Wedding Agreement

Wedding Agreement
89. Nyonya Alex


__ADS_3

Setelah sepuluh menit kemudian, Tuan Alex dan istrinya datang menyapanya, dengan senyum ramah dengan sedikit membungkukkan badannya lalu mengulurkan tangan untuk saling berjabat tangan.


"Tuan Albram, maaf membuat kalian menunggu! Karena kami tidak bisa mengemudi dengan cepat, istriku sedang hamil muda," jelas Tuan Alex.


"Tidak masalah, kami juga baru saja sampai. Silahkan duduk, Tuan Alex, Nyonya Rara," sapa Ega.


"Siapa wanita cantik ini Tuan Albram, sepertinya wajahnya tidak asing," kata Alex mencoba mengingat-ingatnya. "Apa ini Nabila tapi kok tidak pakai hijab," ucapnya.


"Mas Alex, ya bukan ah. Tidak mungkin Mbak Bila disini dia kan lagi di Jakarta aku saja baru kirim pesan dengannya," sahut Rara.


"Nabila?! Nabila siapa? Apa Mbak Bila yang suaminya Mas Kenzo?" tanya Asha menyelidik.


"Oya Tuan Alex, perkenalkan disampingku ini istriku Ashanum, panggil saja Asha," sahut Ega agar klien di depannya tidak semakin salah paham. "Sayang, mereka klien aku yang ada di luar kota," katanya lagi pada istrinya.


"Benarkan! Mas ini itu bukan Mbak Bila, mungkin saja memang kebetulan wajahnya mirip," tegur Rara.


"Kalian para wanita bisa lanjut mengobrol disini berdua agar lebih dekat, dan sebaiknya kita Tuan Alex pindah tempat saja agar lebih nyaman berbicara bisnis," saran Ega.


"Boleh juga itu Tuan Albram, siapa tahu dari awal kita kerjasama tahun lalu kita bisa jadi rekan kerja sekaligus saudara nanti," ucap Alex.


Ega dan Alex segera mencari tempat yang sedikit jauh dari para istri mereka, agar memudahkan komunikasi bisnis yang mereka jalankan. Sedangkan setelah kepergian para laki-laki kini tinggal Asha dan Rara yang masih canggung untuk saling berbicara karena ini pertemuan pertama mereka.


"Mbak Asha, sudah lama menikah?" tanya Rara untuk menghidupkan suasana agar tidak sepi.


"Baru berjalan empat bulan, Mbak Rara sendiri? Mbak asli orang mana?" tanya Asha.


"Aku sudah hampir 10 tahun menikah, aku kelahiran Surabaya, ibuku asli jember sedangkan ayahku orang lampung," simpul Rara hingga memperlihatkan gigi putihnya.


"Kebetulan kita sama satu kota Mbak, aku juga asli Surabaya. Tapi sudah tiga tahun menetap kuliah disini dan akhirnya ketemu jodoh juga disini. Mbak Rara umur berapa ya? Kok masih kelihatan muda sekali," puji Asha.

__ADS_1


"Kamu bisa saja Mbak, aku sudah 27 tahun, aku menikah usia muda, bahkan sangat muda lo. Jadi malu aku, kamu sendiri umur berapa?"


"Aku masih mau 21 tahun, kalau begitu panggil Asha saja biar lebih akrab. Mbak tadi kalian sebut nama-nama Nabila memang siapa itu? Apa ada hubungannya dengan suamiku," ucap Asha menerka-nerka.


"Tidak ada, kami dengan suami kamu juga masih saling kenal dua tahun ini. Setahu kami suamimu orang yang sedikit tertutup tidak terlalu banyak bicara masalah pribadi kepada kami hanya sebatas wajar saja. Lalu Nabila yang dimaksud suamiku adalah istri dari sababatnya yang bernama Kenzo, ini fotonya mirip kan denganmu," kata Rara memperlihatkan layar ponselnya yang ada foto mereka berempat dalam acara reuni teman-teman Alex.


Ini kan Mbak Bila, pantas saja dia bilang aku Nabila memang kita mirip hanya beda tinggi saja batin Asha.


"Jadi kalian, teman kakak aku ya? Mbak Bila itu kakakku yang nomer 2, wah kebetulan sekali ya. Dunia memang sempit," tawa Asha pecah.


"Iya, kapan-kapan kita kumpul bersama ya. Biar lebih akrab lagi, tapi kenapa saat acara di rumah Mbak Bila aku ngak pernah lihat kamu?"


"Oh itu aku dibelakang layar saja bantu-bantu Bunda terkadang aku bagian tugas sesi momong keponakanku yang super aktif maunya main sama aku, ya terpaksa aku harus jagain mereka saat itu kan posisinya akulah yang belum menikah sendiri."


"Kamu jadi putri bungsu dari Tuan Raka Wijaya ya, aku tak menyangka bisa kenal-kenal orang hebat seperti kalian. Ibuku serta papaku itu juga sahabat Bunda kamu lo saat kuliah," jelas Rara.


"Tidak masalah, aku sama Mbak Bila jika ketemu juga selalu saja ghibah. Kamu kenal Mama Nia ya, itu ibuku, om Daneil itu papaku. Dan bocah kecil seusia 7 tahun itu adik aku kami terpaut sangat jauh, aku punya adik di saat aku sudah menikah, lucukan, tapi ada asyiknya," kekeh Rara sambil tertawa.


"Tidak masalah itu, yang penting orang tua kamu bahagia. Mama Nia dan om Daniel menurutku juga belum terlalu tua, mereka bahkan sangat kelihatan muda sekali lo?"


"Apa kamu tahu cerita masa lalu mereka?" tanya Rara menyelidik.


"Tidak, memang mereka punya masa lalu apa? Bunda tidak pernah cerita dengan anak-anaknya. Walaupun mereka sering bertemu untuk curhat, Bunda selalu menjaga rahasia sahabatnya sekalipun dengan Papa," jelas Asha.


Bunda Aira memang orang yang bisa dipercaya, padahal beliau tahu keburukan masa lalu ibu dia tidak sedikitpun berbicara pada putri-putrinya bahkan Mbak Nabila dan Asha pun tidak tahu batin Rara.


"Mbak Rara! Mbak, baik-baik saja kan?" tanya Asha yang melihat wanita di depannya sedikit melamun.


"Ada apa Mbak?" tanya Rara yang tidak mendengar jelas perkataan Asha.

__ADS_1


"Tidak apa-apa, Mbak sepertinya sedikit melamun, aku takut saja jika kamu sakit atau mengalami pregnancy brain," jelas Asha.


"Apa itu pregnancy brain?"


Apakah kamu pernah mengalami merasa susah konsentrasi, mudah lupa, dan sering melamun? Jika jawabannya iya, hal tersebut mungkin menandakan bahwa Bumil mengalami pregnancy brain. Kondisi ini tidaklah berbahaya dan dapat hilang sendiri setelah melahirkan. Pregnancy brain sebetulnya bukanlah penyakit atau kelainan medis, melainkan keluhan berupa gangguan memori dan sulit konsentrasi yang dialami ibu hamil. Diperkirakan 5-8 dari 10 ibu hamil pernah mengalami pregnancy brain," jelas Asha.


"Aku baru dengar ini, padahal aku sudah pernah hamil sebelumnya namun keguguran. Dan setelah sekian lamanya baru diberi kepercayaan lagi, hingga bisa hamil lagi. Memang Apa Penyebab Pregnancy Brain?"


Asha segera menjelaskan ilmu yang pernah ia terima dengan detail.


Hingga saat ini, penyebab pasti ibu hamil mengalami pregnancy brain belum diketahui. Namun, beberapa riset menunjukkan bahwa ada beberapa faktor yang kemungkinan turut berperan dalam menimbulkan gejala pregnancy brain. Faktor-faktor tersebut antara lain :


Kurang tidur, yaitu tak sedikit wanita yang mengalami susah tidur atau berkurangnya kualitas tidur saat hamil. Keluhan-keluhan ini bisa disebabkan oleh beberapa hal, mulai dari rasa tidak nyaman akibat rahim yang kian membesar, kram kaki, janin yang semakin sering bergerak, peningkatan metabolisme tubuh ibu hamil, hingga stres. Jika Bumil kurang tidur, tubuh Bumil akan menjadi kelelahan, sehingga otak pun menjadi sulit untuk berkonsentrasi dan mengingat.


Perubahan hormon yaitu saat hamil, kadar hormon kehamilan di dalam tubuh ibu hamil akan sangat meningkat. Meski normal terjadi, hal ini diduga berdampak pada kinerja sistem saraf di otak dan menyebabkan penurunan daya ingat.


Stres terkadang selama menjalani kehamilan, Bumil mungkin akan memikirkan banyak hal, mulai dari kesehatan janin di dalam kandungan, masalah keluarga atau pekerjaan, hingga biaya yang harus dipersiapkan untuk membeli perlengkapan dan kebutuhan dasar bayi, seperti susu dan pakaiannya. Hal tersebut kadang bisa membuat Bumil stres. Berbagai studi menunjukkan bahwa stres selama hamil bisa berdampak pada berkurangnya daya ingat dan konsentrasi. Bukan hanya itu, stres saat hamil yang dibiarkan berlarut-larut juga dapat meningkatkan risiko terjadinya depresi.


"Lalu gimana tips agar Pregnancy Brain Tidak Mengganggu Aktivitas Sehari-hari?" tanya Rara.


"Berikut ini adalah beberapa tips agar pregnancy braintidak membatasi aktivitas keseharian Bumil: Agar Bumil tidak lupa, buatlah catatan terkait aktivitas yang akan dilakukan, janji yang harus dipenuhi, hingga keperluan yang perlu dibeli. Cukupi waktu tidur dengan tidur lebih awal di malam hari atau beristirahat sejenak saat lelah bekerja. Berolahraga secara rutin untuk meningkatkan kualitas tidur serta menjaga daya ingat dan konsentrasi. Beberapa pilihan olahraga yang bisa Bumil lakukan antara lain berjalan santai, berenang, yoga, atau senam hamil. Jangan ragu minta bantuan orang lain ketika pekerjaan sedang menumpuk atau merasa kewalahan dengan aktivitas yang hendak dilakukan," jelas Asha.


"Jika tidak menimbulkan gangguan atau keluhan yang berat, pregnancy brain biasanya tidak perlu dikhawatirkan. Keluhan ini akan menghilang dengan sendirinya setelah melahirkan. Namun, jika prengnancy brain dirasa sudah mengganggu aktivitas sehari-hari, apalagi jika sampai disertai gejala depresi, Bumil sebaiknya segera berkonsultasi ke dokter kandungan," jelas Asha lagi.


"Terimakasih ya kamu sudah mau berbagi ilmu denganku," ucap Rara dengan memeluk Asha.


"Sama-sama kita kan harus saling mengingatkan, sudah ayo kita makan dulu keburu dingin ini makan siangnya," ajak Asha.


Bersambung

__ADS_1


__ADS_2