
Asha yang mendengar permintaan wanita hamil disampingnya hanya bisa bengong. Rasanya sesak di dada ia tidak mau suaminya di sentuh oleh wanita lain apalagi meminta cium.
Ega yang mendengar permintaan konyol itu memberikan tatapan sinis, ia tidak menyangka jika wanita hamil tua itu memanfaatkan keadaan pasti dia akan beralasan jika itu karena ngidam bawaan bayinya.
"Mbak, boleh ya?" rajuk Ela.
"Maaf, suamiku hanya milikku. Tidak boleh ada yang menyentuhnya lagi pula kalian bukan muhrim. Itu akan meninggalkan dosa bagi kalian. Maaf ya bu," jawab Asha tersenyum kecut.
"Tak apa, lagi pula aku juga sudah ngak ingin lagi liat wajah kalian," ketusnya lalu pergi meninggalkan Asha dan Ega.
Asha yang melihat kepergian wanita yang baru saja ia kenal hanya bisa mengumpat, "Dasar wanita aneh, emang suamiku apa? Cium-cium, sono minta cium tukang becak."
"Kok bawa-bawa tukang becak. Sepertinya ada yang cemburu ya," ledek Ega.
Ada orang sebel masih saja meledek awas kamu Mas batin Asha dengan raut wajah cemberut.
"Seneng ya kamu? Dapat cium dari ibu-ibu tadi? Masih kurang jatah dariku? Ha," melotot Asha.
__ADS_1
Ega hanya tersenyum.
"Iya kan kamu ngarep jika ibu Ela tadi mencium kamu. Dasar laki-laki mesum, tidak cukup satu wanita," hardik Asha kini mencubit pinggang Ega dengan cukup keras sebagai hukuman.
"Sayang sakit tahu. Siapa yang berharap? Jika yang cium kamu, Mas mau kalau wanita tadi ogah, ilfil aku lihatnya saja. Sudah jangan emosi, tidak baik terhadap janinmu," nasihat Ega dengan mengusap perut datar istrinya.
Mereka kesal berdebat akhirnya saling diam menunggu nomer antrian panggil untuk melakukan periksa.
"Nyonya Ashamum," panggil perawat.
Ega membantu istrinya berdiri lalu merangkul bahu sang istri masuk ke dalam. Sampai di dalam Ega pun membantu sang istri duduk, ia memilih berdiri disamping istrinya dengan posisi masih sama merangkulkan salah satu tanganya dibahunya dengan tangan kanannya menggenggam jari-jemarinya.
"Ada yang bisa kami bantu," ucap dokter Nisa melihat catatan medis Asha.
"Begini dokter Nisa istriku sepertinya hamil," ucap Ega langsung ke intinya. "Aku kesini ingin memastikannya benar tidak dugaanku barusan, Beberapa jam yang lalu dia pingsan tapi semuanya normal," ucapnya lagi.
Sudah tahu hamil kenapa juga harus mengantarnya periksa kesini. Mengunakan test pack juga bisa, pasien sok tahu sekali batinnya. Tapi kenapa suaranya tidak asing ya seperti aku kenal. Ia juga langsung memanggil namaku.
__ADS_1
Dokter Nisa segera meletakan penanya lalu menatap pasiennya.
"Dokter Al."
Dokter Nisa tidak percaya jika ia bisa memeriksa secara langsung sang tuan yang memiliki rumah sakit ini. Baginya itu sebuah kehormatan. Ia menyesal telah mengumpatnya.
"Tolong, nyonya Asha berbaring disana ya," ucap Dokter Nisa.
Asha segera berbaring di ranjang pasien yang berhadapan dengan sebuah layar yang berukuran 32 in. Yang akan menghubungkan isi di dalam rahimnya.
"Maaf ya, nyonya aku buka bajunya," ucap ramah dokter Nisa menutupi bagian bawah tubuh Asha dengan selimut kemudian membuka kancing kemeja Asha.
Ega sengaja memilih pemeriksaan siang karena dokter spesialis obgyn yang bertugas adalah wanita jika ia datang sore hari adalah waktu shift dokter Yudi, ia tidak ingin wanitanya disentuh laki-laki lain.
Asha kini mulai takut ia memilih memejamkan matanya. Ia tidak sanggup melihat hasil pemeriksaannya akan mengecewakan.
Bersambung..
__ADS_1