
Asha segera masuk ke dalam mobil kembali dengan membanting pintu dengan cukup keras. Ia duduk di kursi penumpang dengan menyilangkan kedua tangannya di dada.
Ega yang melihat tingkah istrinya kembali duduk kursi pengemudinya, memakai sabuk pengamannya. Melirik istrinya dengan wajah cemberut itu membuat ia ingin tertawa melihat sikap kekanak-kanakan Asha.
"Beneran ngak mau masuk?!" Ega memastikan istrinya sebelum ia menyalakan mesin mobilnya.
Asha yang kesal dengan suaminya, memalingkan wajahnya ke arah jendela tanpa menjawab ucapan pertanyaan Ega.
Kalau kamu marah seperti ini membuat aku makin cinta saja. Batin Ega.
Ega segera memasangkan sabuk pengaman Asha, lalu menyalakan mesin mobilnya melajukan dengan kecepatan sedang meninggalkan parkiran rumah sakit.
Mas Ega emang benar-benar ya! Seharusnya dia membujukku untuk masuk ke dalam agar aku tetap melalukan tugas kuliahku bukan membawaku pulang lagi. Apa jangan-jangan Mas Ega tidak benar-benar mencintaiku. Sungguh hari yang membosankan! Aku tadi rela merendahkan diriku demi dia, tapi dia tidak mau sedikit saja mengorbankan harga dirinya untukku.
Asha rasanya engan menatap suaminya, ia lebih fokus menatap jalanan. Asha merasakan ponselnya bergetar dari dalam tas raselnya yang ia pangku itu pun segera mengambil benda pipi yang berwarna gold.
Melihat nama sahabatnya yang melakukan video call, ia menggeser tombol hijau.
"Sha, kamu dimana? Ini sudah jam delapan! Kamu cepat kesini Dokter Siska sudah datang, bisa-bisa kamu kena semprot dia," cecar Diana tanpa berhenti berbicara.
"Aku tidak masuk." Asha menatap layar ponselnya dengan malas.
"Kamu sakit ya?! Wajah kamu kok ditengkuk gitu jadi kumel," ledek Diana.
"Aku lagi sakit hati, nanti pulang kamu whatsapp ya kita cabut. Aku jemput kamu, kita ke tempat biasa."
"Boleh juga kita sudah lama ngak kesana, kamu cepat hubungi Dokter Siska sana izin ke dia kalau kamu ngak masuk. Oya, tumben kamu bisa sakit hati segala memang ada masalah apa?"
"Sudah jangan banyak nanya! Sudah aku matikan nanti kamu malah kena omelan Dokter sinis." Asha mematikan panggilannya lalu memasukkan ponselnya ke dalam tas miliknya.
Aku ingin lihat gimana reaksi kamu Mas jika aku keluar tanpa kamu pikir Asha kembali memalingkan wajahnya. Sebenarnya aku juga malas keluar, rasanya aku ingin didekat kamu saja tapi aku sedang pura-pura marah.
__ADS_1
Ega yang mendengar semua percakapan istrinya segera berbicara.
"Sha, apakah dibolehkan bagi seorang wanita keluar ke pasar untuk membeli kebutuhan-kebutuhannya dan kebutuhan putrinya tanpa sepengetahuan suaminya?" tanya Ega memancing istrinya.
Asha hanya menoleh dengan mengangkat bahunya.
"Dalam keluarga jika seorang istri meninggalkan rumah tanpa izin lebih dulu kepada suaminya, walaupun dengan alasan dia meninggalkn rumah karena ingin menjaga orang tuanya padahal masih ada saudara si istri yang mampu untuk menjaganya.
Dalam hal ini bagaimana hukumnya jika istri meninggalkan rumah, kemudian apa yang harus dilakukan suami?" tanya Ega lagi.
Mas Ega jadi kenapa tanya seperti ini sich? Aku bicara dengan Diana agar dia membujukku atau setidaknya merayuku lah. Tanya kenapa sakit hati atau setidaknya minta maaf gitu.
"Aku tidak tahu."
"Jawaban pertanyaan yang pertama jika menemukan kasus seperti ini, maka tidak sepantasnya bagi seorang istri untuk meninggalkan khidmatnya kepada suami, apa lagi meninggalkan ketaatan pada suami hanya demi kebutuhan pribadi. Seorang istri dikatakan "nasyiz" (pembangkang) salah satunya adalah jika seorang istri pergi dari rumah suami tanpa izin dari suami atau dengan izin akan tetapi menyalahi izin tersebut. Maka dalam keadaan demikian, tidak wajib bagi seorang suami untuk menafkahi istrinya yang "nasyiz" selama belum kembali."
"Jawaban pertanyaan kedua maka tidak patut bagi istri untuk pergi dari rumah suami dengan alasan ingin menjaga orang tuanya juga, bahkan tidak halal kecuali dengan izin dan ridho dari suami. Karena ketika seorang istri pergi dari rumah suami berarti dia tidak lagi mengerjakan kewajibannya sebagai seorang istri dan tidak menghormati hak-hak suami. Salah satu hak suami adalah ketaatan istrinya kepadanya. Ketika istri pergi tanpa ridho suami berarti telah meninggalkan ketaatannya kepada suaminya. sedangkan Rosulullah -sholallahu 'alaihi wasallam bersabda :
Artinya : "jikalau aku berhak memerintah seseorang untuk sujud kepada orang lain maka sungguh aku akan memerintahkan kepada perempuan untuk sujud kepada suaminya."
Hadist ini membuktikan betapa besarnya hak seorang suami dan wajibnya atas istri untuk taat kepada suami selama suami tidak memerintahkan kepada hal-hal yang dilarang oleh agama.
Rosulullah -sholallahu 'alaihi wasallam- pernah ditanya oleh seorang perempuan tentang salah satu hak suami atas istri :
يَا رَسُول اللَّهِ مَا حَقُّ الزَّوْجِ عَلَى زَوْجَتِهِ ؟ فَقَال : حَقُّهُ عَلَيْهَا أَلاَّ تَخْرُجَ مِنْ بَيْتِهَا إِلاَّ بِإِذْنِهِ ، فَإِنْ فَعَلَتْ لَعَنَتْهَا مَلاَئِكَةُ السَّمَاءِ وَمَلاَئِكَةُ الرَّحْمَةِ وَمَلاَئِكَةُ الْعَذَابِ حَتَّى تَرْجِعَ
Artinya : "Wahai Rosulullah, apakah hak suami atas istrinya?"
Beliau menjawab : "Hak suami atas istri adalah tidaklah dia (istri) keluar rumah kecuali dengan izin dari suami, jika dia melakukannya (keluar tanpa izin) maka malaikat langit, malaikat rahmat dan malaikat adzab melaknatnya sampai dia pulang."
"Apa yang harus dilakukan oleh suami pada istri yang "nasyiz"?
__ADS_1
Allah berfirman :
وَاللَّاتِي تَخَافُونَ نُشُوزَهُنَّ فَعِظُوهُنَّ وَاهْجُرُوهُنَّ فِي الْمَضَاجِعِ وَاضْرِبُوهُنَّ
Artinya : "Wanita-wanita yang kamu khawatirkan nusyuznya, maka nasehatilah mereka dan pisahkanlah mereka di tempat tidur mereka, dan pukullah mereka" (QS An-Nisa : 34)
Ega berbicara panjang lebar agar istrinya untuk mengerti akan kewajibannya.
"Mas Ega, makasih ilmunya sangat bermanfaat buat Asha tapi Asha kan tidak keluar rumah!"
"Itu tadi, kamu kan mau pergi sama Diana?"
"Aku hanya ingin melihat kamu merayu aku, membujuk aku. Tanya kenapa kamu sakit hati, Sayang? Harusnya kamu itu peka aku itu kesal denganmu," tegas Asha.
"Lalu aku harus gimana?"
"Tahu, harusnya kamu menuruti perkataan aku tadi. Aku kan ingin mereka semua tahu, Mas! Aku ingin memperkenalkan publik jika istri Asha yang selalu dihina itu pengusaha sukses pemilik Albram."
"Sayang, kita harus bisa menata hati. Dalam hidup berumah tangga atau lainnya ada saatnya kita bersyukur dan ada saatnya kita bersabar. Yang tidak mengerti syukur dan terimakasih akan selalu menuntut lebih kepada pasangan. Kesabaran juga sangat penting untuk meredam emosi dan memperkecil tuntutan. Jangan sampai sedikit-sedikit protes atau menuntut. Biarkan saja mereka begitu, jika saatnya sudah tepat maka semua akan tahu, kita buat saja mereka terkejut, jadi intinya sabar," paparnya.
"Iya," jawab singkat Asha.
"Jangan marah lagi ya, Sayang! Jika cemberut begitu makin cantik!" puji Ega.
"Jangan gombal dech, aku masih marah sama kamu!" tegas Asha. "Mas dalam Islam perempuan yang meninggalkan rumah tanpa ijin suaminya, maka perempuan itu berdosa, lalu bagaimana hukum suami yang meninggalkan istri selama 1 hari 1 malam tanpa pamit juga tidak kasih kabar?" tanya Asha.
"Dalam keluarga, memang suami yang dijadikan pemimpin. Isteri yang ingin keluar rumah harus ijin kepada suaminya. Tidak boleh, suami tidak harus ijin anggota keluarga jika ingin keluar. Namun itu tidak berarti bahwa suami boleh sesuka hati. Dia juga terikat etika Islam. Dia harus memperlakukan dengan baik, menjaga perasaannya dan berlemah lembut. Allâh Azza wa Jalla berfirman: وَعَاشِرُوهُنَّ بِالْمَعْرُوفِ
Dan perlakukanlah mereka (para istri) dengan baik ! [An-Nisâ / 4: 19] Meninggalkan rumah tanpa kabar untuk waktu yang lama pengerjaan yang tidak baik. Hal itu dapat ditemukan dan ketidaknyamanan pada keluarga yang ditinggal. Hendaklah kita selalu ingat, bahwa istri yang disamping memiliki kewajiban terhadap suami, istri yang juga memiliki hak, lengkapi dalam ayat: وَلَهُنَّ مِثْلُ الَّذِي عَلَيْهِنَّ بِالْمَعْرُوفِ Dan para istri memiliki hak seperti kewajiban mereka menurut kebiasaan yang ada. [Al-Baqarah / 2: 228]"
"Jika hal itu sudah terjadi, istri berhak untuk menyampaikannya dan menyampaikan nasehat kepada suami. Dan suami bisa menjelaskan duduk perkaranya atau meminta maaf, dan terus berusaha memperbaiki sikap kepada keluarga, agar bisa berdiri tinggi di keluarga oleh Rasûlullâh n dalam sabda beliau n berikut: خَيْرُكُمْ خَيْرُكُمْ لِأَهْلِهِ Sebaik-baik kalian adalah yang paling baik kepada keluarganya (istrinya) . [HR. Ibnu Mâjah, no. 1977. Hadits ini diterjemahkan sebagai hadits shahih oleh al-Albani rahimahullah]" Ega menjelaskan panjang lebar apa yang ia ketahui selama ini.
__ADS_1
Asha manggut-manggut sambil tersenyum puas akan jawaban suaminya.