
Merasakan suasana hening tidak ada yang bicara Ega mulai mencairkan suasana.
"Abah, gimana jika kita ngopi di depan?" ajak Ega.
"Tidak, Nak Ega. Abah sudah tua, Abah mencoba mengurangi meminum kopi beberapa hari ini asam lambungku sedikit bermasalah. Gimana jika Abah temani kamu saja, kita sudah lama ngak mengobrol? Gimana kerja di kantor kamu?" tanya Abah Jafar.
"Alhamdulillah berjalan lancar semua ini berkat ilmu yang Abah serta Umi berikan padaku. Tanpa doa kalian aku tidak akan seperti ini, maaf jika di saat aku sukses malah meninggalkan pesantren harusnya aku masih bisa lebih lama mengabdikan diri kesini tapi karena kesibukanku di kantor dan di rumah sakit harus harus ada aku," lirih Ega yang merasa bersalah.
"Jangan berpikir begitu, kamu itu tidak mengajar disini tapi kamu selalu memberi donasi ke pesantren bahkan semua pembangungan hampir kamu yang membiayainya. Kamu juga selalu memberikan pekerjaan sampingan pada para santri itu sudah sangat membantu kita semua. Kamu juga punya masa depan, kamu juga tidak bisa hanya bekerja dan bekerja saja kamu butuh bahagia bersama istrimu," jelas Abah.
"Iya, Bah." Ega yang melihat arloji mewah berwarna hitam di pergelangan tangannya sudah menunjukan pukul sepuluh malam ia segera mengutarakan niatnya. "Bah, sepertinya kami harus pamit ini sudah larut malam. Abah dan Umi juga harus istirahat," ucap Ega.
"Menginaplah disini semalam saja, Umi masih rindu dengan istrimu!" pinta umi sambil merangkul Asha lalu menyelipkan amplop yang ia bawa ke saku gamis Asha. "Umi masukkan ke saku kamu," bisik umi lirih ditelinganya.
"Rindu mau ghibahkan?" sindir Abah.
"Abah! Ya, tidaklah. Itu kan dosa," elak Umi. Padahal ia masih ingin bercerita tentang ibunya Ega kepada Asha, agar Asha lebih hati-hati saat mertua perempuannya itu datang di kehidupan suaminya kembali batin Umi Syarah.
"Lain kali kami akan datang lagi, Umi. Pasti jika Asha ada waktu akan sering main kesini, benar begitukan?" ucap Ega menatap istrinya yang duduk didepannya dengan pembatas meja.
"Benar Umi, Asha akan sering kesini setelah selesai magang nanti. Umi kami pamit ya."
***
Di dalam mobil, disepanjang perjalanan pulang Asha masih termenung memikirkan amplop yang diberikan oleh Umi Syarah yang kini ia telah ia simpan di dalam tasnya agar suaminya tidak mengetahui itu.
__ADS_1
"Sayang, kamu kok murung? Apa ada masalah?" tanya Ega melirik istrinya yang sedari tadi masuk mobil hanya diam tanpa bicara sepatah kata pun.
Sebenarnya apa yang kalian bicarakan tadi kenapa dari pesantren kamu jadi murung? Atau jangan-jangan tadi saat aku tinggal Asha bertemu dengan ustadz Afi hingga membuat suasana hati istriku begini dan terluka. Aku harus meluruskannya aku tidak ingin ada kesalah pahaman di antara kita batin Ega.
"Sayang," ucap Ega lagi dengan nada sedikit tinggi berharap istrinya mendengar panggilannya.
"Apa sich, Mas?"
"Maaf sayang jika aku mengangetkan kamu, habis Mas panggil dari tadi ngak respon sama sekali. Kamu lagi mikirin apa? Kok melamun saja."
"Tidak mikirin apa-apa hanya ingin makan dipinggir jalan saja, pasti enak," bohongnya agar suaminya tidak curiga.
"Benaran hanya ingin makan di warung kaki lima saja?!" tanya Ega memastikan lagi. "Sayang, tadi kami di pesantren bicara sama siapa saja? Menurutmu orangnya disana gimana?" Ega mencoba untuk memancing pembicara agar tahu mengapa istrinya menjadi melamun sejak tadi.
"Orangnya biasa saja, baik-baik semua hanya satu saja yang menurutku aku benci tapi jika ia tidak menyukai suamiku pasti aku juga akan biasa dengannya. Lupakan! Itu hanya masa lalu. Sekarang aku yakin jika kamu hanya mencintaiku, benar begitu kan, Mas?" tanya Asha. Kini Asha merubah sedikit posisi duduknya menghadap suaminya yang fokus mengemudi.
"Berubah gimana? Berubah sudah tidak cinta lagi denganku?" tanya Asha dengan nada tinggi.
"Sampai rambutku berubah warna menjadi putih, ubanku penuh, aku tetap akan cinta kamu. Sampai kita menua bersama cintaku hanya untuk kamu. Aku berjanji hanya akan ada satu ibu untuk anak-anakku kelak yaitu hanya Ashanum Ananda tiada yang lain," jelas Ega dengan salah satu tangannya meraih tangan istrinya lalu menggenggam erat, dengan sesekali mencium punggung tangan istri tercintanya.
Asha yang mendapatkan perlakuan romantis itu pun jantungnya mulai memompa secara tak beraturan kini hatinya mulai berdebar-debar tidak karuan dengan wajahnya bersemu merah.
"Mas Ega lepas doang! Jalanan mulai rame itu lo," kata Asha mengingatkan suaminya agar fokus dengan kemudinya.
"Ini itu sepi sayang. Biarlah begini, biar kita seperti di drama-drama dalam film korean yang lagi jatuh cinta itu lo."
__ADS_1
Kayak pernah nonton drakor saja kamu itu, Mas. Kamu itu kan tidak pernah ada waktu untuk nonton hidup dulu kan hanya kamu habiskan untuk kerja dan kerja batin Asha menatap iba suaminya yang masa mudanya penuh dengan perjuangan hingga akhirnya perjuangan itu mendapatkan hasil yang begitu luar biasa.
"Memang kamu pernah nonton drakor?"
"Pernahlah, itu nonton sama kamu di laptop milikmu yang nyala kamunya malah molor," jelas Ega. "Sayang, kamu jadi makan apa ini? Gimana jika nasi kucing atau nasi pecel? Atau kamu ingin menu yang lain tapi kalau malam begini yang ada paling juga nasi goreng, menu lalapan."
"Sepertinya makan bebek goreng nikmat ya mas, atau lele pecel. Kamu kan sudah lama ngak makan menu andalan kamu."
Mendengar permintaan istrinya yang ingin makan bebek goreng Ega segera melajukan mobilnya menuju warung kaki lima langganannya yang terkenal dengan kenikmatan sambal trasinya dengan tekstur daging yang empuk sehingga memiliki ciri khas yang begitu menggoda selera makan.
Ega segera menginjak pedal remnya, lalu mematikan mesin mobilnya setelah mendapatkan tempat parkir.
"Mas kita makan disini?"
"Iya, disini makannya enak. Ini langgananku, tempatnya juga nyaman walaupun dipinggir jalan. Makanan higienis, pemandangannya bagus berhadapan langsung dengan taman. Ayo, katanya lapar!" Ega segera menarik tangan istrinya untuk menuju tempat lesehan dimana ia akan menikmati makan malamnya.
Asha segera duduk di tikar yang telah di gelar oleh pemilik kedai dengan meja panjang yang ada di tenggah-tenggahnya.
Mas Ega kamu padahal memiliki restoran mewah kamu tak pernah malu sedikitpun makan di tempat seperti ini aku bangga denganmu batin Asha menatap suaminya yang pergi memesan makanan.
Beberapa menit kemudian Ega berjalan hati-hati dengan membawa nampan di tangannya yang berisi dua porsi bebek goreng, pecel lele, gurami, lalapan beserta dua jenis sambal yaitu sambel pencet dengan sambal trasi.
Asha yang melihat suaminya segera membantu meletakan di atas meja satu persatu makanan yang ada di nampan.
"Mas, serius ini pesanan kamu?!" tanya Asha menyelidik saat melihat berbagai menu di depannya tanpa nasi. "Terus nasinya mana? Disini memang begini ya kalau pesan harus ambil sendiri?" tanyanya lagi.
__ADS_1
Bersambung...