
“ Aku merindukanmu, Ar. Aku tidak bisa kamu abaikan. Mari kita bermain lagi,” pinta Clara dengan suara dessahan yang manja sambil terus menggoyangkan tubuhnya di atas tubuh Aryan yang berupaya bangun tapi kepalanya seperti membawa bebas ratusan kilo.
“ Sssshhh ! Awas, Clara . Aku tidak ingin bermain. Carilah pria lain,” Aryan mengernyit merasakan kepalanya yang sangat berat akibat terpukul sesuatu di area tengkuknya tadi.
“ Tidak, malam ini kita harus berhasil. Aku juga bisa hamil seperti istrimu itu !”
Tanpa basa -basi Clara langsung membuka pakaian bawahnya dengan agresif membawa milik Aryan untuk dibuatnya menegang.
“ Clara , Awas ! Aku terkena penyakit hepatitis, kamu mau aku tulari?”
Deg !
Seperti ada tombol pause yang menghentikan gerakannya, Clara yang bahkan sudah siap dihamili oleh Aryan itu mendongak tak percaya.
“ A-apa? He-hepatitis? Bagaimana bisa ? kamu pasti berbohong !”
Antara bingung dan takut, Clara lantas melempar benda yang akan dimainkan dalam mulutnya itu dengan kasar.
“ Siialan kamu, Aryan !” merasakan perutnya yang tiba-tiba mual membayangkan terkena sebuah penyakit yang menjijikan, Clara malah berteriak histeris.
Braaakkkkk !
Pintu kamar hotel terdobrak dari luar saat Clara masih dalam posisi terduduk di atas tubuh Aryan. Gadis itu sontak menoleh.
“ Tuan Muda !”
“ Jo ! Kamu!” Clara tak percaya bahwa Jonas tiba-tiba datang mengganggu dan membuka paksa pintu kamar itu.
“ Nona Clara , tolong menyingkir !”
...----------------...
“ Tuan Muda anda benar tidak apa?Kita ke rumah sakit dulu, bagaimana?”
Aryan menggeleng cepat seraya memijat pangkal hidungnya,” Tidak usah, kita langsung pulang saja. Sudah malam, El pasti menungguku.”
“ Tapi kondisi anda…..”
Aryan mengangkat telapak tangannya agar asistennya itu tidak mengoceh lagi.
“ Tolong belikan susu saja!”
Jonas mengangguk lalu menepikan kendaraan memasuki sebuah minimarket yang buka di tengah malam. Sementara Aryan memilih turun lalu duduk di tepian jalan untuk meraup oksigen bebas sebanyaknya.
Perutnya sudah terasa tidak enak sejak tadi. Jonas lalu datang memberinya satu kaleng susu siap minum dan Aryan pun meminumnya hingga habis.
Menunggu beberapa saat, Aryan pun merasakan perutnya mual lalu segera memuntahkan isi perutnya ke tepian jalan raya.
Jonas segera memberinya air mineral dalam botol yang digunakan Aryan untuk mengguyur wajah dan sebagian rambutnya.
“ Ambilkan baju gantiku !” perintah Aryan segera dipahami Jonas yang mengambil sebuah kaos dari dalam dashboard mobil.
__ADS_1
“ Kamu tadi tahu dari mana aku ada di kamar itu ? “ tanya Aryan pada asisten serba bisanya itu.
“ Nomor Tuan Muda kan terhubung ke ponsel saya.”
Saking pusingnya, Aryan sampai lupa bahwa Jonas ini selalu tahu dimana letak posisinya dengan mengandalkan aplikasi yang menghubungkan letak linimasa dirinya yang terhubung ke ponsel Jonas selama dua puluh empat jam.
“ Kalau begitu hubungkan sekalian nomor ponsel El ke ponselmu dan jangan lupa ke ponselku juga.”
“ Baik Tuan Muda.”
“ Lebih cepat sedikit, Jo !” pintanya saat melihat jam di pergelangan tangannya sudah menunjukkan pukul dua dini hari.
Membayangkan Nara yang tidak bisa tidur tanpanya, Aryan pun gelisah dan mengutuk dirinya sendiri yang begitu ceroboh sampai Clara berhasil hampir mendapatkannya lagi.
Dan benar saja, saat Aryan membuka pintu rumah, Nara sudah berdiri menyambutnya dengan pakaian piyama panjang.
“ El, kenapa gak tidur ?”
Aryan yang terkejut Nara berdiri dengan tatapan datar itu kini mendekatinya. Namun Nara memundurkan langkahnya karena aroma alkohol menguar dari tubuh suaminya. Nara melihat Jonas mengantar Aryan sampai depan pintu lantas mengangguk dan undur diri.
“ Sudah sampai dengan selamat, aku tidur,” ucap Nara datar hingga membuat Aryan jadi tak enak hati.
Merasakan aroma yang tidak enak, Aryan lantas menahan lengan Nara yang akan berbalik pergi. “ Katakan kamu ada apa?”
“ Tidurlah, sudah larut . Aku tadi bisa tidur kok tanpa kamu. Aku hanya memastikan kamu bisa pulang dengan selamat sampai rumah, itu saja.”
Membiarkan Nara pergi dulu, Aryan akhirnya mengalah sementara karena sadar tubuhnya masih menguarkan aroma alkohol bercampur bekas muntah yang pasti membuat siapapun tidak nyaman.
Nara kini kembali ke kamarnya menenggelamkan tubuhnya di bawah selimut, memiringkan tubuhnya ke kanan memeluk sebuah guling berharap ia bisa langsung terlelap. Mengetahui suaminya yang tak kunjung pulang membuat Nara tidak bisa memejam sedari tadi. Padahal besok ia harus berangkat pagi ke tempat sekolah fashionnya. Namun entah mengapa kedua mata Nara seakan masih terang benderang.
Aroma harum sabun mandi langsung memanjakan hidung Nara yang merasa tenang ditambah lengan Aryan yang terulur dingin di lehernya.
“ Menghadaplah kemari, El . Aku tahu kamu belum bisa tidur. Maaf ya,” ucap Aryan setengah berbisik di belakang Nara lalu menyingkap helaian rambut istrinya hingga menampilkan sebagian wajah Nara hingga leher yang menggoda .
Nara yang tak ingin Aryan terlalu kelepasan terbiasa dengan keberadaan mereka tinggal bersama itu kini menyingkirkan tangan kiri suaminya dengan sembarang.
“ Aakh ! Sssshh !” pekik Aryan langsung merasa lehernya nyeri karena Nara seperti melempar lengannya begitu saja.
Nara segera berbalik dan mendapati Aryan mengernyit meraba kepala bagian belakangnya.
“ Kenapa? Ada apa ?” Nara pun panik melihat Aryan yang kesakitan.
Ia menyalakan lampu kamarnya hingga terang, Nara membangunkan dirinya, lalu membalikkan tubuh Aryan dan mengecek bagian belakang kepalanya.
“ Astaga, memar ! Kenapa ini ? Kamu habis berantem ? Sudah ke dokter?”
“ Gak apa-apa, aku baik-baik saja.”
“ Tidak apa, apanya ?Sampai bengkak seperti itu !” gerutu Nara langsung turun dari ranjang dan pergi ke tempat penyimpanan obat.
Diambilnya sebuah ice bag dan kotak obat lalu setengah berlari ia kembali ke kamar saat Aryan sudah mendudukkan dirinya di tepi tempat tidur.
__ADS_1
“ Jangan lari, El. Kamu selalu lupa kalau sedang hamil.”
Nara jadi tidak enak sendiri dengan Aryan yang memperhatikan setiap pergerakannya. Nara sendiri yang sampai dengan detik ini mencoba tidak memiliki perasaan apapun pada kehamilannya itu hanya tertunduk dan mengangguk.
Ia paham Aryan hanya mencemaskan kehamilannya, bukan dirinya.
Nara menempelkan kompres dingin ke leher Aryan yang menahan perih, lalu mencari obat pereda nyeri dan memberikannya pada Aryan yang langsung meminumnya.
Melihat luka memar di tengkuk suaminya , Nara yang akhir-akhir ini memiliki perasaan super sensitif itu malah tak bisa menahan sedihnya. Ia malah terisak meski sekuat mungkin coba ia tahan.
“ El, kamu tolong jangan menangis. Aku minta maaf sudah membuatmu khawatir.”
“ Aku tidak khawatir!” tampik Nara mencoba membohongi perasaannya sendiri.
Wanita itu lantas menata bantal dengan menumpuk beberapa lalu meminta Aryan menyandarkan punggungnya dengan nyaman di tumpukan bantal itu dengan kompres yang masih menempel di area leher belakangnya.
“ Terima kasih,” ucap Aryan tulus dengan menarik tangan Nara agar tidak menjauh darinya.
Akhirnya Nara pun ikut duduk dan tidak jadi tidur padahal hari sudah berganti.
“ Tidurlah, besok pagi tidak perlu ke Esmod dulu, biar aku panggilkan pengajar untuk ke sini agak siangan.”
Nara tak menolak usulan Aryan yang lumayan masuk akal karena besok pagi Nara pasti akan susah bangun pagi karena begadang seperti ini.
“ Habis minum, lalu berantem dengan siapa?” Nara yang juga meninggikan bantalnya itu bertanya dengan wajah datar meski perasaannya begitu khawatir dengan luka memar memerah yang memenuhi leher suaminya.
“ Tidak berantem dengan siapa-siapa, hanya insiden kecil. Maaf ya, kamu jadi repot . Lain kali aku akan lebih berhati-hati.”
Nara tetap duduk bersandar di posisinya saat Aryan kini mengulurkan tangan seperti biasa ke bagian perutnya yang sudah terasa sedikit mengeras di bagian bawah. Aryan merasa lucu bahwa yang dirabanya saat ini akan terus tumbuh besar nantinya.
Merasakan Aryan yang begitu mencintai calon anaknya, hidung Nara kembali menghangat dan sejurus kemudian malah menghasilkan bulir air mata kembali di wajahnya.
“ El. tolong jangan menangis,” Aryan pun menegakkan posisinya menghapus air mata yang menghiasi wajah cantik Elnara.
Aryan mendorongkan dirinya mendekati Nara yang diliputi kekalutan dalam jiwanya.
“Kenapa kamu menangis, El?”
Nara menggeleng lalu mengusap wajahnya, namun tangan Aryan segera menahannya dan mengganti dengan jemarinya kini yang mengusap pelan wajah Nara dan memainkan ibu jarinya di pipi Nara yang mulus.
“ Nara , bisakah di kemudian hari kita bisa sama-sama saling terbuka, saling bercerita apapun itu. Bisakah aku menjadi orang pertama yang tahu apa yang kamu alami, apa yang kamu rasakan ?”
Nara merasakan hembusan napas Aryan yang menderu hangat di wajahnya. Betapa ucapan dan wajah Aryan begitu memabukkan kini. Nara jelas sedang berperang melawan logikanya sendiri.
Sampai kemudian Aryan menempelkan bibirnya ke pipi Nara lalu menahannya sampai deruan napas Aryan kembali menghangat.
Sekian detik kemudian bibir Aryan pun bergeser ke bibir Nara yang tipis nan menggoda. Mengingat penyakit hepatitis yang sama-sama mereka derita, Nara segera ingat lalu memundurkan wajahnya.
Namun siialnya, Aryan segera menahan kepala Nara agar tidak menjauh dan kembali mendorongkan bibirnya. Bulu mata Nara kini malah seolah menari-nari karena ia terus mengerjap gugup.
“ El, Virus kita itu tidak akan membelah diri dan beranak-pinak hanya karena kita berciuman kan ?”
__ADS_1
.
...****************...