Wedding Agreement

Wedding Agreement
Siapa dia ?


__ADS_3

Nara tengah menikmati banyak sekali cemilan sehat yang diberikan Oma untuknya saat Aryan kemudian melesakkan tubuhnya menempel ke tubuh istrinya.


“ El, apa yang Opa tadi bicarakan denganmu?” pancing Aryan kala mereka kini bersantai di ruang tengah dan Nara melihat tontonan televisi namun tak seberapa memperhatikan. Wanita itu malah asik melihat video fashion show dari event Jakarta Fashion Week tahun lalu dari ponselnya.


“ Sebuah nasehat,” jawab Nara santai sambil memanjangkan kakinya di antara bibir sofa dengan meja di depannya. 


“ Nasehat apa ? Boleh tahu?” Aryan sudah mendongak membaca raut wajah Nara yang dipandangnya seperti ada perubahan.


“ Nasehat untuk menjadi wanita kuat,” jawab Nara asal sembari terus menikmati makanannya.


“ Aku pikir kamu sudah jadi wanita yang kuat, El. Kemarilah, jangan menggantung kakimu di meja.”


Aryan menangkup kedua kaki Nara untuk dipindahkan bergeser ke atas pangkuannya saat ini. Dan Nara pun dengan tegas menampik lalu menurunkan kakinya.


“ Mulai hari ini aku akan jadi wanita yang lebih kuat. Belajar dari ibuku, puluhan tahun membesarkanku seorang diri tanpa seorang suami di sampingnya. Berjuang tanpa bergantung pada siapapun, aku juga harus bisa lebih dari itu.” 


Aryan mengerutkan wajahnya lalu memandang Nara serius. Pria itu lantas tak tahan untuk menjepit dagu istrinya lalu dibawa untuk menghadapnya.


“ Kamu tidak sedang berencana hidup seperti Ibumu kan, El?”


Kedua mata Aryan sudah menyipit tajam padanya. Nara lantas tertegun, karena ia lupa kalau Aryan ini memiliki kemampuan seperti membaca pikiran yang tajam.


“ Aku tidak ada rencana apapun dalam hidupku, Ar. Aku hanya menjalankannya saja dan harus berbesar hati jika suatu hari nanti kehidupan akan membawaku ke situasi yang berbeda, aku harus selalu siap!”


Nara menarik dagunya, menutup kaleng makanannya, lalu memilih beranjak menghindari kejaran Aryan yang pasti akan terus mencecarnya. 


Namun bukan Aryan orangnya jika tidak mendapat jawaban yang diinginkan ia akan terus mengejar sampai dapat. Aryan meraih lengan Nara sampai wanita itu hampir terhuyung.


“ Katakan, apa yang kamu rencanakan ? Kenapa aku menangkap maksud lain dari ucapanmu itu?”


“ Tolong jangan mempersulitku, Aryan. Aku tidak ingin bertengkar. Aku ingin tidur.”


Nara mendesau letih terlebih Aryan kini menatapnya dengan seringai yang menakutkan.


“ Mempersulit katamu? Aku merasa kamu aneh, El. Katakan apa yang terjadi? Apa yang aku tidak ketahui ? Aku juga tidak ingin bertengkar asal kamu mau jujur terhadapku!”


“ Aryan, tolong lepaskan tanganmu, kamu menyakitiku,” pinta Nara karena Aryan hampir mencengkram lengannya sangat erat.


Aryan pun mengangkat tangannya hingga Nara kini mengelus lengannya. Nara yang berusaha menjadi wanita kuat itu pun bingung dan lagi-lagi berperang melawan batinnya sendiri.


“ Aryan , jika kelak di suatu hari nanti terjadi sesuatu dengan kita, tolong maafkan aku.”


Tak sanggup lagi meneruskan ucapannya, Nara segera berbalik pergi dan setengah berlari memasuki kamarnya.


“ El, sebenarnya kamu ini mau bilang apa ?” Aryan pun mengejar dengan langkah besarnya, namun ternyata Nara lebih cepat memasuki kamarnya dan mengunci pintunya rapat.


Nara memerosotkan tubuhnya di tepi tempat tidur lalu menangis sejadinya. Mendengar Aryan yang menggedor pintu kamarnya, perasaan Nara sungguh teriris. Betapa ia sudah terjebak dalam situasi yang sulit saat ini.


“ Tidak, Ar. Jangan mengejarku, tolong !” lirih Nara seraya terisak meratapi nasibnya yang setiap hari harus terombang ambing seperti in,” Aku tidak ingin mencintaimu, Aryan. Jangan sampai mencintaimu, tolong jangan kejar aku seperti ini,” ucap Nara yang tahu Aryan tidak akan mendengarnya dari luar.


Nara hanya tidak ingin terlena. Dunia yang dijalaninya saat ini membuatnya memiliki perasaan terlalu jauh. Nara tidak ingin dibenci oleh siapapun. ia tak sanggup hidup dalam belenggu kebencian seperti ini.


Braakk !

__ADS_1


Aryan menggedor kembali pintu kamar dengan keras hingga Nara membungkam telinganya saat ini. Nara jelas merasakan aura kemarahan karena dirinya jelas sudah menyinggung Aryan dalam ucapannya yang menyiratkan hal yang mungkin akan terjadi di masa depan kelak.


“ El, buka, EL !” 


Teriakan Aryan makin membuat Nara takut. Seringai pria itu sungguh beraroma penindasan yang kuat. Nara merasakan amarah luar biasa dari suara teriakan Aryan yang terus berusaha menggedor pintunya.


Brraakkkk! 


Pintu berhasil terbuka paksa dan Nara yang begitu kaget kini malah meringkuk ketakutan.


“ Bangun, El !” hentak Aryan langsung memegang kedua pundak Nara dan memaksanya berdiri. “ Untuk apa kamu meminta maaf, memangnya apa yang akan terjadi di masa depan, hah?”


Tak peduli Nara akan menolak, Aryan langsung saja mendekapnya dengan hembusan napas yang menderu kasar dan Nara sangat bisa merasakannya. 


Aryan sampai mencengkram tangannya sendiri dibalik pelukan eratnya terhadap Nara yang masih membungkam telinganya. Seperti ada sebuah luapan amarah yang ia simpan untuk ia keluarkan suatu saat nanti.


“ Tidak perlu kamu bilang apapun kalau memang tidak ingin. Apapun yang terjadi tidak akan ada yang bisa mengatur masa depan kita. Aku akan melindungimu, melindungi anak kita. Kamu mengerti !”


...----------------...


“ Kelas hari ini agak siang kan?” tanya Aryan menangkup wajah Nara yang masih tersisa sembab.


Nara pun hanya mengangguk merasakan desiran sentuhan Aryan di wajahnya yang menghangat. 


“ Kalau begitu pagi ini kamu ikut aku ke kantor saja.”


Aryan menundukkan wajah dan melebarkan senyumnya memberi sebuah keyakinan pada Nara untuk tetap menggenggam kepercayaan padanya.


“ Aku malu,” Nara tertunduk tak bisa membayangkan akan jadi apa dia di hadapan banyak orang nanti. 


Pesan Aryan begitu menyiratkan makna mendalam terutama bagi seorang wanita yang pikirannya masih belum mampu mencerna arus kehidupan yang merubah hampir semua segi kehidupannya.


Tak menunggu Nara untuk setuju, kini pria itu menggenggam erat jemari istrinya menuju ke perusahaan yang didirikan olehnya. Di sebuah perusahaan manufaktur otomotif, Aryan yang memang menggemari dunia permotoran sejak kecil itu kini mereka berada. Memilih jalur eksekutif, Nara tetap tidak ingin terlihat ataupun diperlakukan secara berlebihan . Ia ingin tetap menjadi dirinya sendiri.


“ Selamat pagi, Pak Aryan.” 


Aryan hanya mengangguk singkat dengan gaya arogannya seperti biasa, namun tetap menggenggam erat jemari Nara yang dingin.


Betapa jantung Nara tidak berdetak cepat saat beberapa pasang mata menyambut mereka disusul suara kasak-kusuk yang pasti terdengar samar di telinganya.


Nara jelas minder. Seorang Elnara Adhizty yang tadinya hanya pekerja serabutan bahkan pernah menjajal sebagai gadis pemandu karaoke kini dipaksa berdiri mengangkat dagu sebagai Nyonya bos besar. 


“ Nah, El. Sementara kamu duduk saja di sini. Ruangan ini tidak sembarangan orang bisa masuk. Kalau butuh sesuatu minta saja apapun ke sekretarisku yang di depan. Kamu aman di sini. Aku ada meeting sampai nanti jam sebelas setelah itu aku antar kamu ke sekolah.”


Nar terpaksa mengangguk patuh saat ia berada di ruang bertuliskan CEO MH Corporations.


“ CEO? jadi Aryan bos nomor satu di sini?” gumam Nara yang hampir dua bulan menjadi istrinya baru tahu siapa Aryan saat berada di tempat kerjanya.


Di depan meja tempatnya berada saat ini terpampang beberapa majalah bisnis dan buletin dengan wajah Aryan sebagai covernya. Bahkan salah satu majalah sport juga pernah menampilkan sosok Aryan dengan pakaian balapan yang begitu keren. Nara memandangi foto Aryan di cover itu, ia pun sudah pernah melihat suaminya dengan pakaian seperti itu.


“ Heh ! Begitu arogan, menyebalkan ! Mereka tidak tahu saja siapa kamu yang sebenarnya, Brengssek ! mengerikan !” gerutu Nara sebal kala mengingat malam dengan rintik hujan  yang membawa Aryan menciumnya dengan amarah saat itu.


Nara masih duduk di sofa super nyaman seraya menyandarkan punggungnya. Ia bahkan tak berani menyisir apapun di ruangan ini meski Aryan membebaskannya.

__ADS_1


“ Selamat pagi, Ibu. Silahkan.”


Seorang wanita memasuki ruangan dengan satu pria yang membawa sebuah nampan berisi makanan dan minuman untuknya. 


“ Ehm, tidak perlu repot. Maaf . Saya tidak minta.” 


“ Bapak Aryan yang meminta, Ibu ada permintaan lain?” 


“ Owhh , tidak ! Saya hanya ingin duduk saja. Terima kasih .”


Nara kembali merebahkan punggungnya namun tidak nyaman meski ruangan ini begitu sempurna jika ia mau tertidur. Kejadian yang menguras emosinya semalam membuat Nara kurang sekali waktu tidur sebenarnya. 


Hingga kemudian Nara yang bersandar pada bantalan sofa yang empuk itu tertidur untuk sesaat. 


“ El, maaf aku kelupaan !”


Aryann memasuki ruangan dengan membuka pintunya kasar sampai Nara tersentak karena kaget. Pria itu melihat istrinya yang mengerjap bingung. “ Kamu tertidur, El? Owh sorry, aku pasti mengagetkanmu,” Aryan membantu Nara menegakkan tubuhnya.


“ Sudah selesai?”


“ Belum , tapi aku teringat kamu belum minum obat pagi ini. Sebentar.” 


Aryan segera mengambil tasnya dan mengeluarkan sebuah wadah kotak dengan tutup rapat tempatnya meletakkan semua vitamin dan obat istrinya. Aryan yang memang terkenal rapi dan teliti itu bahkan sudah memotong-motong bungkus obat dan mengelompokkannya untuk sekali minum dengan plastik kecil-kecil bertuliskan tanggal dan hari yang sudah ia tandai.


“ Ini , minumlah. Maaf hari ini sampai lupa. Kamu tidak makan apapun dari tadi?” tanya Aryan lantaran melihat deretan makanan yang ia pesan masih tertata rapi belum dibuka sama sekali. 


“ Belum lapar,” ucap Nara lalu mengambil obat itu dan meminum semuanya dalam sekali tegukan.


Sejak hari pertama Nara memeriksakan kandungannya ke dokter , tidak peduli dengan kesibukannya, Aryan selalu yang bertugas mengingatkan dan memberikan vitamin ibu hamil pada istrinya.


“ Tunggu sekitar empat puluh lima menit lagi, lalu aku antar kamu. Kalau bosan, jalan saja ke ruangan ini, El. Duduk di kursiku yang itu juga tidak ada yang berani melarang.”


Nara kembali mengangguk patuh saat Aryan kembali bekerja hingga ia hanya bisa duduk diam di tempat ini. Tidak bisa lagi memejam, Nara memutuskan untuk berdiri dan melihat-lihat. 


Ada sebuah lemari kaca yang menarik perhatian Nara dengan segala bentuk penghargaan yang Aryan pernah terima.” Luar biasa. Berprestasi sekali. Tapi kenapa kamu brengssek, Aryan ?” gumam Nara masih melihat deretan prestasi Aryan yang dipajang di ruangan ini.


Bahkan satu persatu jenis penghargaan itu dibaca Nara dengan lengkap sesekali berdecak kagum.  Kini Nara bergeser duduk di kursi kebesaran Aryan yang begitu nyaman saat Nara mendudukkan dirinya.


“ Pengusaha besar…musuhmu pasti banyak,  Ar. Pantas saja kamu begitu arogan dan tidak bisa hidup dengan tenang.”


Nara mengetukkan jemarinya ke permukaan meja karena tidak tahu apa yang akan dia lakukan seraya menunggu Aryan kembali.


Sebuah map folder yang berada di tumpukkan paling atas kini iseng dilihatnya. Sebuah profil perusahaan dan beberapa hal yang Nara jelas tidak paham tertuang dalam map bersekat banyak plastik itu. Hingga di satu halaman, indera penglihatan Nara menangkap sesuatu yang mencolok karena ada sebuah tanda silang besar di atasnya. 


Kedua mata Nara memicing lalu sebentar mengerjap. Dadanya pun tiba-tiba bergemuruh. 


“ Irfan Hardianto ?” ucapnya mengeja sebuah nama yang sama dengan sang ayah yang selama ini dicarinya.


Nara sampai mendekatkan file itu ke wajahnya lalu kembali memperhatikan foto itu dengan seksama. Wajahnya tidak asing tapi ingatannya hampir buram. Ia mencoba mengingat-ingat wajah itu, apakah sama dengan foto yang diberikan sang ibu dulu. Foto yang sudah usang bahkan kini gambarnya pun sudah tidak jelas. 


Tiba-tiba bibir Nara bergetar. Ditutupnya dengan keras sampul map itu lalu menggesernya kembali ke tempat semula. Nara masih mencoba mengingat wajah ayah kandungannya yang dulu pernah diberikan sang ibu namun pikirannya malah jadi kusut.


” Ada apa ini? siapa dia?”

__ADS_1


.


...****************...


__ADS_2