Wedding Agreement

Wedding Agreement
Membujuk Aryan


__ADS_3

“ Bunga dari mana ?”tanya Opa Haris saat melihat istrinya meletakkan tangkai bunga mawar putih ke dalam vas keramik di dekat tempat tidurnya.


“ Dari cucuku, Elnara . Siapa lagi !” jawab Oma Herlina dengan bangganya. 


“ Dalam rangka apa ? Mencari perhatian ? atau ada maunya ?” 


Oma Herlina lantas menatap tajam ke arah suaminya yang selalu saja bersikap sinis pada Elnara. “ Dalam rangka hari Ibu ! Paham !” ketus Oma tepat di depan wajah suaminya. 


“ Puluhan tahun suami, anak, dan cucuku sendiri tidak pernah mengirim ucapan seperti ini. Bersyukur sekarang Oma punya cucu menantu yang memberikan perhatian kecil yang kalian tidak pernah lakukan !”


“ Hanya ucapan dengan bunga seperti itu apa istimewanya ,” cibir Opa Haris yang makin membuat telinga Oma Herlina gatal mendengarnya. 


“ Kalian para pria memang semuanya berhati batu ! Bahkan Opa sendiri mana pernah mengucapkan hari ibu di usia Oma yang sudah setua ini. Beruntung Aryan menikahi Elnara yang berhati lembut dan penuh perhatian ! Belum tentu saat Aryan menikahi wanita lain akan sebaik ini.” Oma langsung membuang wajahnya dan berlalu dari hadapan suaminya yang menjengkelkan. 


Sementara di kediaman pribadi Aryan, Bik Ina yang sudah berpakaian rapi dan membawa tasnya itu kini menghampiri Nara. “ Nyonya Muda, berhubung tuan Aryan sudah pulang, bibi mau izin cuti sekarang, ya.”


“ Lho hari ini juga ya, Bik?” ada yang terasa hilang di hati Nara saat ia sendiri lupa kalau bik Ina sudah bicara mengajukan cuti padanya. 


“ Iya , anak bibi sudah mau mendarat dari Australia. Bibi mau jemput langsung di bandara.” ucap bik Ina yang mendadak akan pergi membuat Nara tidak siap sebenarnya. Meskipun wanita itu hanya cuti sementara karena menemani anaknya liburan saja. 


“ Landing jam berapa, Bik? Saya antar.” suara Aryan yang muncul dari dalam kamar membuat bik Ina merasa sungkan meski ia sudah bertahun lamanya memahami seorang Aryan yang seperti anaknya sendiri. 


“ Tuan Muda baru datang.” Bik Ina makin menunduk tidak enak hati mengingat majikannya yang baru saja pulang dari luar kota itu harus mengantarnya ke bandara. 


“ Bilang saja jam berapa ?” ulang Aryan yang sudah pasti tidak ingin dibantah. 


“ Jam satu siang ini, Tuan.”


“ Lho, mepet banget. El, ayo siap-siap, kita antar bik Ina menemui anaknya.”


Nara pun menyambut antusias lalu bergegas ganti baju sementara Aryan menghubungi  Jonas untuk menyiapkan kendaraan. 


“ Maaf, Nyonya. Kiriman paket anda.” 

__ADS_1


Jonas memberikan sebuah buket bunga  dan sebuah kado yang diantar kurir saat mereka akan menaiki mobil hingga Nara memekik kegirangan. “ Minta tolong diletakkan di belakang dulu ya, kak.”


Aryan sudah menatap tajam istrinya yang masih begitu mesra memanggil Jonas di depannya.” Kamu ini, dengan Jonas saja kamu bisa panggil semanis itu. Sedang denganku mana ada !” 


Nara mengatupkan mulutnya rapat-rapat. Ia merasa terhakimi saat ini. Ucapan Aryan memang ada benarnya , ia bahkan tidak memberikan embel-embel apapun saat memanggil suaminya sendiri.


“ Lalu aku harus panggil apa?” tanya Nara tanpa dosa hingga membuat bik Ina dan Jonas yang duduk di seat depan kini saling menahan senyum mereka. 


“ Apa kek ! Sayang, honey, beb, mas atau panggil Daddy aja sekalian jadi saat anak kita lahir nanti kamu tidak perlu mengubah panggilan kita lagi. “ 


“ Astaga ! Honey, beb……Menggelikan !”


“ Apa kamu bilang ?”


Nara menggeleng cepat dan tidak berani memandang wajah Aryan yang menyebalkan dengan rasa cemburu yang menguar hanya terhadap seorang Jonas yang begitu setia padanya. 


Sampai di Bandara, mereka sudah menunggu di kedatangan Internasional menemani bik Ina yang menanti kehadiran putra tercintanya. 


“ Selamat Hari Ibu,” ucap pria muda itu kemudian mencium punggung tangan bik Ina dan memeluk wanita itu dengan erat sekali.


“ Aaaaahhhh, so sweet!” celetuk Nara yang begitu meleleh seraya menautkan ke sepuluh jemarinya satu sama lain sambil tersenyum manis.


“ Apa sih, El? Gak usah lebay !” sahut Aryan yang sudah melirik sinis karena tak melihat ada sesuatu yang patut dikagumi dari pertemuan ibu dan anak itu. 


“ Ck ! Dasar gak romantis ! Kaku banget kayak kanebo kering !” 


“ Arkha, kasih salam dulu sama Tuan Aryan dan Nyonya Nara,” titah bik Ina pada putranya yang langsung menyalami Aryan. Pria itu yang membiayai sekolah Arkha sampai ke luar negeri, Aryan bahkan sudah menganggap anak bik Ina itu adiknya sendiri. Kemudian dia menepuk pundak Arkha saat ia memeluknya sebentar. Tak lupa kini uluran tangan mengarah kepada Nara yang langsung memujinya . 


“ Wah, sopan sekali. Hai, aku Elnara. Panggil Nara saja .” 


“ Dia istriku !” Aryan langsung menampik keras tangan istrinya yang baru saja terulur ke arah Arkha. Ia tidak membiarkan keduanya bersalaman sampai tangan pria muda itu kini menggantung di udara. Arkha pun merasa canggung dan akhirnya memilih merangkul sang Ibu. 


“ Emm, bik Ina. Sudah ada mobil dan sopir yang nanti mengantar bik Ina ke kampung. Selamat liburan,” ucap Aryan singkat seraya merangkul pinggang istrinya. 

__ADS_1


Mereka pun saling melambaikan tangan saat bik Ina dengan anaknya kemudian menuju area penjemputan. 


“ Bik Ina bahagia sekali, ya ?Sudah berapa lama tidak bertemu anaknya ?” 


“ Entahlah , mungkin hampir satu tahun. Arkha itu hanya berbeda satu tahun di atas kamu.” 


“ Kamu baik sekali mau menanggung masa depan keluarga bik Ina,” puji Nara pada suaminya yang begitu baik tapi kadang juga begitu menyebalkan di matanya. 


“ Bik Ina sudah kuanggap sebagai orang tuaku, El. Kasihan suaminya meninggal sudah lama dan dia harus bekerja untuk menghidupi anaknya.”


“ Iya, Bik Ina itu persis seperti ibuku, wanita tangguh.” 


“ Kamu tidak ingin menemui mamamu, Ar ? Apa kamu tidak ingin seperti Bik Ina dan anaknya, mereka begitu dekat, bukan ?” Nara menatap suaminya yang kini tampak muram.


Aryan tidak menyahut meski Nara kini mencoba merayunya dengan bergelayut manja di lengan suaminya agar Aryan tidak marah dengan perkataannya.


“ Relakan masa lalu kalian yang pahit dan menyakitkan. Beri kesempatan hati kalian untuk memperbaiki masa depan, seperti yang aku lakukan padamu.”


Aryan kini menatap wajah Nara yang setengah takut dengan menggigit bibir bawahnya . Ucapan Nara lagi-lagi menghantam pikiran dan perasaannya. Bahwa apa yang dilakukan Aryan kini juga harus bercermin dari Nara yang sudah berupaya memaafkan dan menerimanya. 


Aryan belum menjawab sampai mereka sudah memasuki mobil yang dikemudikan oleh Jonas di depan mereka . Dan Nara masih terus berusaha membujuk Aryan dengan kalimatnya yang super halus dan mengandung permohonan. Hingga Nara sudah kehabisan kata-kata saat suaminya masih belum juga menanggapinya.


Sampai kemudian Nara memanjangkan lehernya mencium pipi Aryan tanpa malu meski ada Jonas di antara mereka . 


“ Aku mohon…….” 


Tak tahan dengan sikap Nara yang ingin sekali diterkamnya saat ini, Aryan pun membalas ciuman Nara itu dengan melumaat bibir tipis sang istri yang sudah membuatnya candu itu. Tak peduli ada orang di depan mereka, Nara pun menerima saja balasan ciuman itu demi satu tujuan yaitu mengembalikan hubungan kasih sayang ibu dan anak yang terputus selama bertahun lamanya. 


Aryan melepas pangutannya dengan napas tersengal lalu memeluk Nara yang sudah berhasil meluluhkan hatinya sedikit demi sedikit. Ia membuang napas kasar sebelum membuka suara. “ Jo, aturkan pertemuanku dengan Mama, sekarang juga !” 


.


...****************...

__ADS_1


__ADS_2