
Arsen melajukan mobilnya dengan kecepatan sedang menunggu apartemennya yang kini ditempat tinggal oleh Adiba. Ia segera menekan kode masuk. Rasanya semalam tidak bertemu dengan wanitanya sudah sangat ia menderita.
Adiba yang sibuk membaca novel, mendengar suara pintu terbuka menghentikan aktifitasnya. Ia tahu pasti Arsen yang datang, tidak ada yang bisa keluar masuk ke apartemen kecuali ia dan sang pemiliknya. Ia meletakan buku novelnya diatas meja.
"Assalamualaikum," sapa Arsen melihat Adiba yang telah berdiri didepannya ketika ia selesai melepas sepatunya menjadi dengan sandal rumahan.
"Waalaikumsalam, lo kamu ngak ke kantor?" tanya Adiba.
Ia menatap aneh Arsen ketika dia berjalan melewatinya begitu saja tanpa menggoda yang tak seperti biasanya.
"Apa dia ada masalah?" Adiba bertanya-tanya didalam hatinya.
Ia berdiri menatap Arsen yang menyadarkan punggungnya di sofa dengan meneguk segelas air putih di tangannya.
"Haus banget, mau aku ambilkan air dingin atau aku buatkan jus," tawar Adiba.
__ADS_1
Arsen menepuk kursi kosong disampingnya menandakan jika wanita didepannya untuk duduk disampingnya. Dengan melihat Adiba hati dan pikirannya menjadi lebih tenang dan nyaman.
Adiba duduk di sofa dengan menatap mata sayup yang juga menatapnya.
"Sen, kamu lagi sakit?" tanya Adiba khawatir, ingin bertanya apa dia lagi ada masalah tapi niatnya ia urungkan.
Arsen menggeleng.
"Lalu kenapa kamu berbeda?"
"Boleh ngak aku merasakannya lagi?" izin Arsen dengan menyentuh bibir Adiba dengan jari telunjuknya. Ia ingin merasakan bibir merah jambu yang tanpa polesan listip yang membuat candu beberapa hari ini apa lagi ia laki-laki dewasa yang tak pernah merasakan nikmatnya dunia.
Adiba mendorong tubuh Arsen sedikit menjauh darinya, ia tidak mau terjadi khilaf walaupun nanti mereka menikah tetap saja akan menimbulkan dosa karena mereka belum halal dimata Allah.
"Dikit aja, cuma semenit," tawar Arsen sedikit merajuk dengan memberi kode jari telunjuk dan jempolnya dengan diberi cela satu cm jika hanya sedikit.
__ADS_1
"Sabar, tunggu 48 jam lagi ya," jawab Adiba.
"Sayang, dikit aja," rajuk Arsen seperti anak kecil yang meminta dibelikan permen oleh ibunya.
Adiba menggeleng jika ia tidak mengizinkannya. Ia harus konsisten dengan keputusannya agar ia tidak menjadi wanita murahan. Sudah cukup empat kali Arsen mencium bibirnya selama ini, ia ingin menjaganya untuk suaminya nanti yang menghalalkannya.
"Baiklah, aku akan mengalah. Lebih baik aku bersabar, tapi ingat jika aku sudah menghalalkan kamu maka aku tidak akan memberi ampun sedikit saja," ucap Arsen dengan senyum mesumnya.
"Wah, takut aku kalau kamu tidak memberiku ampun bisa-bisa bibirku bengkak karena kamu. Gimana kabar mama Asha juga papa kamu, apa mereka baik-baik saja?" tanya Adiba.
"Mereka baik, mereka ingin bertemu dengan kamu. Apa kamu sudah siap bertemu dengan mereka?"
Jika kamu belum sanggup bertemu dengan orangtuaku, aku tidak akan memaksa. Aku menghargai semua keputusan kamu. Batin Arsen.
Bersambung..
__ADS_1
Yuk kepoin ig author agar tahu novel lainnya..