Wedding Agreement

Wedding Agreement
29 Season 2


__ADS_3

Setelah kepergian Arsen, Adiba merasakan kesepian. Ingin keluar ia tidak tahu jalan keluar walaupun sudah hampir satu minggu ia tinggal di apartemen dengan laki-laki yang posesif itu. Tapi ia menyukainya, dengan sikapnya begitu berarti dia sangat menyayangi dirinya dan takut kehilang dirinya.


Untuk mengisi waktunya yang luang, ia memilih untuk bersih-bersih. Sebenarnya Arsen melarangnya, karena dalam dua hari sekali pasti ada IRT yang datang untuk membersikan seisi apartemen yang terkadang akan menyiapkan hidangan untuk sang majikan.


Hampir dua jam ia bergelut dengan alat kebersihan, merasa semua terlihat kinclong ia duduk di sofa merenggangkan kedua tangannya dengan terlentang. Menyadarkan kepalanya matras sofa.


"Habis ini enaknya aku ngapain ya, apa sebaiknya aku membuatkan makan siang buat Arsen. Tapi tidak ada stock makanan dilemari pendingin, apa aku belanja saja," pikir Adiba.


Lirik lagu Janji Suci dari Yovie & Nuno membuyarkan pikirannya.


Dengarkanlah wanita pujaanku


Malam ini akan kusampaikan


Hasrat suci kepadamu dewiku


Dengarkanlah kesungguhan ini


Aku ingin mempersuntingmu


Tuk yang pertama

__ADS_1


Dan terakhir


Jangan kau tolak dan buatku hancur


Ku tak akan mengulang tuk meminta


Satu keyakinan hatiku ini


Akulah yang terbaik untukmu


Dengarkanlah wanita impianku


Malam ini akan kusampaikan


Dengarkanlah kesungguhan ini


Aku ingin mempersuntingmu


Tuk yang pertama


Dan terakhir

__ADS_1


Melihat ponsel pemberian Arsen berbunyi terus menerus ia melihat nama yang tertulis suamiku ia menyipitkan matanya. Ia kembali melihat foto profilnya, matanya membulat dengan sempurna. Ia tidak tahu kapan foto itu diambil oleh Arsen.


Ia dengan segera menggeser tombol hijau, menempelkan kedaun telinganya, "Hallo, assalamualaikum."


"Waalaikumsalam, lama sekali kamu baik-baik saja kan?" selidik Arsen dengan nada cemas takut terjadi sesuatu dengan wanitanya.


"Aku baik-baik saja, ada apa?"


"Aku itu khawatir dengan kamu, sayang. Nanti ada paket belanjaan datang membawa bahan makanan pokok, kamu tidak perlu keluar. Semua kebutuhan kamu sudah aku belikan," jelas Arsen dibalik sambungan teleponnya.


Yuda yang melirik sekilas sang bos dari kaca yang terpasang didashboard tersenyum dalam hatinya. Ia senang jika sang majikan bahagia, sudah berapa tahun ia bekerja dengannya tidak pernah melihat kebahagian seperti hari ini. Ia berdoa di dalam hatinya semoga kebahagiaan tuannya abadi, ia hanya bisa membalas kebaikan sang bos hanya dengan doa yang terbaik.


"Aku ini bukan tahanan lo, kenapa kamu melarangku keluar? Aku juga tidak akan kabur," dengus Adiba. "Oya, kalau aku butuh sesuatu gimana caranya aku bisa keluar, kamu ini seenaknya saja," umpat Adiba.


"Hai, siapa yang menjadikan kamu tahanan?! Aku hanya ingin kamu sehat dulu, baru boleh keluar tapi dengan syarat harus denganku," kekeh Arsen penuh dengan kemenangan.


Itu sama saja batin Adiba.


"Aku itu ingin keluar, ingin bekerja lagi. Aku bosan disini tidak ada temannya," keluh Adiba yang merasa sendirian tidak ada teman yang ia ajak bicara.


"Besok kalau kita sudah nikah aku beri teman yang banyak, kamu tinggal minta berapa aku buatkan. Dua, tiga, empat, atau sepuluh sekalian biar rumah tambah rame," goda Arsen.

__ADS_1


"Hai, apa maksud itu?" selidik Adiba. "Jangan bilang kamu minta anak sepuluh ya," terka Adiba mulai paham kemana arah pembicaraan laki-laki yang berada disambungan teleponnya.


Arsen tidak menjawab ia hanya tertawa renyah. Sedangkan Adiba mulai mengeluarkan umpatan serapah, emang ia kucing yang melahirkan anak sebanyak itu.


__ADS_2