Wedding Agreement

Wedding Agreement
80.Perbuatan halal yang paling dibenci Allah


__ADS_3

"Bunda, Mas Ega sebenarnya telah membohongi kalian. Dia sebenarnya bukan bekerja sebagai ob. Tapi Bunda janji akan membantu menjelaskan masalah ini pada Papa agar beliau tidak marah, Asha mohon. Asha tidak bisa jauh dari Mas Ega," rajuk Asha dengan menggenggam tangan sang Bunda.


"Bunda janji akan membantu kamu asal kamu bahagia."


"Sebenarnya Mas Ega adalah pengusaha muda yang sukses dia juga seorang dokter psikiater dan psikolog. Bunda pasti tahu tentang Albram? Itu semua milik Mas Ega, suamiku, menantu Bunda. Apa bunda marah?" kata Asha menatap Aira menunggu jawaban sang bunda bagaimana responnya saat mengetahui jati diri menantunya yang sebenarnya.


Asha yang melihat Bundanya terdiam tidak menjawab perkataannya segera menggoyangkan lengannya pelan.


"Bunda, kenapa diam?! Tadi bunda janji akan membantuku," lirih Asha yang khawatir akan amarah bundanya. "Aku sangat mencintai Mas Ega, sebaliknya juga Mas Ega juga sangat mencintaiku dari dulu. Bunda jangan pisahkan kami ya, Asha mohon!" rajuk Asha dengan raut wajah yang melemah.


Aira segera memcubit lengan Asha karena merasa jengkel dengan pikirin pendeknya. Asha meringis menahan rasa sakit lengannya sambil mengusap-usap untuk menghilangkan rasa nyerinya.


"Maaf, sakit ya," nyengir Aira. "Habis Bunda kesal denganmu, itu pikirin kenapa bisa berpikir aneh begitu? Bunda tidak pernah sedikit pun ada niat untuk memisahkan kalian, Bunda ingin anak-anak Bunda hanya menikah satu kali dan hidup bahagia dengan pasangannya," jelas Aira.


Asha hanya diam mencoba mencerna ucapan bundanya.


"Berarti Bunda tidak marah karena Mas Ega telah berbohong pada kalian?"


"Buat apa marah, kalau bohong hanya semacam itu Bunda bisa memaafkannya. Mungkin dia melakukan hal itu karena alasan tertentu, tetapi kalau dia bohong dengan masalah lainnya Bunda belum tentu bisa memaafkan dia," jelas Aira.

__ADS_1


"Mas Ega hanya menyembunyikan jati dirinya saja tidak ada yang lain. Aku juga sudah mengancam dia, jika ia masih menyimpan kebohongan lagi aku akan berpisah dengannya, aku bilang kalau aku benci dibohongi lebik baik kita hidup bercerai," ketus Asha.


Aira segera menjitak dahi putrinya yang entah sejak kapan pikirannya jadi dongkol padahal ia tergolong anak yang cerdas.


"Kamu tahu perbuatan halal yang paling dibenci Allah adalah cerai. Sebenarnya Islam tidak melarang terjadinya perceraian. Tetapi Allah SWT tidak menyukai perceraian. Dengan demikian, Islam menganjurkan pasangan suami istri untuk mencari jalan keluar lain. Perceraian pun bisa dijadikan sebagai jalan paling terakhir untuk menyelesaikan masalah. Dalam surat Al-Baqarah ayat 227 disebutkan, 'Dan jika mereka berketetapan hati hendak menceraikan, maka sungguh, Allah Maha Mendengar, Maha Mengetahui'. Bunda harap kamu jangan sampai bercerai," tegas Aira.


"Dengarkan baik-baik ini. Sebenarnya, istri boleh saja menggugat cerai suami. Namun, harus ada alasan yang jelas terlebih dahulu. Jika tidak ada alasan yang jelas, maka menggugat cerai haram bagi istri. Sebagaimana disebutkan dalam hadits Rasulullah SAW berikut: “Siapa saja perempuan yang meminta (menuntut) cerai kepada suaminya tanpa alasan yang dibenarkan maka diharamkan bau surga atas perempuan tersebut.” (HR. Abu Dawud, Al-Tirmidzi, dan Ibnu Majah. Dishahihkan Syaikh Al-Albani dalam Shahih Abi Dawud). Apa kamu masih ingin meninggalkan suamimu hanya karena alasan sepele?" tanya Aira menatap Asha.


"Tidak, aku cuma mencoba mengancam dia saja agar tidak berbohong lagi padaku."


"Sayang, kamu harus bisa menyelesaikan masalah dalam rumah tangga kamu dengan bijak jangan hanya karena sepele kamu dengan muda mengucapkan kata pisah. Nikah bukan hanya pemenuhan kebutuhan jasmani, melainkan ibadah,” papar Aira.


Aira yang melihat putrinya tidur dipangkuannya segera memanfaatkan waktunya untuk memberikan sedikit pengertian tentang pernikahan, ia segera mengusap pucuk rambut Asha.


"Sayang, apa Bunda boleh sedikit bercerita," izin Aira.


"Boleh Bunda, Asha juga lama tidak mendengar dongeng Bunda," kekeh Asha sambil memainkan hijab sya'i yang dikenakan Aira.


Aira yang sudah mendapatkan persetujuan dari putrinya segera membagi pengalaman yang ia dapat.

__ADS_1


"Sayang, sebuah pernikahan adalah gerbang pembentukan sebuah keluarga. Keluarga adalah sebuah sistem ilahi, petunjuk nabi dan akhlak manusia. Pernikahan adalah rizki dari Allah sekaligus juga menjadi awal sebuah ujian kehidupan manusia saat berpasangan dengan jodohnya. Dimulai dari kehidupan sesaat setelah ijab kabul diikrarkan, suami atau istri akan mulai diuji dengan pasangannya dan keluarga pasangan. Sikap dan kemampuan adaptasi terhadap perilaku dan ekbuasaan pasangan di tahun-tahun awal pernikahan akan menjadi titik tolak pasangan suami istri dalam menjalani kehidupan rumah tangganya. Tidak sedikit rumah tangga yang mengalami keguncangan di awal-awal tahun pernikahan karena disebabkan oleh kemampuan adaptasi suami atau istri yang kurang cakap."


"Masalah yang sejatinya kecil pun bisa membuat rumah tangga bagai dilanda prahara. Hidup dalam rumah tangga seolah menjadi sempit dan membakar hati. Begitu pun pada tahapan kehidupan rumah tangga selanjutnya. Tahap saat istri hamil, melahirkan dan menyusui yang tentunya hal itu akan membawa dampak perubahan yang sangat besar bagi pasangan suami istri, dan seterusnya hingga sampai pada tahap mengatasi kehilangan pasangan atau beradaptasi dengan penuaan. Janji Allah dalam Al Quran surat Al Baqarah ayat 155, “Dan sungguh akan Aku berikan cobaan kepadamu, dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa dan buah-buahan. Dan berikanlah berita gembira kepada orang-orang yang sabar.” Maka, ujian dalam rumah tangga adalah sebuah keniscayaan," tutur Aira.


"Adapun beberapa jenis ujian yang dapat melanda rumah tangga ada banyak hal dari yang ringan hingga berat suatu saat kamu pasti akan mengalaminya.


Ujian yang melanda rumah tangga bukan sesuatu yang harus dihindari atau diabaikan. Ujian kehidupan adalah salah satu cara Allah untuk meningkatkan posisi atau kedudukan seorang hamba di sisi-Nya. Maka, hadapi dan selesaikan ujian-ujian tersebut hingga ia pantas berada pada posisi yang paling dekat dengan Allah. Kaidah ujian dari Allah itu sebagaimana dalam firman-Nya dalam surat Al Baqarah ayat 286, “Allah tidak akan membebani(memberi ujian) seseorang melainkan sesuai dengan batas kemampuannya.”


Asha hanya mendengar setiap kata demi kata yang keluar dari bibir sang bundanya untuk mencerna memasukkan ke dalam ingatnya.


Asha segera membenarkan posisi hingga kini ia duduk disamping sang bunda.


"Bunda keluar yuk! Kita lihat Papa dan Mas Ega sedang apa? Tolong bantu kami ya," mohon Asha.


"Jangan khawatir! Bunda nanti akan bicara dengan Papamu! Kamu tinggal terima beres saja, percaya dengan Bunda."


Saat Aira dan Asha memasuki ruang tamu melihat ketegangan di wajah dua lelaki yang saling berhadapan dengan saling melototkan matanya itu pun membuat suasana hati Asha semakin cemas serta merasakan suasana yang semakin panas seperti terpancar aura kemarahan yang menyelimuti dua lelaki yang sama-sama berkuasa di wilayahnya.


Bersambung...

__ADS_1


__ADS_2