
Yuda melihat sang bos dengan tatapan kosong setelah ia menjelaskan keadaan Adiba, ia semakin penasaran apa hubungan si bos dengan ob baru itu.
"Tuan gimana kopinya?" tanya Yuda.
"Kamu buatkan, pakai gula dikit," ucap Arsen. Ia tetap meminta kopi agar asistennya tidak curiga.
"Sip tuan, apa ada lagi?"
"Tidak.Tolong hari ini kosongkan jadwalku, aku mau pulang," ucap Arsen. Sebaiknya aku mengunjungi Diba untuk minta maaf padanya tapi ini terlalu cepat atau tidak ya pikirnya.
"Tuan apa sedang sakit?"
"Tidak, aku hanya sedikit pusing saja mungkin karena banyak lembur kemarin-kemarin jadi begini. Kamu handle semua urusan kantor, aku akan pulang sekarang, kopinya ngak jadi aja maaf sudah merepotkan kamu," lirih Arsen. Ia berdiri menyambar kunci mobilnya lalu keluar dari ruangannya.
Arsen segera membelah padatnya kota, ia melajukan mobil sport ke area pinggiran kota di mana Adiba tinggal. Ia memakirkan mobilnya sedikit jauh dari kontrakan Diba, pandangan matanya menyapu ke seluruh penjuru arah mencari sosok yang ia cari. Seketika pandangan matanya terhenti ketika melihat Adiba dengan memakai hijab syar'i yang menempel di kepalanya dengan sibuk meletangkan beberapa pakaian yang ia jemur di halaman rumahnya berserta ibu-ibu paruh baya dengan aktifitas yang sama.
__ADS_1
Suara ketukan kaca jendela mobilnya membuyarkan pandangan matanya. Ia segera menurunkan kaca mobilnya.
"Hai, kalau parkir mobil jangan disini?!" hardik bapak-bapak.
"Maaf hanya sebentar," lirih Arsen.
"Sebentar kata kamu," ucapnya dengan suara kasar. " Sudah sering aku perhatikan mobil kamu selalu mengintai kontrak disini, membuat resah penduduk kami, sebenarnya apa yang kamu lakukan?" hardik bapak-bapak itu dengan mencengkeram kerah kemeja yang dikenakan Arsen.
"Nak, disana ada apa kok seperti ada keributan," tanya ibu Umi kepada Adiba.
"Lihat itu nak, pak Usup seperti mau berkelahi. Coba kamu tegur, dia kan hanya mau mendengar ucapan kamu yang lain mah lewat," tutur ibu Umi.
"Ngak ah, bu. Paling juga rentenir tukang nagih hutang, nanti aku yang disuruh bayar hutang kalau menengahi mereka aku sendiri aja hutannya segunung belum lunas-lunas," ketus Adiba tetap melanjutkan aktifitasnya.
Sedangkan di tempat Arsen telah banyak di kerumuni orang-orang yang melihat pertikaian antara bang Usup perman kampung vs Arsen. Mereka bersorak-sorak mendukung idolanya, banyak ibu-ibu yang mendukung Arsen kerena wajah yang rupawan.
__ADS_1
Ibu Umi yang mendengar suara riuk ibu-ibu yang bersorak bahagia bukan memisahkan membuat penasaran ingin melihatnya. Ia segera menarik Adiba untuk melihat dari dekat.
"Bu, buat apa kita lihat perkelahian mereka? Lebih baik kita lanjut jemur pakaian keburu panas nanti," ucap Adiba.
"Kamu itu nak, terlalu cuek dengan lingkungan jadi ngak tahu gosip," ledek ibu Umi.
"Itu ghibah nantinya bu, lebih baik kita ngak usah urusin orang lain bu ngak baik. Aku aja mikirin urusanku sendiri sudah pusing," ketus Adiba.
Ibu Umi segera menyikap kerumunan ibu-ibu dan para gadis-gadis dengan cepat ia melihat perkelahian dua laki-laki itu. Saat melihat rentenir matanya mengangga takjub akan ketampannya.
"Nak, lihat itu tampan sekali," puji Ibu Umi dengan mencubit lengan Diba agar melihat ke depan.
Adiba meringis menahan sakitnya dengan mengusap pelan.
"Nak, lihat itu tampan sekali kayak oppa korea," imbuhnya lagi. Ia segera mengangkat wajah Adiba menatap rentenir itu.
__ADS_1
Astagfirulallah batin Adiba. Itu kan Adelio, kok bisa berkelahi dengan bang Usup. Ia segera berlari memisahkan kedua orang yang ia kenal saat ia ingin memisahkan tanpa sengaja bogeman Arsen mengenai wajah Adiba hingga sudut bibirnya mengeluarkan darah segar.