
Setelah kepergian Arsen, Adiba merasakan kesepian. Ingin keluar ia tidak tahu jalan keluar walaupun sudah hampir satu minggu ia tinggal di apartemen dengan laki-laki yang posesif itu. Tapi ia menyukainya, dengan sikapnya begitu berarti dia sangat menyayangi dirinya dan takut kehilang dirinya.
Untuk mengisi waktunya yang luang, ia memilih untuk bersih-bersih. Sebenarnya Arsen melarangnya, karena dalam dua hari sekali pasti ada IRT yang datang untuk membersikan seisi apartemen yang terkadang akan menyiapkan hidangan untuk sang majikan.
Hampir dua jam ia bergelut dengan alat kebersihan, merasa semua terlihat kinclong ia duduk di sofa merenggangkan kedua tangannya dengan terlentang. Menyadarkan kepalanya matras sofa.
"Habis ini enaknya aku ngapain ya, apa sebaiknya aku membuatkan makan siang buat Arsen. Tapi tidak ada stock makanan dilemari pendingin, apa aku belanja saja," pikir Adiba.
Lirik lagu Janji Suci dari Yovie & Nuno membuyarkan pikirannya.
Dengarkanlah wanita pujaanku
Malam ini akan kusampaikan
Hasrat suci kepadamu dewiku
Dengarkanlah kesungguhan ini
Aku ingin mempersuntingmu
Tuk yang pertama
__ADS_1
Dan terakhir
Jangan kau tolak dan buatku hancur
Ku tak akan mengulang tuk meminta
Satu keyakinan hatiku ini
Akulah yang terbaik untukmu
Dengarkanlah wanita impianku
Malam ini akan kusampaikan
Dengarkanlah kesungguhan ini
Aku ingin mempersuntingmu
Tuk yang pertama
Dan terakhir
__ADS_1
Melihat ponsel pemberian Arsen berbunyi terus menerus ia melihat nama yang tertulis suamiku ia menyipitkan matanya. Ia kembali melihat foto profilnya, matanya membulat dengan sempurna. Ia tidak tahu kapan foto itu diambil oleh Arsen.
Ia dengan segera menggeser tombol hijau, menempelkan kedaun telinganya, "Hallo, assalamualaikum."
"Waalaikumsalam, lama sekali kamu baik-baik saja kan?" selidik Arsen dengan nada cemas takut terjadi sesuatu dengan wanitanya.
"Aku baik-baik saja, ada apa?"
"Aku itu khawatir dengan kamu, sayang. Nanti ada paket belanjaan datang membawa bahan makanan pokok, kamu tidak perlu keluar. Semua kebutuhan kamu sudah aku belikan," jelas Arsen dibalik sambungan teleponnya.
Yuda yang melirik sekilas sang bos dari kaca yang terpasang didashboard tersenyum dalam hatinya. Ia senang jika sang majikan bahagia, sudah berapa tahun ia bekerja dengannya tidak pernah melihat kebahagian seperti hari ini. Ia berdoa di dalam hatinya semoga kebahagiaan tuannya abadi, ia hanya bisa membalas kebaikan sang bos hanya dengan doa yang terbaik.
"Aku ini bukan tahanan lo, kenapa kamu melarangku keluar? Aku juga tidak akan kabur," dengus Adiba. "Oya, kalau aku butuh sesuatu gimana caranya aku bisa keluar, kamu ini seenaknya saja," umpat Adiba.
"Hai, siapa yang menjadikan kamu tahanan?! Aku hanya ingin kamu sehat dulu, baru boleh keluar tapi dengan syarat harus denganku," kekeh Arsen penuh dengan kemenangan.
Itu sama saja batin Adiba.
"Aku itu ingin keluar, ingin bekerja lagi. Aku bosan disini tidak ada temannya," keluh Adiba yang merasa sendirian tidak ada teman yang ia ajak bicara.
"Besok kalau kita sudah nikah aku beri teman yang banyak, kamu tinggal minta berapa aku buatkan. Dua, tiga, empat, atau sepuluh sekalian biar rumah tambah rame," goda Arsen.
__ADS_1
"Hai, apa maksud itu?" selidik Adiba. "Jangan bilang kamu minta anak sepuluh ya," terka Adiba mulai paham kemana arah pembicaraan laki-laki yang berada disambungan teleponnya.
Arsen tidak menjawab ia hanya tertawa renyah. Sedangkan Adiba mulai mengeluarkan umpatan serapah, emang ia kucing yang melahirkan anak sebanyak itu.