Wedding Agreement

Wedding Agreement
34 Season 2


__ADS_3

Melihat ponselnya dimatikan tiba-tiba, Asha melemparnya diatas sofa menatap suaminya yang duduk disampingnya.


"Mah, apa itu Adiba wanita dimasa lalu Arsen?" tanya Ega memastikan kembali.


"Mungkin iya, biarlah mereka bersatu. Izinkan dia bahagia berdua, jangan halangi cinta mereka. Aku ngak ingin Arsen menderita, papa tahukah putra kita sudah lama menutup hatinya dengan wanita manapun. Mama sebagai wanita yang melahirkannya tahu betul sikap dan perasaannya dia, sakit sudah terpisahkan oleh wanita yang sangat ia cintai," jelas Asha.


Asha mengembuskan nafasnya, ia kembali memberi pengertian dan membujuk suaminya itu.


"Mas, tolong restui pernikah Adiba dan Arsen. Adiba wanita baik, dia sholeha, tutur katanya juga baik, bagi mama dia menantu idaman. Hanya saja nasibnya tidak seberuntung kita, dia anak yatim piatu. Sudah banyak penderita dia," ucap Asha memelas kepada suaminya itu.


Ega masih terdiam.


"Papa pasti kecewa dengan kesalahpahaman mereka beberapa tahun lalu. Semua itu hanya kesalahpahaman anak muda yang tidak bisa menyelesaikan masalah dengan baik. Putra kita saja yang tidak mau mendengar penjelasan Adiba dan sahabatnya, ia hanya bisa lari tanpa menyeselaikamnya hingga menderita sendiri. Kalau papa tidak memberi restu pada mereka, mama yang akan memberi restu," cerocos Asha yang bicara panjang lebar.


Ega tersenyum. Ia sebenarnya juga tahu semuanya karena dulu menyelidikinya hanya ia tidak ingin memberi tahu kebenaranya pada putranya. Ia ingin putranya bersikap dewasa dalam menyelesaikan masalahnya sendiri. Dulu ia menganggap masalah putranya masalah kecil, karena ia sudah banyak menjalani pahitnya kehidupan dimasa lalunya berjuang sendiri hingga sesukses ini.

__ADS_1


"Sudah bicaranya," ucap lembut Ega pada istrinya yang sudah marah-marah tak jelas.


"Apa cuma itu aja respon mas Ega," decak kesal Asha di dalam hatinya.


"Belum sebenarnya, kalau mama bicara sampai habis ngak akan kelar sampai lusa," dengus Asha dengan mengerucutkan bibirnya.


Ega tersenyum, ia menggoda istrinya itu.


"Mama jangan marah-marah gitu, nanti cantiknya hilang lo. Ngak takut apa lingkar hitam dengan keriputan disekitar mata mama bertambah. Tapi tenang, mama lah yang tetap cantik dihati papa. Tetap mama lah bidadari papa," ucap Ega dengan meraih tangan istrinya yang ia nikahi 33 tahun lalu.


Asha melototkan matanya, bukan ia tidak suka sikap manis suaminya itu hanya saja ia tidak mau memindahkan topik pembicaraan.


Ega menyeringai.


Ia tahu kalau istrinya memanggil dengan nada seperti itu, pasti akan ada malapetaka yang membuat gendang telinga yang mendengarnya pecah akibat ceramah yang tidak bermutu.

__ADS_1


"Mas kenapa pindah topik, kita bukan lagi anak muda. Anak kita tiga, cucu kita hampir tiga, ngak usaha pakai acara gombal segala," tegas Asha. Sekarang mama tanya jawab yang pasti dan tegas?" seloroh Asha menatap suaminya dengan kekesalan.


"Emang sudah punya cucu ngak boleh romatis, boleh aja. Tua boleh tapi jiwa muda juga sangat boleh, apa lagi suamimu ini masih punya stamina ekstra lo," goda Ega.


"Papa, sudah dech bercandanya. Sekarang papa merestui hubungan Arsen dengan Adiba ngak?"


"Merestui, papa dari dulu merestui hubungan mereka hanya saja mama aja yang ngak nyadar," ketus Ega.


Asha mendengar ucapannya suaminya lega, ia memberikan pelukan terimakasihnya.


.


.


.

__ADS_1


Di tempat lain, Adiba yang baru membuka matanya berteriak histeris ketika Arsen telah berdiri disampingnya hanya mengenakan celana pendek yang bertelanjang dada.


"Apa yang terjadi denganku semalam? Apa aku dan Arsen telah melakukannya?" Batin Adiba yang tidak dapat mengingat jelas kejadian semalam.


__ADS_2