
Arsen masih terdiam dengan membolak balikkan ponselnya, ingin mengakhiri waktu yang terjaganya tapi nihil mata ini belum bisa terpejamkan. Tak ada rasa kantuk sama sekali, yang ada ia ingin terus bergadang entah sampai kapan. Mungkin efek terlalu bahagia, bisa tinggal satu atap dengan wanita yang ia cintai.
Ia memutar lagu I Know I Loved - Savage Garden.
Maybe it's intuition
But some things you just don't question
Like in your eyes, I see my future in an instant
And there it goes
I think I found my best friend
I know that it might sound
More than a little crazy but I believe
I knew I loved you before I met you
I think I dreamed you into life
I knew I loved you before I met you
I have been waiting all my life
There's just no rhyme or reason
__ADS_1
Only the sense of completion
And in your eyes
I see the missing pieces I'm searching for
I think I've found my way home
I know that it might sound
More than a little crazy but I believe
I knew I loved you before I met you
I think I dreamed you into life
I knew I loved you before I met you
I have been waiting all my life
Ooh, ooh, ooh
Ooh, ooh, ooh
I am complete now that I've found you
Arsen yang mendengarkan lagu itu pun akhirnya terlelap tidur di balkon kamarnya, dengan ponsel yang tergeletak jatuh ke lantai.
__ADS_1
Di tempat lain, Asha yang telah menenangkan cucu pertamanya kembali ke kamar untuk melanjutkan ngobrolnya dengan putra yang sangat ia rindukan.
Asha duduk disamping suaminya, menoel lengan suaminya untuk memberikan teleponnya agar ia melanjutkan percakapan dengan Adelio.
Ega menutup teleponnya dengan tangannya agar orang yang berada di seberang sana tidak mendengar perkataannya dengan istrinya.
"Apa Oma? Aku lagi telepon ini," tutur Ega lembut, yang tidak ingin diganggu oleh istrinya.
"Aku mau bicara dengan Lio. Berikan ponselnya padaku," minta Asha dengan mengulurkan telapak tangannya pada Ega.
"Ini ponselku, Oma. Lagian ini bukan dari Lio, ini dari teman papa. Ponsel Oma aku letakkan di meja rias," tutur Ega lembut. Ia melanjutkan percakapan dengan rekan bisnisnya.
Asha mendengkur kesal, ia mengambil ponselnya lalu mengirim pesan pada putranya.
Adelio
[[ Nak, apa kamu sudah tidur? Mama masih ingin ngobrol dengan kamu, mama ingin banyak cerita padamu ]]
Asha melihat centang dua dengan tanda masih abu-abu ia mengirim pesan kembali.
Adelio
[[ Nak, jika ada waktu senggang kabari mama. Mama ingin mendengar cerita-cerita kamu. Pasti kamu lelah, selamat tidur Putraku. Semoga kamu mimpi indah, mama berharap kamu segera mendapatkan kebahagiaan kamu. Mama hanya bisa berdoa yang terbaik untukku. Mama sangat menyayangimu, Adelio. ]]
Setelah mengirim pesan ia menghampiri suaminya yang duduk asyik membaca koran.
"Pah, apa yang kalian bicarakan tadi?" selidik Asha pada suaminya yang berbicara macam-macam pada putra pertamanya itu.
__ADS_1
"Bicara apa? Aku ya bicara bisnis," jawab Ega. Memang benar ia dengan sahabatnya membicarakan bisnis tidak ada yang lain.
Bersambung