Wedding Agreement

Wedding Agreement
21 Season 2


__ADS_3

Ia membuka handle pintu kamar Adiba dengan hati-hati, melihat lampu masih menyala ia yakin wanitanya sama seperti dirinya yang tidak bisa tidur karena dimabuk asmara. Ia berjalan dengan mengendap-endap dengan semangat menuju sofa tempat Adiba berbaring yang terlihat punggungnya saja.


"Sayang, kamu pasti ngak bisa tidur sepertiku, 'kan?" lirih Arsen dengan menyentuh lengan Adiba.


Merasa tidak ada respon, ia mengintip sedikit. Ia mengembuskan nafas kecewa, melihat Adiba sudah terlelap. Ia menggendongnya untuk memindahkan diatas ranjang, ia tidak tega membiarkan sang kekasih tertidur begitu saja di sofa yang akan membuat pegal-pegal diseluruh tubuhnya.


Ia membaringkan dengan pelan kekasihnya di atas ranjang. Ia menyimbak rambut yang menutupi wajah wanitanya. Mengusap lembut pipinya penuh cinta.


"Sepanjang malam aku memikirkanmu. Rasa cintaku takan pernah padam.


Aku sayang kamu, seperti bintang yang selalu setia menemani bulan.


Cintaku, tidurlah dengan senyuman indahmu. Karena ku kan selalu menjaga tidurmu. Dan menemanimu agar mimpimu selalu sempurna besamaku," lirih Arsen.

__ADS_1


"Selamat malam sayang, tidurlah yang nyenyak dan mimpikanlah aku


datang. Hadir dalam surga mimpimu dan temanimu, sampai pagi menjelang. Aku sayang kamu," ucap Arsen dengan mengecup kening Adiba.


Arsen memilih kembali ke kamarnya, ia memilih duduk di balkon untuk menikmati pemandangan malam hari ditemani ribuan bintang yang menyinari alam.


Ia menyesap batang rokok ditangannya, sambil menatap langit. Berharap kebahagiaannya abadi. Ia teringat ucapan Adiba, ia segera mengambil ponselnya untuk menghubungi sang mama.


Ia menekan nomer kontak yang ia beri nama Mama yang berfoto profil keluarga besarnya.


"Waalaikumsalam, Nak. Tumben hubungi mama, aku kira sudah ngak ingat sama mamamu ini," sindir Asha dibalik sambungan teleponnya. Ia memilih duduk sofa dengan nyaman agar ngobrol dengan putra pertamanya itu lebih leluasa dan nyaman.


"Mama ini, aku merindukan mama. Gimana kabar kalian semua," ucap Arsen mematikan punting rokoknya di asbak.

__ADS_1


"Alhamdulillah Mama baik, semua juga baik. Kamu sendiri gimana? Semoga kamu juga baik-baik disana, kapan kamu akan mengakhiri masa lajang kamu, Nak. Apa kamu mau dilangkahi oleh adek kamu nikah, mama harap kamu segera mendapatkan jodoh."


Ega menyenggol lengan istrinya, yang pagi-pagi justru sibuk dengan ponselnya. Sedangkan Asha menatap suaminya dengan mengisyaratkan agar tidak mengajaknya bicara.


"Siapa yang telepon, Oma? Itu cucu kamu teriak-teriak cariin kamu," tegur Ega.


"Opa urus dulu sana, aku masih mau ngobrol sama Adelio. Memang kemana si Adelia," tanya Asha.


"Dia lagi mandi si kecil, tapi itu si kakak sudah menangis terus ngak mau berhenti. Sama si bibik ngak mau, opa tolongi justru semakin kencang nangisnya," jelas Ega.


"Nak, bentar ya. Kamu bicara sama papa dulu, mama mau nolongin keponakan kamu dulu yang rewel. Biasa kalau pagi begini ribet bawaannya," jelas Asha.


Arsen yang merasa malas bicara dengan sang papa, ia tidak menjawab ucapan sang mama. Ia memilih mematikan ponselnya. Ia merasa kecewa dengan sang mama yang mengabaikannya demi sang anak kembarnya.

__ADS_1


"Sebaiknya aku mengurus sendiri lamaran juga pernikahanku, tanpa melibatkan mereka. Sepertinya disana yang peduli denganku hanya mama, tapi sekarang beliau sudah berubah," erang Arsen yang semakin jauh dengan keluarganya.


bersambung..


__ADS_2