Wedding Agreement

Wedding Agreement
114. Pacaran dibelakangku


__ADS_3

"Bang ini ya mobilnya keren banget?" tanya Asha yang melihat satu-satunya mobil tanpa plat di sekitarnya merk lamborghini.


"Bukan, Papa belinya BMW," jelas Nathan.


"Lalu ini mobil siapa? Aku kan pengennya mobil ini," kata Asha mulai tak semangat lagi.


Nathan mengangkat kedua bahunya.


"Papa membelikan kamu mobil BMW Seri X, itu mobilnya Abang parkirkan di sebelah kanan," tunjuk Nathan ke arah mobil BMW seri X berwarna hitam yang merupakan mobil SUV yang dirancang dengan bodi sangat gagah. Harga mobil BMW Seri X juga cukup terjangkau, karena kita bisa mendapatan versi termurah dengan harga 629 Jutaan. Sedangkan yang termahal adalah BMW X6 yang dibanderol melebihi 1.7 miliar rupiah.


"Tak apa itu juga bagus kok, memiliki desain sporty yang mendepankan aerodinamika dan performa mesin," sahut Asha yang tidak mau membuat kecewa kakaknya.


"Benaran kamu suka mobil itu? Kalau tidak biar Abang tukarkan lamborghini saja, sesuai mau kamu," tawar Nathan.


"Tidak perlu, Bang. Itu juga bukan kado murah, istriku biar bersyukur sudah untung diberi hadiah mahal itu. Di luaran sana banyak orang yang tidak diberi kado oleh orang tersayangnya karena faktor ekonomi," sela Ega.


"Tapi, istrimu tidak suka mobil pemberian papa. Dia kan ingin mobil merah itu," desah Nathan.


"Biarlah, mobil merah itu sebenarnya milikku. Jika ia bosan pakai mobil pemberian Papa Raka biar pakai mobilku saja, aku bisa pakai yang lain," jelas Ega.


Jadi mobil mewah ini milik Mas Ega tapi kemarin malam sepertinya belum ada, kita pergi juga masih naik mobil BMW 8i. Kapan dia belinya batin Asha.


"Ya sudahlah kalau gitu," jawab Nathan. "Kamu gimana, Sha? Abang tukarkan atau tetap ini! Kalau tukar juga rasanya Abang harus kredit dulu, buat tambahnya kan dua kalinya harga ini," terang Nathan yang memang dia tidak sekaya Ega karena perusahaan yang ia dirikan bari berkembang beberapa tahun terakhir ini.


"Tidak perlu, aku bisa gantian sama Mas Ega. Lagi pula mobil Mas Ega juga banyak sekali, Bang."


"Ya sudah, ini kado dari Abang. Maaf cuma bisa memberi tiket liburan ini saja, tapi Abang berharap ini banyak manfaatnya. Pulang dari sana kamu membawakan cucu buat Papa Raka." Nathan menyodorkan dua lembar kertas kecil tiket liburan ke raja ampat.


"Makasih ya, Bangku." Asha menerima tiketnya lalu memeluk sang kakak dengan cukup terharu.

__ADS_1


"Sudah jangan peluk-peluk gini! Manja banget," ledek Nathan. "Kamu ngak malu apa sama suami kamu. Oya berangkatlah akhir pekan! Mbak Bila dan Bang Kenzo akan menyambut kalian," ucapnya lagi.


"Memang Mbak Bila juga liburan disana?" tanya Asha menerka-nerka.


"Tidak, suaminya mulai membangun proyek besar-besaran disana. Jadi mereka diboyong kesana semuanya, mereka juga sudah selesai membuat vila di salah satu pulau di raja ampat. Kamu pasti suka dengan suasananya nanti," terang Nathan.


"Jadi tiket ini dari Mbak Bila ya. Ah, Bang Nathan ini kasih kado sukanya yang gratisan aja ngak mau bermodal dikit," sindir Asha dengan memukul lengan sang kakak.


Ega mendengar guraan sang istri hanya tersenyum kikuk.


Nathan segera menjintak kening adik bungsunya itu dengan jari telunjuk dengan ibu jarinya. Hingga terdengar sedikit suara hingga yang menandakan cukup keras sentilan yang ia berikan.


"Awu," pekik Asha. "Bang ini kekerasan namanya! Sakit tahu," cemberut Asha dengan mengusap jidatnya.


"Salah sendiri bilang seenaknya saja. Itu Abang yang beli, sudah Abang mau ke kantor sebentar lagi ada rapat. Oya kamu cepat telepon Papa jika kadonya sudah kamu terima. Kalau mau protes ke Papa ya," pamit Nathan dengan memberikan surat-surat tanda kepemilikkan.


****


"Sha, nanti pulang Mas jemput ya."


"Tidak perlu, aku bisa naik taxi saja sama Diana. Lagi pula Mas pasti repotkan?"


"Sepertinya jadwal Mas hari ini cukup longgar memungkinkan kita bisa menghabiskan waktu bersama. Sebenarnya nanti siang aku mai mengajak kamu nonton," jelas Ega.


"Boleh juga, lama kita ngak kencan Mas. Nanti kalau sudah punya anak kita ngak bisa kencan lagi."


"Sayang, tetap bisa. Nanti jika kita sudah punya sepuluh anak pun Mas akan menghabiskan waktu satu hari dalam satu bulan untuk waktu kita berdua. Seorang suami istri dalam rumah tangga itu perlu waktu bersenang-senanglah," terang Ega.


"Tapi anak-anak kita sama siapa?"

__ADS_1


"Itu gampang, kita kan pakai jasa baby sister."


"Oh gitu ya, jadi aku masih bisa jadi dokter dong," ucap Asha.


"Kamu akan jadi dokter bagiku juga anak-anak kita. Kamu memang punya gelar dokter tapi aku tidak akan pernah mengizinkan kamu untuk bekerja. Sesekali kamu mengabdi ke rumah sakit tak apa tapi kamu harus mementingkan keluarga. Anak-anak kita butuh perhatian khusus dari sosok ibu, karena perkembangannya itu sangat penting tidak bisa di ulang," jelas Ega.


"Iya aku paham, aku masuk dulu ya Mas," pamit Asha meraih tangan suaminya.


Ega pun segera mencium kening Asha, "Terimakasih sudah mau jadi istriku."


****


Asha kini berjalan menuju loby dimana ia meletakkan jasnya, saat ia asyik berjalan dengan bernyanyi di dalam hatinya ia di dikejutkan dengan sebuah tepukan dibahunya. Seketika ia menghentikan langkah kakinya lalu menoleh kebelakang.


"Pagi ibu Ceo, calon dokter," sapa Diana dengan senyum nyengir yang menunjukan gigi putihnya.


"Astagfirullah, Diana kamu membuatku jantungan saja. Aku kira kamu orang jahat yang mau mencelakakan aku saja," ucap Asha dengan mengusap dadanya yang kini berdetak cepat.


"Mana ada orang yang mau berbuat jahat padamu. Mereka saja melihat kamu orang berkuasa sudah kabur duluan."


"Berkuasa apa? Yang berkuasa itu pak polisi menangkap para penjahat, sama pak presiden," canda Asha. "Gimana gebetan kamu sudah berhasil belum?" tanya Asha denga mengangkat alisnya ke atas.


Diana mengangkat kedua bahunya, ia sudah pasra akan jalan asmaranya yang tidak bisa semulus sahabat-sahabatnya.


"Kok gitu? Apa Rian tidak memberi kamu sinyal-sinyal cinta?"


"Mana ada cowok dingin seperti dia memberikan aku sinyal. Dia aja cuek banget sama aku, padahal dia sudah mengambil ciuman pertamaku walaupun itu terjadi karena kejadian yang tak terencanakan," ucap Diana yang tidak sadar mengatakan apa yang pernah ia alami.


"Apa? Ciuman kamu sudah diambil dia, tapi kenapa kalian belum jadian kalau sudah ciuman, atau jangan-jangan kalian sudah pacaran diam-diam dibelakangku?" tanya Asha mulai menyelidik.

__ADS_1


Bersambung..


__ADS_2