Wedding Agreement

Wedding Agreement
146. eps 146


__ADS_3

"Mesum," hardik Asha mencubit hidung mancung suaminya.


"Tidak mesum, hanya sedikit saja. Lagi pula aku juga tidak akan melakukannya disini hanya sekedar--," ucap Ega yang tidak berlanjut karena perkataannya telah di potong oleh Asha.


"Sudah jangan banyak bicara! Lebih baik kita kembali ke vila buatkan aku jagung bakar, aku ingin segera memakannya," perintah Asha dengan menarik tangan suaminya agar segera berdiri.


Minta jagung bakar, dimana ada penjual jagung manis di tempat seperti ini pikir Ega.


Sampai di vila Asha segera melepas sepatu yang ia kenakan sembarang lalu ia naik ke sofa meluruskan kakinya yang merasa pegal-pegal.


Sedangkan Ega keluar mencari jagung manis untuk istrinya, setelah mengendarai mobilnya selama kurang lebih setengah jam ia baru menemukan pemukiman penduduk ia berharap segera menemukan swalayan tapi nihil.


"Mana mungkin ada swalayan di pesisir seperti ini, ngidam aneh sekali," lirih Ega.


Ega menghentikan mobilnya ketika melihat segerombolan laki-laki paruh baya yang sedang sibuk memanen padi.


"Permisi, Pak?" sapa Ega


"Ada apa ya Mas."

__ADS_1


"Maaf menggangu, mau tanya sekitaran sini apa ada pasar atau swalayan?"


Bapak-bapak semua itu tertawa menertawakan Ega.


"Mas pasar disini sangat jauh masih sepuluh kilo meter lagi, kalau swalayan mana ada. Disini pelosok desa, kalau toko sembako ada di ujung jalan. Pasar sebenarnya ada setiap legian di desa kami, memang mas mau cari bahan sembako apa?" tanya salah satu laki-laki tua yang duduk bersimpuh di rerumputan.


"Istriku sedang ngidam ingin di buatkan jagung bakar rasa barbeque," jelas Ega.


"Jagung manis kalau aden mau saya kasih tapi kalau barbie bapak ngak punya. Kalau cucu bapak punya barbie apa perlu bapak pimjamkan pada cucuku," tawar seorang kakek.


Ega menarik kedua sudut bibirnya hingga terlihat seulas senyum di wajahnya. Ya setidaknya ia bisa mendapatkan jagung manis untuk membuatnya masalah bumbu bisa ia akalin entah pakai apa bumbunya.


Pak Samsul hanya menyengir menunjukan deretan beberapa gigi yang sudah hilang tinggal beberapa sambil menggaruk rambut ubannya yang tidak gatal.


"Tidak apa, kek. Kakek sudah bersedia memberikan aku jagung manis itu aku sangat bersyukur setidaknya aku tidak pulang dengan tangan kosong."


"Sebentar aden tunggu disini biar bapak ambilkan dulu," ucap pak Samsul.


Pak Samsul segera berjalan di tengah guludan mengambil beberapa jagung manis yang masih di pohonnya. Ia masukkan ke dalam kantong sak yang tadinya ingin ia gunakan untuk tempat rumput.

__ADS_1


"Den, ini jagung manisnya."


Ega melihat seperempat jagung di dalam kantong sak itu merasa sungkan.


"Kek, ini terlalu banyak. Aku ambil beberapa saja ya, kami hanya berdua. Mubazir jika nanti tidak habis jika kami makan."


"Orang ngidam itu biasanya makannya ngak cuma satu saja lo, kamu bawa saja semuanya. Di ladang masih banyak, besok juga sudah harus di panen."


Ega segera merogoh sakunya untuk mengambil beberapa lembar uang.


"Kek, terimakasih ya. Kakek sudah menolongku," ucap Ega menyalami sang kakek dengan memberikan uang di tangannya.


"Den, ini uangnya. Kakek ikhlas memberikannya padamu, hanya dengan cara ini kakek bisa membantu sesama tidak ada harta yang melimpah untuk kakek bagikan. Terimalah," mohon kakek.


Ega melihat sang kakek memelas itupun menerima uangnya kembali.


"Pak, di mana rumah kakek itu?" tanya Ega pada salah satu orang yang juga ada disana.


"Rumahnya di ujung sana, cat berwarna hijau."

__ADS_1


__ADS_2