Wedding Agreement

Wedding Agreement
15 Season 2


__ADS_3

"Terlalu murahan," decak Arsen pelan sambil berjalan menuju sofa.


"Murahan?! Tapi kamu juga pernah suka dengan wanita murahan seperti aku, 'kan?" sahut Adiba dengan kilat.


Arsen membalikkan tubuhnya, menatap sinis Adiba yang masih terbaring diatas brangkar. "Itu dulu, sekarang aku menyesal kenapa aku bisa dibutakan oleh cinta wanita murahan. Aku juga heran apa yang menarik padamu, tidak ada istimewanya sama sekali," sindir Arsen.


"Beneran kamu menyesal," goda Adiba. "Tapi kenapa dimimpiku kamu seperti takut kehilangan aku. Bahkan mimpi itu seperti nyata, kamu pegang tanganku, lalu sedikit menyimbak rambutku, mengecup keningku," ucap Adiba dengan pura-pura membayangkan.


"Apa?!" teriak Arsen di dalam hatinya. "Apa sebenarnya tadi dia sudah sadarkan diri, lalu dia sengaja membohongi," batinnya.


"Mimpi apa itu?" dengus Arsen. "Pasti itu hanya akal-akalmu saja atau jangan itu harapan kamu padaku. Baiklah, jika kamu berharap aku mencium keningmu dengan suka rela aku akan melakukan untukmu. Anggap aja itu sebagai permintaan maafku telah membuat kamu pingsan," kelakar Arsen.

__ADS_1


Masih saja kamu cari alasan, Lio. Kamu itu kenapa ngak mengakui saja tentang perasaan kamu. Apa harus aku lagi yang mengalah? Aku lelah merendah, merengek cinta padamu. Sadarlah! Adelio, jika kamu memang masih ada rasa padaku tolonglah aku saja. Batin Adiba menatap nanar Adelio.


"Tidak perlu, Tuan Arsen. Aku sadar diri, anda tidak perlu merasa bersalah, aku sudah memaafkan tuan," tekan Adiba. "Lagi pula aku melakukan ini demi menyelamatkan nyawa bang Usup. Taun adalah orang penting, pasti masih banyak kerjaan yang menunggu anda, aku sudah baik-baik saja tidak perlu tanggungjawab," usir Adiba secara halus.


Adiba terpaksa mengusir laki-laki yang ia rindukan. Itu lebih baik dari pada dia tetap di depannya namun sifat dinginnya masih melekat dan tidak ada tanda-tanda menujukan sifat hangatnya untuk dirinya. Beruntung dia tadi berpura-pura cuek jika tidak maka dirinya yang malu.


"Aku tidak akan pergi, aku akan bertanggungjawab atas kesehatan kamu," tegas Arsen.


"Tidak perlu, aku baik-baik saja. Aku sebentar lagi juga akan pulang."


"Baiklah, aku akan tetap dirawat. Tapi tolong kamu pergi dari hadapanku, nanti kalau mangsaku datang bisa-bisa kamu mendapatkan bogeman darinya. Aku juga ngak ingin ada kesalah pahaman," ucap Adiba segala memancing Adelio untuk melihat reaksinya.

__ADS_1


Apa benar-benar dia memiliki laki-laki lain. Sepertinya aku harus disini untuk melihat bagaimana rupanya, dan pastinya memberikan peringatan untuknya agar tidak mendekati Adiba, wanitaku. Pikir licik Arsen.


"Siapa takut? Aku akan membuat kekasihmu terkapar tak berdaya, atau aku bikin mati sekalian saja."


"Oh, kamu bikin mati. Sadis sekali kamu," ucap Adiba. " Kamu cemburu, 'kan? Hingga kamu membunuh laki-laki yang dekat denganku, sebaiknya mengaku saja," goda Adiba.


Pintar sekali dia memancingku batin Arsen.


"Cemburu?! Apa aku ngak salah dengar?" kilah Arsen. "Buat apa aku cemburu?" ucapnya gelagapan.


"Karena kamu masih mencintaiku," ucap Adiba dengan lantang.

__ADS_1


Bersambung..


semoga tidak bosan ya..


__ADS_2