Wedding Agreement

Wedding Agreement
16 Season 2


__ADS_3

Arsen mendekati Adiba yang berbaring di brankar. Ia menatap lekat wanitanya dengan sayu, ia ingin segera berdamai dengan hatinya. Ia tidak ingin lagi memperpanjang statusnya menjadi perjaka tua, walaupun kenyataannya juga belum tua-tua amat masih hampir kepala tiga.


Arsen mendekatkan wajahnya, ia menyimbak rambut Adiba meletakkan dibelakang daun telinganya. Jarinya menelusuri kening Adiba ke pipi hingga berhenti tepat pada bibir mungil berwarna merah muda.


"Tuan apa yang kamu lakukan?" tegas Adiba dengan mengibaskan tangan Arsen.


"Menurutmu?! Aku ingin membuktikan cintaku padamu," ucap Arsen dengan mendekatkan wajahnya kini hanya tersisa jarak beberap centi meter saja.


Adiba mendorong dengan keras Arsen berharap laki-laki di depannya tidak berbuat macam-macam. Usahanya sia-sia, tenaganya tidak sebanding dengan tubuh kekar yang telah mengunci dirinya hingga membuatnya kesulitan bergerak.


"Aku memang masih mencintaimu, sangat mencintaimu," bisik Arsen di telinga Adiba.


Arsen kemudian mengambil tengkuk leher wanita di depannya mencium dengan rakus Adiba, merasakan tidak ada respon. Ia mengigit bibir bawah Adiba agar sedikit terbuka untuk memudahkan ia mengekspos setiap sudut bibir yang ada didepannya. Ia seperti laki-laki yang haus kepuasaan hingga membuat sang pemiliknya mengeluarkan bulir-bulir dari sudut matanya.

__ADS_1


Arsen merasakan tetesan air disebagian wajahnya melepas tautan bibirnya, lalu mengusap air mata Adiba dengan ibu jarinya.


Adiba menapik tangan Arsen dengan keras, lalu ia memalingkan wajahnya membelakangi Arsen, "Pergi kamu dari sini! Kamu jahat!" teriak Adiba disela-sela tangisnya.


"Aku tidak akan pergi, kenapa kamu menangis? Ini ciuman hal wajar bukan, apa lagi kamu sudah sering berganti-ganti pasangan. Apa ciumanku tadi kurang hot hingga kamu tidak merasakan kepuasaan," ucap Arsen.


"Pergi! Aku ngak ingin lagi melihat wajahmu, brengsek!" Adiba menghardik Arsen dengan menujukan jari telunjuknya agar ia pergi dari hadapannya.


"Maafkan, aku. Apa boleh aku jujur," ucap Arsen.


"Jujur, katakan saja!" jawab Adiba. "Lebih baik cepat bicara dan enyahlah dari hadapanku," tegas Adiba muak melihat laki-laki yang selalu egois tanpa memikirkan perasaannya dan selalu bersikap seenaknya saja.


"Adiba, apa pintu maaf untukku masih ada? Aku masih mencintai kamu, aku berharap kita bisa memulai dari awal lagi. Maaf aku telah egois."

__ADS_1


Kenapa mengaku saja sulit amat kamu, kenapa harus menyakitiku batin Adiba mengembuskan nafasnya lega.


"Apa begini cara kamu memperlakukan wanita yang kamu cintai? Dengan sikap kamu yang bertindak seenaknya saja, itu sama saja kamu melecehkan aku. Aku bukan wanita yang bisa kamu permainan, Taun Arsen."


"Adiba, beri aku kesempatan lagi. Aku ingin memperbaiki semuanya, aku ingin kita bersatu untuk bahagia sesuai janji kita dulu. Aku yakin jika kamu juga masih menyimpan rasa untukku, kamu pasti masih mencintaiku bukan," pinta Arsen dengan memelas. Ia lebih baik merendah saat ini sebelum semuanya terlambat, ia tidak ingin kehilang wanitanya untuk yang kedua kalinya.


Adiba masih terdiam, ingin menjawab iya tapi ia takut jika Arsen sedang memainkan perasaannya.


"Adiba, jangan diam! Tolong bicaralah, apa kamu mau kembali lagi denganku?" tanya Arsen lagi agar wanita didepannya menjawab pertanyaannya.


Bersambung..


Jawab apa ya enaknya? Yuk kasih saran buat Adiba

__ADS_1


__ADS_2