta hadir di tubuh siapapun. Dia ada karena kesalahanku, jadi tolong jangan jadikan anak ini pelampiasan, bisa ?”


Nara mengangguk dengan penyesalannya. Kedua sejoli yang bahkan sama-sama belum mandi itu masih nyaman berdua setelah saling emosi dalam pertengkaran kecil yang mewarnai rumah tangga baru mereka. 


Tok . tok. tok 


“ Ya !” 


Wajah bik Ina muncul dari balik pintu.” Permisi, Nyonya Muda. Matahari di luar sedang bagus. Mungkin ingin berjalan-jalan untuk berjemur. Sinar pagi sangat bagus untuk ibu hamil. Setelah itu bibi siapkan supnya untuk sarapan.” 


Nara langsung mendudukan dirinya lantaran malu dengan bik Ina meski wanita itu sudah dianggap orang tua sendiri oleh Aryan. Nay menoleh pada suaminya yang kemudian mengangguk padanya. 


“ Mau aku temani ?” 


Nara mengangguk malu-malu hingga pria mana yang kuat melihat wanita yang tersipu seperti ini. 


Kini mereka berdua untuk pertama kalinya semenjak tinggal bersama keluar menyusuri halaman gedung di sisi jogging track dengan pemandangan teduh di samping kanan dan kirinya. 


Nara yang hanya menambahkan outer cardigan rajut untuk menutup lengannya yang dingin kini masih tersipu saat Aryan yang bahkan tak sungkan menautkan jemari mereka. 


“ Buka saja outernya, biar kulitmu terkena sinar matahari langsung.” 


Nayara menurut lalu membiarkan Aryan melepas baju luarnya. Masih dengan kostum daster lucunya , Nara kini menyiapkan ikat rambut untuk menguncir rambutnya, Namun lagi-lagi Aryan mengambilnya.” Sini , aku ikat rambutmu. Hadap ke sana.”


Aryan memutar badan Nara hingga memunggunginya. Dengan keterampilan tangan ala kadarnya, Aryan menarik dan menyatukan rambut Nara yang panjang sepunggung itu di tangan kirinya lalu menautkan ikat rmabut dengan model sebisanya. 


Cup !


Tanpa berdosa Aryan mencuri kecupan di leher belakang Nara yang sensitif hingga wanita itu refleks membalikkan tubuh lalu mengusap tengkuknya. Dilihatnya wajah Aryan yang menyebalkan dengan senyum nakalnya. 


“ Aryan ! Banyak orang, Malu !” 


“ Ckk ! Kita kan bukan orang pacaran, untuk apa malu,” jawab Aryan cuek lalu kembali menggandeng tangan istrinya hanya untuk sekedar berjalan kaki meraup sinar matahari sebanyak -banyaknya. 


‘ Pacaran ?’ ulang Nara dalam hatinya saat merasa asing dengan kosa kata itu karena dirinya dan Aryan memang tidak melalui fase itu dalam hubungan mereka. 


Hingga tanpa terasa mereka sudah berkeliling lumayan jauh karena gedung apartemen dengan tiga tower ini memang memiliki halaman yang super luas dan asri. Sampai di salah satu sisi halaman yang berbatasan dengan jalan raya dan bersekat pagar besi yang tinggi, langkah Nara terhenti. 


“ Ada apa ?” Aryan melempar pandangan pada apa yang dilihat oleh istrinya.” Mau ?” tanyanya kemudian saat Nara menggigit bibirnya sendiri saat melihat gerobak bubur ayam yang mangkal di trotoar dekat kediaman mereka. 


Dengan malu-malu Nara pun mengangguk karena Aryan ini seolah memiliki kemampuan untuk mambaca pikirannya. “ Tunggu di sini, aku belikan. Atau kamu naik dulu saja.” 


“ Tidak mau, aku mau makan di situ langsung !” tegas Nara hingga membuat Aryan jelas khawatir. 


“ Nara , apa kamu tahu penjualnya mencuci mangkoknya itu dengan bersih? Lihat debu-debu bahkan beterbangan di jalan situ.”


Nara sudah mengerucutkan bibir dan menekuk wajahnya dengan sikap Aryan yang menurutnya berlebihan . “ Dari dulu aku makan di pinggir jalan juga hari ini masih hidup !” 


Aryan membuang napas kasar, ia mengaku kalah dengan keras kepalanya Nara yang tak bisa dibujuk lagi. Dan saat ini Nara sudah duduk manis di sebuah kursi palstik warung tenda bubur ayam yang pembelinya lumayan ramai pagi ini. 


“ Bang, bubur satu . Makan di sini ! Saya gak mau antri, saya bayar sepuluh kali lipat. Istri saya lagi hamil , buruan . Gak pake lama !” 


Sontak ucapan pembeli yang arogan ini menjadi pusat perhatian banyak orang yang juga sedang mengantri. Sampai kemudian pandangan mereka tertuju pada sosok Aryan yang begitu tampan meski hanya mengenakan kaos bekas olaraganya. 

__ADS_1


HIngga Nara pun tak luput menjadi perhatian sampai-sampai Nara kini menutup wajahnya lalu menunduk seolah tidak mengenal sosok pria yang kini berkacak pinggang minta menjadi pembeli nomor satu. 


Suara kasak kusuk jelas terdengar di telinga Nara yang membicarakan mereka. ingin sakali Nara kabur dan menghilang dari tempat ini karena Aryan sungguh menggunakan arogansinya di tempat yang tidak tepat. 


“ Bubur sudah siap ! Makan cepat keburu banyak debu yang beterbangan kemari.” 


“ Aryan !” Nara melotot lalu menggeser bola matanya ke arah orang-orang yang melihat mereka. 


“ Kenapa sih ? Ayo, buka mulut. Aku suapi biar cepat.” 


“ Aku makan sendiri, sudah diam !" ujar Nara yang malah kesal sendiri dengan suaminya yang sudah rela meruntuhkan rasa malu demi mendapat pelayanan lebih dulu dari lainnya. 


Satu porsi bubur ayam lengkap dengan tiga tusuk toping telur dan jeroan kini ada di depan mata. Aryan sudah memposisikan dirinya berdiri bak menghalau serbuan debu  yang berasal dari kendaraan yang berlalu lalang di jalanan. 


Sementara itu Nara malah asik menyendok buburnya tanpa dosa .” Kamu gak makan?” Nara menoleh pada suaminya yang menggeleng risih. Sejak menjadi suami seorang wanita sederhana seperti Nara, Aryan kini harus terbiasa dengan makanan gerobak yang disukai istrinya. 


Padahal selama ini ia harus menjaga semua asupannya sehigienis mungkin.


“ Ehh, banyak sekali itu sambelnya. Kamu biasa sakit perut !” cegah Aryan saat Nara menuang sambal tidak lagi dengan sendok kecil melainkan dituang dari wadah sambalnya langsung. 


Nara sampai kembali menutup wajahnya dengan satu tangan sementara ia kini makan dengan menahan malu. Setelah menghabiskan separuh porsi, Nara malah mengelus perutnya kekenyangan. Ia mendongak ke arah suaminya dengan wajah penuh permohonan. 


“ Aryan,” panggil Nara begitu mesra dengan senyum dan kedipan mata yang ada maunya.


“ Aku sudah kenyang, kamu mau habiskan?”


“ Kalau tidak habis ya sudah, taruh saja, aku bayar dulu.” 


“ Jangan !” cegah Nara menarik pergelangan tangan suaminya dan memintanya duduk dengan paksa. “ Jangan membuang makanan, sayang mubazir.”


Nara kemudian memaksa Aryan yang melihat bubur ayam itu tak lebih adalah semangkok bakteri jalanan yang berkumpul di dalamnya. Suapan demi suapan dipaksa Nara masuk ke mulut Aryan dan memastikannya turun sampai lambung. 


“ Gimana? Enak kan ?”


“ Berapa, Bang ?”


 “ Dua puluh ribu.”


Aryan segera memberikan uang pecahan lima puluh ribu sebanyak empat  lembar kepada penjual bubur itu hingga kembali menimbulkan decak kagum dari pembeli lainnya. 


“ Wah, mau dong punya suami seperti itu. Udah ganteng, kaya lagi. Nyari dimana , ya ?” celetuk salah seorang pembeli hingga membuat Nara menoleh dengan cepat lalu melempar pandangan bengisnya.


“ Suami saya itu, Bu !” 


Aryan menahan tawanya lalu melepaskannya dengan terbahak begitu mereka kini sampai di lift menuju unit penthouse di lantai paling atas gedung ini. 


“ Masa kamu cemburu sama ibu-ibu itu, Nay !” Aryan sampai tidak berhenti tertawa mengingat Nara yang begitu judesnya memelototi orang lain yang memuji dirinya. 


“ Habisnya sudah emak-emak masih aja ganjen !”


Saat masuk ke dalam rumah, mereka sudah disambut aroma sup iga yang dimasak bik Ina pagi ini.  “ Tuan Muda dan Nyonya, saya sudah siapkan sarapannya, Nyonya dan Tuan bisa mandi dulu. “


“ Eemm, saya sudah —”


“ Oke, Bik Ina. Kami mandi dulu,” sahut Aryan memotong ucapan Nara lalu menggiringnya memasuki kamar.” Ssstt, jangan buat bik Ina kecewa, dia sudah capek masak buat kita,” bisik Aryan kemudian. 


Namun Nara tiba-tiba menghentikan langkahnya saat pandangannya menyapu ke arah meja kerjanya yang bersih .


“ Lho, kok meja kerjaku kosong?” 


“ Aku yang bersihkan tadi.” 


“ Kenapa!” ketus Nara yang wajahnya sudah memerah menahan amarah. Ia melepaskan tautan tangan suaminya lalu berjalan menuju meja kerjanya yang super luas. Bahkan baju setengah jadi yang menempel di tubuh manekin juga dibabat habis oleh suaminya.

__ADS_1


“ Maksud kamu apa sih, Ar?”


“ Masuk kamar dulu, aku jelaskan .”


“ Gak mau ! Kamu kan yang memintaku sekolah mode ?Lalu kenapa sekarang saat aku sedang menikmatinya kamu malah membuang semuanya?”


Nara kembali emosi dan hampir menangis putus asa karena usahanya kemarin sia-sia sampai ia begadang tengah malam. 


“ El, malu sama bik Ina. Ayo, kita bicara di kamar.” 


Dengan wajah memerah, Nara yang baru saja berbaikan dengan suaminya itu kini kembali jengkel sampai tak ingin mendengarkan apapun dari bibir suaminya .


“ Kalau kamu tidak ingin aku sibuk tidak usah memberikan apapun, Aryan !” 


Nara sudah menampik tangan Aryan yang ingin memeluknya. 


“ Hey, aku tadi bilang apa? Jangan mudah menangis, oke ?”


“ Kamu yang mulai !” bentak Nara yang jelas kesal melihat Aryan yang dengan sembarangan menyingkirkan barang-barang yang sudah dia letakkan dengan hati-hati pada tempatnya. 


“ Oke, aku minta maaf, setelah ini aku kembalikan lagi ke tempat semula. Jangan marah, ya.” 


Aryan mengecupi wajah Nara dari belakang dengan harapan bisa meredam amarah istrinya. Setidaknya hal itu yang biasa dilakukan para kaum pria jika istri sudah marah. 


“ El, dengar . Hari ini aku aturkan pengajar untukmu secara online saja, jadi kamu tidak akan ketinggalan materi, oke. Kerjakan tugas hanya sampai sore, setelah malam waktunya merebahkan diri saja.” 


Nara mendengus jengkel lalu mengibaskan lengan Aryan yang melingkar di tubuhnya.


“ Terserah kamu, lah ! Toh semua yang aku jalani di sini semua sudah di bawah kendalimu, kan?” ucap Nara penuh dengan nada sarkas hingga membuat Aryan menjadi serba salah. 


Aryan membiarkan istrinya mandi sementara dirinya kini kelabakan mengembalikan semua barang milik Nara yang tadinya sudah tertata rapi. Satu persatu benda hampir tak ia tahu apa dan bagaimana letaknya tadi. 


Hingga Nara sudah mandi dan berganti pakaian pun, Aryan masih berkutat dengan wajah bingung lalu menoleh ke arah Nara yang meliriknya jengkel. Nara memilih menghampiri bik Ina di meja makan meski Aryan kini nampak memelas karena menyerah tak bisa mengembalikan semua ke tempat semula. Bik Ina sampai menahan wa melihat Aryan yang memberinya kode untuk meminta tolong. 


Akhirnya setelah mendapat kode balasan dari bik Ina, Aryan akhirnya bergegas mandi karena ia pun sudah kesiangan bekerja pagi ini. 


“ Silahkan susunya, Nyonya muda. Bagaimana tadi olah raganya, lebih enak di tubuh kan ?” 


“ Lumayan , Bik. Bisa menghasilkan keringat. Sepertinya saya sudah lupa bagaimana rasanya bergerak cepat sampai berkeringat.” 


“ Itu karena sekarang Nyonya membawa adik bayi. Jalan pagi setiap hari menyehatkan, lho. Olah raga gratis !” 


“ Iya juga, ya,” sahut Nara berpikir ada benarnya juga jika tiap pagi ia bisa keluar hanya untuk sekedar berjalan pagi daripada bergumul di tempat tidur tidak jelas. 


Bik Ina sudah menyuguhkan semangkuk sup iga yang masih mengepul dengan aroma yang menggugah selera. Nara bahkan lupa kalau ia sudah sarapan setengah porsi bubur ayam tadi. 


“ Silahkan, Nyonya. Oh ya, ada yang bibi mau sampaikan. Kemungkinan minggu depan bibi akan cuti sebentar. Anak bibi akan pulang liburan.” 


“ Oh, Silahkan, Bik. Pasti Bik Ina sudah tidak sabar ya bertemu putranya.”


Bik Ina mengambil duduk di samping Nara yang menyendok supnya.” Biasanya bibi cuti mah cuti saja. Tapi saat ini ada Nyonya Muda di samping Tuan Aryan. Bibi jadi kepikiran.”


“ Kenapa kepikiran, Bik?” Nara masih belum mengerti dengan kekhawatiran bik Ina. 


“ Nanti siapa yang melayani makanan Nyonya. Apa bibi pesankan dari layanan gedung saja, bagaimana ? Atau mau tinggal di hotel, mungkin ? “ 


“ Kenapa sampai segitunya, sih ? Kalau hanya masak saya bisa, Bik. Bersih bersih rumah saya juga sudah biasa.” 


“ Tidak ada bersih-bersih rumah !”


.


...****************...

__ADS_1


__ADS_2