
Astagfirulallah batin Adiba. Itu kan Adelio, kok bisa berkelahi dengan bang Usup. Ia segera berlari memisahkan kedua orang yang ia kenal saat ia ingin memisahkan tanpa sengaja bogeman Arsen mengenai wajah Adiba hingga sudut bibirnya mengeluarkan darah segar.
Adiba merasa kepalanya berkunang-kunang, mulai terasa pusing tidak lama ia jatuh tak sadarkan diri. Beruntung Arsen dengan cekatan menangkap Adiba. Ia segera membopong Adiba menuju mobilnya, ia meletakan kepalanya dipangkuan wanita paruh baya yang bersama Adiba.
Di pejalanan Arsen melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi, ia juga menyalakan klaksonnya terus menerus agar kendaraan yang ada dihadapannya minggir dengan segera sebelum ia murka.
Bu Umi yang panik dengan keadaan Adiba yang tak kunjung sadarkan diri, bertambah panik ketika mobil yang ia tumpangi dengan tiba-tiba mengijak remnya secara mendadak. Hampir tiga jengkal lagi kepalanya terbentur kursi pengemudi.
Bu Umi mengelus dadanya. Mungkin jika ia memiliki riwayat jantung telah meninggal ditempat.
"Nak, kamu mau bawa kita ke rumah sakit apa ke neraka sich?" hardik bu Umi.
__ADS_1
"Maaf bu, habis aku khawatir terjadi sesuatu dengan Adiba. Apa belum ada tanda-tanda dia sadarkan diri? Bu, tolong periksa denyut nadinya. Dia masih hidupkan," cerocos Arsen yang khawatir dengan keadaan Adiba. Walaupun ia membenci Adiba di lubuk hatinya yang paling dalam masih tersimpan rasa cinta untuknya. Ia terkadang bingung dengan hatinya, semakin ia membenci dan melupakannya justru semakin dalam rasa cintanya untuk Adiba.
"Kamu siapa? Apa kamu kenal dengan Adiba? Setahu ibu dia tidak memiliki teman, dia hidup sebatang kara," jelas bu Umi. Ia mulai kepo karena ada sosok laki-laki tampan yang menyukai tetangganya, pasalnya selama ini hidup berdampingan dengan Adiba ia tidak pernah melihat satu orangpun yang datang mengunjungi Adiba walaupun itu perempuan.
"Aku atasannya dia, sudah sebaiknya cepat kasih minyak kayu putih ini untuk Adiba agar lekas sadar," perintah Arsen.
Arsen mengemudi dengan salah satu tangannya, dengan tangan satunya mencari nomer kontak dokter pribadinya untuk segera menyiapkan ruang khusus untuk Adiba.
Tim medis dengan segera mendorong brangkar menuju UGD untuk melakukan pemeriksaan medis.
Arsen dengan bu Umi kini mondar-mandir di depan ruang UGD menunggu hasil pemeriksaan. Arsen tertunduk lemas, kini pikirannya mulai tak karuan. Ia takut jika tidak memiliki kesempatan untuk memohon maaf pada Adiba. Ia ingin mengatakan sesuatu padanya.
__ADS_1
Arsen melihat dokter keluar segera menghampirnya, "Dok, gimana keadaan pasein?"
"Tunggu pasein sadar untuk melakukan pemeriksaan lanjutan. Kami akan memindahkan pasien ke ruang rawat inap, tolong urus administrasinya," jelas dokter.
"Baik dok," jawab Arsen. "Bu, tolong jaga Adiba. Aku akan mengurus adiministrasinya," tutur Arsen.
Setelah mengurus semua biaya rumah sakit, ia menuju ruangan Adiba. Melihat wanitanya masih terbaring dan tak kunjung membuka mata ia merasa bersalah. Andai ia tidak berkelahi mungkin Adina tidak terluka seperti ini.
"Bu, biar aku saja yang jaga. Ibu sebaiknya pulang saja, ini uang untuk ongkos ibu pulang," tutur Arsen.
"Baiklah, jika terjadi sesuatu segera hubungi ibu ya. Ini nomer ponsel ibu," ucap Bu Umi dengan menujukan nomernya pada ponsel jadul milik Adiba.
__ADS_1