Wedding Agreement

Wedding Agreement
85. sakinah, mawaddah, warahmah


__ADS_3

Setelah kepergian orang tua Asha, mereka segera masuk ke dalam mobil mewah Ferrari F430. Ega segera membukakan pintu untuk sang istri, agar cepat masuk.


Asha hanya meneliti mobil suaminya yang berbeda lagi dari kemarin ia segera mengarahkan matanya untuk memastikan benar-benar sebelum berbicara karena yang ia naiki sekarang adalah mobil ferrari F430 seperti milik arti yang pastinya flikermania sangat mengenal bukan artis dan musisi yang bernama Kevin Aprilio ini. Yah Kevin Aprilio ternyata juga mengoleksi mobil mewah yang salah satunya adalah Ferrari F430 seperti suaminya Ega. Mobil Ferrari F430 di Indonesia dibanderol dengan harga sampai Rp 3,5 Miliar. Mobil super buatan Ferrari ini memiliki bodi yang lebih aerodinamik dan lampu belakang yang mirip dengan Ferrari Enzo.


"Memiliki suami tajir melintir dengan pesona sejuta rupawan memang sebuah keberuntungan yang luar biasa, keren." Batin Asha dengan mengulas senyum simpul di kedua pipinya.


Ega yang mengemudikan mobilnya melihat wanitanya duduk disampingnya dengan senyum mengembang segera mendehem.


Asha yang mendengar deheman segera menoleh ke arah suaminya, "Apa Mas?"


"Senyum-senyum sendiri kenapa?"


"Mikirin kamu, Mas. Aku merasa jadi wanita yang beruntung memiliki kamu. Kenapa kamu ngak hadir dari dulu saja, biar aku tidak berbuat dosa, Mas."


Ega hanya tersenyum, lalu menatap kembali jalanan yang berlalu lalang mobil-mobil dan sepeda motor yang memenuhi jalanan yang sedikit padat karena semua memulai aktifitas pagi harinya dari yang bersekolah dan bekerja.


"Mas, nanti praktik di rumah sakit atau ke perusahaan?"


"Memang kenapa?"


"Ngak ada apa-apa hanya ingin tahu saja. Aku pengen praktek sama kamu, Mas. Aku ingin pamer ke mereka kalau suamiku yang dulu dihina di bully sama mereka itu orang hebat, orang yang selama ini selalu di kagumi, Mas. Terkadang aku merasa minder bersanding dengan kamu, kamu sangat sempurna sedangkan aku, hanya apa Mas?" lirih Asha.

__ADS_1


Bagiku kamulah wanita sempurna aku tanpa kamu tidak ada artinya hanya sebatang kara. Kau lah semangatku yang menjadikan aku sukses seperti ini. Aku berjuang seperti ini agar aku bisa bersanding dengan keluarga kamu dan agar mampu setara dengan kamu.


Asha memindah posisi duduknya sedikit menggeser kesamping hingga menatap Ega yang fokus dengan pengemudinya.


"Sempurna, luar biasa tampan," puji Asha menatap suaminya yang memakai setelan kemeja dan jas yang ia kenakan tanpa kacamata yang menutupi ketampannya.


"Jangan memujiku terus begini! Bisa-bisa aku nanti tidak bisa keluar mobil," kekeh Ega yang menahan tawa yang sedari tadi mendapatkan pujian dari istrinya.


"Benaran Mas, kamu itu sangat sempurna! Suami idaman pantas saja semua wanita suka padamu. Aku, hanya apa?" lesu Asha. "Seorang pria mendambakan sosok istri yang sempurna. Seorang perempuan juga memimpikan sosok suami yang sempurna, apa Mas akan mencari wanita yang sempurna juga?" ucapnya lagi.


Ssest..


Ega segera menginjak pedal rem mobilnya yang sedikit menepi. Ia segera menghadap istrinya itu untuk kesekian kalinya menjelaskan pada Asha jika ia mencintai dia tanpa melihat apa pun yang terpenting ia melabuhkan hatinya pada istri tercintanya yang sedang bersamanya sampai maut memisahkannya. Bahkan ia selalu berharap dan berdoa akan dipertemukan dengan Asha dua kali yaitu di dunia dan di surga nant.


"Besok aku masih akan menyukaimu, begitu juga lusa dan hari setelahnya. Setiap hari aku akan selalu menyukaimu. Rasa cintaku pada semakin hari semakin bertambah, Mas. Bahkan saat kamu masih bekerja sebagai ob, atau pun kamu tak sekaya ini cintaku tetap untukmu. Tubuhku, hatiku, pikiranku rasanya sangat nyaman saat bersama kamu. Aku tidak ingin kehilangan kamu," jawab Asha sambil berhambur memeluk suaminya. "Semoga kita jadi keluarga yang sakinah, mawaddah, warahmah, aamiin," ucap Asha mengusap punggung suaminya.


"Aamiin, ya robbalalamin. Kamu tahu arti dari itu? Dalam menjalani hubungan, sakinah berarti mengandung makna ketenangan, mawaddah mengandung arti rasa cinta, rahmah itu mengandung arti kasih sayang. Jika tiga hal itu ada pada dirimu maka percayalah, keberkahan akan selalu mendampingi kita," ucap Ega melepas pelukan Asha dengan mencium kening istrinya itu.


Kamu tidak hanya pintar dunia bisnis Mas, tapi kamu juga pintar dalam urusan agama.


Ega segera memasang sabuk pengaman pada tubuh istrinya sebelum ia melanjutkan perjalanan lagi ke rumah sakit. Ega melihat anak poni rambut Asha segera menyingkapkan ke belakang telinga.

__ADS_1


"Teruslah ada disampingku, apa pun yang akan terjadi nanti?" ucap Ega lalu menyalakan mesin mobilnya.


Disepanjang perjalan mereka saling terdiam dengan menikmati pemandangan yang sedikit gersang tanpa ada tumbuhan hijau disisi kiri kanan karena semua jalan trotoar dipenuhi dengan kios-kios kecil pedagang kaki lima.


Tidak butuh waktu lama, kini mobil ferrari F430 telah sampai di halaman parkir rumah sakit. Ega segera turun lebih dulu, memutari mobil depannya membukakan pintu mobil untuk sang istri bagaikan pangeran menyambut tuan putrinya.


Ega segera mengulurkan tangan, untuk membantu Asha turun. Asha yang mendapatkan perlakuan romantis rasanya detak jantungnya memacu dengan cepat bagaikan bernafas tanpa beraturan.


Ega yang merasakan tangan istrinya dingin sedikit berkeringat itu pun segera menghentikan langkahnya. Ia segera mengeluarkan sapu tangan yang ada di saku jasnya. Mengusap telapak tangan Asha dengan sangat telaten.


Asha menatap suaminya, "Mas, terimakasih ya."


"Sudah jadi kewajibanku, Sayang. Kenapa tangan kamu berkeringat? Apa sedang ada masalah dengan jantung kamu? Mungkin kamu kurang minum air putih."


"Aku begini karena kamu, Mas. Bukan karena kurang minum air putih. Mungkin karena kurang cinta yang kamu berikan jadi begini, Mas."


Ega segera mengacak-acak rambut istrinya gemas, "Kamu itu pagi-pagi sudah gombal saja, Sayang. Sudah cepat masuk sana!"


"Antar dong!" rajuk Asha melingkarkan tangannya di lengan Ega. Semoga Mas Ega mau mengantar aku sampai loby biar mereka tahu batin Asha menyandarkan kepalanya pundak Ega dengan sangat manja.


"Sayang, aku tidak bawa masker. Penampilan aku juga begini."

__ADS_1


"Mas, ayolah! Kalau kamu tidak mau antar sampai sana, aku juga tidak mau masuk. Aku pulang saja," ancam Asha melepas pelukannya lalu melangkah kembali menuju mobil.


Ega yang menatap punggung asha hanya bisa menghembuskan nafas kasar.


__ADS_2