Wedding Agreement

Wedding Agreement
Benar-benar iblis


__ADS_3

“ Eemm, Pak Jonas. Sudah berapa lama ikut sama Tuan muda itu ?” tanya Nara pada Jonas yang menjemputnya dari Esmod  sore ini karena Aryan masih ada meeting penting yang tidak bisa ditinggal . 


“ Semenjak Tuan Arya masih hidup , Nyonya muda.”


“ Wow, berarti kalian besar dan tumbuh bersama-sama ? Hebat ! Persahabatan kalian luar biasa,” puji Nara memekik kagum pada loyalitas seorang Jonas yang tidak berkurang meski sudah bertahun-tahun bersama.


Jonas sendiri hanya melempar senyum canggung karena Nara menolak duduk sendiri di belakang dan memilih bersamanya di bangku depan. 


“ Maaf, panggil saya Jonas saja seperti Tuan Muda.”


“ Janganlah. Tidak sopan saya memanggil yang lebih tua tanpa embel-embel di depannya. Kalian seumuran , kan?” 


Jonas kembali mengangguk sungkan.


“ Kalau begitu saya panggil kakak saja, ya ?” 


Jonas lagi-lagi hanya bisa menggaruk kepalanya tanpa menolak apapun atau mengiyakan. Pria itu ketar-ketir juga sebenarnya khawatir Nara akan bertanya padanya macam-macam soal apa dan bagaimana sosok Aryan dan sebagainya.


Namun untungnya Nara bukan tipe orang yang sangat kepo hingga mereka hanya mengobrol biasa tanpa menyentuh apapun yang memberatkan Aryan untuk menjawab. Bahkan baru pertama kali berdua dalam kendaraan yang sama saja, Nara sudah bisa akrab dengan pria yang menurut Nara jauh lebih kalem dan friendly ketimbang Aryan yang tidak jelas alur pikirannya. Sebentar baik, sebentar emosi lalu berganti murka dan ujung-ujungnya meminta maaf. 


“ Kak Jo, bisa turunkan saya di bawah saja? Saya mau beli sesuatu dulu di supermarket,” pinta Nara saat Jonas sudah membelokkan kendaraan memasuki halaman super luas dari gedung bertingkat mewah ini.


“ Silahkan, Nyonya Muda. Saya parkir kendaraan dulu setelah ini saya susul.”


Nara diturunkan persis di depan pintu masuk supermarket fasilitas gedung itu langsung menuju ke dalam mencari makanan kecil dan buah karena cemilan yang diberikan Oma tempo hari sudah habis .


Semenjak hamil dan sibuk, Nara jadi suka makan apa saja meski berat badannya juga tidak naik secara spesifik. Mendorong sebuah trolley, Nara dengan cepat memasuki lorong makanan dan buah-buahan. Sementara Jonas berjaga dengan jarak aman untuk melihat dan mengawasi sekitar dengan tatapan super tajamnya. 


Nara masih memilih buah jeruk sambil dihirup aromanya yang segar, lumayan untuk mengurangi rasa mualnya yang sudah berangsur menurun. Saat menggeser trolleynya, tiba-tiba ada sebuah tangan yang menahan tepian benda itu hingga Nara sontak mendongak.


Sebuah senyum keibuan kini menyapanya.


” Hai , kita bertemu lagi. Kemarin belum sempat tahu namamu.” 


“ Mama !” Nara menggigit bibir bawahnya saat kelepasan memanggil Ayana dengan sebutan nama. 


“ Tidak apa. Saya memang mama mertuamu, kan?”


“ Elnara, panggil saya Nara saja,” ucap Nara begitu senang dengan kehadiran ibu mertua yang tiba- tiba menerima keberadaannya di sisi Aryan tanpa bertanya siapa dan dari mana asalnya.


Nara pun kini tak sungkan mencium pucuk tangan Ayana dan wanita itu membalas dengan pelukan hangat seorang ibu yang begitu nyaman untuk Nara saat ini. 


“ Bisa kita mengobrol santai sebentar?”


Nara pun mengangguk lalu kini keduanya bersama di sudut cafetaria yang terletak di salah satu sisi supermarket. Awalnya Nara tertunduk sungkan karena Ayana ini punya aura hampir seperti Oma Herlina yang tenang namun tetap mengintimidasi. 

__ADS_1


“ Bagaimana kabar rumah tangga kalian? Tidak ada masalah, kan? Aryan baik sama kamu kan, Nara ?”


Nara hanya mengangguk haru saat suara Ayana ini begitu mirip dengan sang ibu yang sangat sabar dan keibuan. “ Aryan sangat baik,” ucap Nara yang tidak ingin membuat kata-kata lain meski ingin sekali Nara bilang kalau suaminya itu begitu menyebalkan. 


“ Syukurlah. Mama hanya bisa mendoakan semoga rumah tangga kalian terus diliputi kebahagiaan. Oh ya, Mama dengar kalian akan punya momongan ?” 


Nara makin tertunduk tidak enak bahwa Ayana telah tahu kalau ia sudah hamil sebelum mereka menikah, lebih tepatnya Nara merasa malu. Akhirnya ia hanya mengiyakan dengan anggukannya. 


“ Tidak apa, Nak. Anak itu adalah anugerah, kalian beruntung segera memilikinya. Boleh Mama pegang? Sudah berapa minggu ?”


Hidung Nara menghangat rasanya dengan perhatian kecil yang diberikan Ayana padanya. Nara bahkan sekelebat berharap mereka bisa tinggal bersama atau paling tidak bisa bertemu setiap hari.” Sudah hampir enam belas minggu.” 


Nara pun memposisikan dirinya agar Ayana bisa mengulurkan tangan ke perutnya yang terasa mengeras di bagian bawahnya. Ayana tersenyum teduh. “ Semoga kalian sehat dan diberkahi sampai nanti melahirkan.” 


“ Terima kasih,” jawab Nara hampir saja meledak tangisnya jika saja ia tak menahannya. 


Berada di dekat seorang ibu seperti ini sungguh membuat Nara tenang dan damai. Dan kesempatan ini tidak akan dimanfaatkan oleh Nara untuk mengorek lebih dalam soal masa lalu ibu mertua dan juga suaminya. Nara benar-benar ingin menikmati waktu bersama tanpa merusaknya dengan situasi yang membuat mereka tidak nyaman. 


“ Oh ya. Apa Opa dan Oma sering mengunjungi kalian?” 


“ Lumayan , Ma. Beberapa hari lalu Oma mengirimkan Nara banyak makanan.”


“ Syukurlah !” Ayana nampak menghela napasnya berat. “ Apa Opa juga baik padamu, Nak? Beliau menerimamu?”


Jantung Nara seketika berdegup hebat kala melihat wajah ibu mertuanya yang seketika berubah murung.


“ Me-memangnya, kenapa ya,Ma?”


Ayana menggeleng lalu mengelus rambut Nara yang tergerai sampai punggung.


“ Eemm, tidak apa. Kalau hubungan kalian baik-baik saja, mama tenang.  Mama doakan yang terbaik, jangan sampai apa yang mama alami dulu terulang ke kamu, Nak.” 


Nara kini menahan tarikan napasnya ke dalam dada. Ada sebuah pesan tersirat yang coba wanita itu sampaikan padanya namun seperti tertahan. Ingin sekali Nara bertanya soal hal ini, namun dari mana ia harus memulainya? 


Tiba-tiba Nara merasa sangat waswas karena ekspresi Ayana seperti memendam sesuatu yang menyakitkan. 


“ Oh ya, sayang. Mama ada sesuatu untuk kamu.”


Ayana lantas mengeluarkan sebuah kotak yang mirip perhiasan pada menantunya lalu membukannya hingga Nara membelalak. Ayana mengambil sebuah kalung bertahta emas putih dengan bandul yang mengkilap biru.


“ Ini kalung pemberian almarhum Papanya Aryan untuk Mama, sekarang jadi milikmu. Mama senang Aryan sudah menemukan jodohnya. Kamu pakai, ya,” pinta Mama Ayana lalu memasangkan kalung itu ke leher Nara dan memberikan sisa perhiasan lainnya di kotak ke tangan Nara. 


“ Terima kasih, Ma.”


“ Kamu anak yang baik, pasti akan bahagia bersama putra Mama satu-satunya.”

__ADS_1


Nara masih memegangi ujung bandul kalung itu sampai ia tidak sadar ada sebuah langkah besar yang menghampirinya. 


“ ELNARA !” 


Nara terperanjat saat suara Aryan sudah menyentak bak petir yang menyambar . Begitupun Ayana yang tak kalah kaget dengan kedatangan Aryan yang tiba-tiba. 


“ Ngapain kamu di sini!” 


“ Aryan , Jangan membentak seperti itu,” cegah Ayana yang melihat kilatan mata  memerah Aryan yang seperti siap menerkam mangsanya. 


“ Pulang !”


Nara segera berdiri takut karena Aryan lagi-lagi mengeluarkan suaranya yang meninggi. 


Nara menoleh sebentar pada Ayana yang mengangguk lalu Aryan dengan kasar menarik pergelangan tangan istrinya lalu menyeretnya hingga kotak perhiasan yang tadinya masih di pangkuan Nara kini terjatuh. 


Ayana sampai geleng kepala dengan kekerasan hati putranya, sampai kemudian Jonas datang dan mengambil barang belanjaan Nara yang tertinggal. 


“ Jo, aku hanya ingin bertemu Nara. Kenapa kamu mengadu pada Aryan?”


“ Maafkan saya Nyonya,” jawab Jonas tanpa memberi alasan sampai Ayana memaksa memberikan kotak perhiasan itu pada Jonas untuk diberikan pada menantunya.


“ Aryan pelan-pelan !” pekik Nara yang tak bisa mengimbangi langkah besar suaminya yang menyeret tangannya menuju ke lift.


Nara memegangi perutnya yang sudah terasa tidak nyaman karena Aryan sampai menghentakkan tubuhnya begitu memasuki lift yang membawa mereka naik. 


“ Kenapa kamu marah, Ar?”


“ Siapa yang mengizinkan kamu bertemu dan bicara dengannya ?” bentak Aryan. 


Nara tak menyangka reaksi Aryan akan sekeras itu. Hingga lift sudah membawa mereka ke lantai penthouse, Aryan masih menyeret lengan Nara sampai memasuki rumah dan bik Ina yang melihat mereka sampai ikut khawatir. 


“ Aryan, kamu ini kenapa sih ! Mamamu yang menemuiku dan meminta bicara seadanya. Apa salahku? “ Nara masih mencoba membela diri karena menganggap kemarahan Aryan sungguh tidak beralasan.


Melihat ada sebuah kalung yang berkilau di leher istrinya, Aryan pun semakin murka lalu menarik ujung kalung itu hingga terlepas dari leher Nara lalu membuangnya ke sembarang tempat. 


“ Aawwhh ! Kamu menyakitiku, Ar !” Nara memegang lehernya yang seketika terasa  perih.


Tak berhenti sampai disitu, entah setan apa yang membuat Aryan kemudian mendorong tubuh Nara ke sofa hingga wanita itu berdecit kesakitan. Aryan sudah seperti kerasukan jin jahat hingga menyakiti Nara sekejam itu . 


Nara kini memegangi perutnya yang terasa sakit. “ Aakkhh! Kamu benar-benar iblis Aryan !” 


.


...****************...

__ADS_1


__ADS_2