Wedding Agreement

Wedding Agreement
158. Eps 158


__ADS_3

Salah satu dokter yang menangani Ega keluar dari ruangan icu dengan wajah pucat biru, dengan bulir keringat yang membasahi wajahnya. Sedangkan Nathan yang melihat salah satu dokter yang keluar berlari mendekat untuk memastikan keadaan adik iparnya.


"Dok, bagaimana dengan keadaan adikku? Dia baik-baik saja kan?" cecar Nathan dengan berbagai pertanyaan.


"Alhamdulilah dia masih diberi kesempatan oleh Allah, tapi kami tidak janji bisa betahan sampai kapan. Sekarang tuan Ega sudah melewati masa kritis, namum ia masih koma," jelas dokter.


"Dok, tolong berikan pelayanan yang terbaik buat anak saya, selamatkan nyawanya beri dia kesembuhan. Berapa biayanya pasti kami akan membayar," sahur Raka.


"Kami pasti akan memberikan yang terbaik tuan, tapi masalah maut hanya Allah yang lebih berkuasa. Kami akan memindahkan tuan Ega dikamar ruangnya saat ia masih menjabat sebagai dokter. Kami juga sudah memasang cctv disana untuk keamanan tuan Ega."


"Kalian kenal baik dengan putraku," tanya Raka.


"Siapa yang ngak kenal dengan Tuan Ega, dia orang yang mulia. Hatinya bagaikan malaikat, membangun secara cuma-cuma rumah sakit ini untuk bersedekah tanpa memungut biaya bagi orang yang tidak mampu," jelas dokter.

__ADS_1


Subhanallah, sungguh beruntung aku memiliki menantu seperti dia batin Raka.


"Dok, apa ruangannya adikku luas?" sahut Nathan.


"Lumayan luas, disana juga ada ranjang kosong yang biasanya tuan Ega buat istirahat saat dinas malam. Apa ingin ditambahkan sesuatu?"


"Tidak dok, istri Ega sekarang dalam keadaan lemas kami ingin dia di rawat dalam satu kamar agar mereka bisa saling menguatkan untuk cepat sehat," lirih Nathan.


"Bisa, kami akan segera mengurusnya."


Asha yang masih sedikit pusing teringat suaminya mengalami musibah ia segera duduk dengan paksa melupakan rasa sakit infus di tangannya.


"Nak, kamu mau apa? Istirahatlah! Badan kamu masih lemas, jangan banyak gerak sayang," tutur Aira.

__ADS_1


Asha tidak menghiraukan nasihat bundanya ia tetap turun dari ranjang melepas infus di tangannya dengan paksa hingga darah segar bercucuran menetes dari lengan bekas infusnya.


Aira berlari memeluk putrinya agar tenang dengan mengangkat ke atas Asha lebih tinggi agar tidak mengeluarkan darah.


"Nak, kamu jangan panik! Suamimu ada disebalahmu, kamu harus sabar, ya kata dokter dia baik-baik saja pasti akan segera sadar," bohong Aira agar putrinya menurut ia takut jika terjadi sesuatu dalam kandungan Asha.


"Bunda antarkan aku melihat mas Ega, aku ingin ada disampingnya."


"Bentar sayang, aku ambilkan kursi roda dulu. Kamu jangan kemana-mana?"


Aira mengambil kursi roda lalu membantu Asha untuk duduk, ia mendorongnya menuju Ega yang berbaring di ranjang pasien dengan berbagai alat medis yang menempel ditubuhnya untuk membantu bertahan hidup.


Asha melihat suaminya dengan wajah memar biru sekujur tubuhnya dengan berbagai perpan dimana-mana, wajah yang pucat putih. Ia hanya bisa menyentuh tangannya mencoba memberikan rangsangan agar suaminya segera sadar.

__ADS_1


"Mas, bukalah mata kamu! Biarlah aku yang menggantikan rasa sakit itu. Tolong mas bangun!" ucap Asha disela tangisnya. "Aku ngak sanggup hidup tanpa kamu, jangan tinggalkan aku," lirih Asha sesenggukan.


"Sayang, berpikirlah positif. Bunda yakin jika suamimu akan sembuh, pasti dia akan segera bangun. Dia akan mengadzani anak kalian saat lahir nanti. Berdoalah dan banyak dzikir pasti Allah akan memberi kemudahan pada kalian karena Allah memberi kecobaan sesuai kemampuan umatnya," ucap Aira.


__ADS_2