
Asha menatap ketiga keponakannya secara bergantian lalu menatap kearah kedua kakaknya lalu mendapatkan respon senyuman dari semua orang.
"Mbak, Bang, anak kalian ini lo," manyun Asha.
"Aku ikut tante," rengek mereka bersamaan.
"Biarlah mereka ikut sayang, biar rame kan jadi seru," bilang Ega.
"Mas tapi ini keponakan banyak sekali pasti orang-orang mengira si bocil ini anak kita semua. Sudah larang mereka ikut nanti ribet minta ini itu segala."
"Dek, biarkan mereka ikut. Sekalian kamu belajar momong nanti kalau anak kamu lahir sudah bisa menjaganya," nasihat Bila.
Asha menyilangkan kedua tangannya di dada.
"Mbak, Bang, gimana jika kita semua pergi jalan ke taman bersama-sama," ajak Ega.
Mas Ega ini ngak peka sekali, aku ini pengennya keluar hanya berdua dengannya saja tapi malah mengajak mereka.
__ADS_1
"Boleh juga itu, ini suatu kehormatan tuan Albram mau mentraktir kita makan," sahut Kenzo. "Ayo bang Nathan, jangan tolak tawaran pengantin baru," ucapnya lagi.
"Bentar aku ambil ponsel dulu," sela Nabila.
"Bunda dan papa ayo sekalian ikut kita bersama," ajak Ega.
"Mas kita bukan makan di restoran ini kita mau makan di warteg lo," ucap Asha mengingatkan suaminya dengan bicara agak keras agar saudara dan kakak iparnya mendengar.
"Iya mas tahu, aku paham kalau mereka semua tidak akan malu jika kita mengajak makan di pinggiran jalan asal itu halal."
"Kalian pergilah papa dan bunda di rumah saja, kami sudah tua jika terlalu banyak makan lemak kamu tahu sendiri kan bebek kandungan kolestrol terlalu banyak. Nanti penyakit lama papamu itu kambuh," jelas Aira.
Semua telah sampai di taman kota, yang berhadapan langsung dengan warteg bebek lamongan yang Asha ngidamkan.
Ega segera memesankan sesuai selera kakak-kakak iparnya dan para keponakan.
"Maaf ya, hanya ini yang bisa aku traktir," ucap Ega merendah.
__ADS_1
Sebenarnya ia sangat mampu tapi karena istrinya mengajak di warteg mau gimana lagi ia pun harus mengajak semuanya ikut serta.
"Santai aja adik ipar, kita ini sudah biasa makan di kaki lima seperti ini benar kan bang Nathan?" jawab Kenzo. "Yang penting itu halal, tempatnya bersih, makanannya higienis," jelasnya lagi.
"Benar itu, dengan kita makan di warteg secara tidak langsung kita juga membantu perekonomian mereka. Jangan kita peduli dengan pengusaha kaya saja, mereka yang jualan dipinggir jalan ini juga butuh rejeki buat makan, buat kehidupan anak istrinya," sela Aisyah.
Tidak menyangka ternyata ngobrol dengan kelurga Wijaya enak juga ya, mereka semua dermawan batin Ega.
"Sudah jangan banyak ngobrol, sebaiknya kita cepat makan keburu dingin itu nanti bebeknya," tegur Nathan yang paling tua sendiri.
"Ih, abang ngobrol sambil makan ngak apa kan? Mumpung ngak ada bunda dan papa, kita juga jarang-jarang ada waktu kumpul bersama seperti ini," sahut Asha.
Aisyah hanya tersenyum menanggapi adik iparnya, karena dalam tradisi keluarga Raka Wijaya dalam makan dilarang berbicara.
"Bener Bang Nathan, kita makan sambil ngobrol kan seru, sambil kangen-kangenan," sahut Nabila dengan memeluk Asha karena sangat merindukan sang adik.
"Nanti kamu keselek kalau banyak bicara," tegur Kenzo untuk istrinya yang tidak mematuhi sang kakak.
__ADS_1
"Aku ini sudah dewasa, ngak mungkin keselek, Mas," desis Nabila mengunyah makanannya dengan lahap.