Wedding Agreement

Wedding Agreement
141.eps 141


__ADS_3

Setelah hampir satu jam mereka berkeliling merasa kakinya kesemutan, Ega segera melihat arloji di tangan kirinya.


"Sayang, sudah jam lima ayo kamu mandi. Hamil muda tidak baik mandi sore-sore," tegur Ega. "Kamu juga tidak boleh kelelahan," ucapnya lagi.


"Iya mas, mungkin bunda dan papa juga sudah pulang. Tadi kamu belum bertemu dengan bunda kan?"


"Habis kamu tidak membangunkanku."


"Aku lihat kamu tidur pulas banget ngak tega, Mas. Nanti habis magrib kita jalan-jalan gimana?" ajak Asha yang kangen kota kelahirannya.


Ega tersenyum menanggapi istrinya, sebenarnya ia ingin menolak tapi tak tega mengucapkannya ia tidak istrinya kecewa.


"Nak, kamu dari mana baju kamu kotor sekali," tegur Aira.


"Bunda," sapa Ega dengan mencium tangan ibu mertuanya. "Maafkan Ega baru menyapa sekarang padahal Ega sudah tiba dari siang tadi," tutur Ega.


"Tidak apa, Nak. Bunda yang merasa bersalah, kalian datang jauh-jauh malah kami tinggal pergi."

__ADS_1


"Kami sebenarnya kesini ingin merepotkan bunda," lirih Ega yang berjalan beriringan masuk ke dalam rumah.


"Merepotkan apa?"


"Asha istriku ngidam ingin makan masakan bunda," jelas Ega.


"Iya bunda, aku ingin masakan bunda. Rica-rica ayam, ikan bendeng presto, sama gudeg," sahut Asha.


"Benaran kamu sudah isi, Nak? Sudah berapa bulan kenapa tidak memberi kabar bahagia ini pada bunda dan papa? Sudah kamu cepat bersihkan diri, bunda akan segera membuatkan makan malam sesuai apa yang kamu inginkan."


Alhamdulilah, akhirnya nanti kita tidak jadi keluar. Kalau di rumah pasti Asha cepat istirahat aku ngak ingin dia terkena angin malam lama-lama aku khawatir dengannya juga anak dalam kandungannya batin Ega.


"Sayang biar pak Men yang beliin gimana?" tawar Aira.


"Aku ngak mau, aku maunya di makan disana," rajuk Asha yang wajah ditengkuk. "Mas Ega mau kan?" tanya Ega menggoyangkan lengan suaminya.


Ega sudah tidak bisa berbuat apa lagi karena sudah melihat istrinya merajuk ia terpaksa menurutinya.

__ADS_1


"Iya, tapi ingat kamu ngak boleh terlalu capek," ucap Ega. "Bunda, kami naik ke atas dulu ya," pamit Ega.


Sampai di dalam kamar Ega segera membopong istrinya menuju kamar mandi. Sebenarnya ia ingin menggendong istrinya sejak dibawa saat Asha telah berjalan lama, melihat raut wajah yang lelah tapi niatnya di urungkan karena mereka harus tahu tempat.


Asha tidak melakukan penolakan, ia justru menggalungkan kedua tangannya di leher suaminya dengan menyandarkan tubuhnya didada bidang suaminya.


Ega yang berjalan membawa istrinya sesekali meliriknya, merasakan semakin terasa bebannya. Sejak hamil setiap minggu berat badan sang istri mulai bertambah, hamil tiga bulan berat badannya telah bertambah 5kg. Menurutnya semakin cantik melihat istrinya yang makin padat kenyal dengan perut mulai kelihatan buncit.


"Mas Ega berat ya," lirih Asha.


Asha mulai mengusap butiran keringat yang membasahi kening suaminya mengusapnya lembut.


Ega menggeleng lalu tersenyum.


Asha segera mencium bibir suaminya sesaat.


"Makasih sudah menjadi suami terbaikku."

__ADS_1


Ega menurunkan istrinya di bawah shower menyalakannya hingga tubuh mereka terguyur air dari atas lalu mereka menikmati setiap bibir yang saling bertaut, sekali mengeluarkan desahan yang lolos begitu saja dari bibirnya. Sensor.


Bersambung..


__ADS_2