
Di dalam kamar mandi Ega segera melepas semua pakaiannya segera masuk ke dalam ruangan untuk segera ikut masuk ke dalam bathtub berendam.
Asha yang berendam air hangat di bathtub itu pun melihat suaminya sudah tidak mengenakan sehelai benang hanya menatap dengan terkejut.
"Mas Ega kenapa kesini?"
"Mandilah, masak mau kerja," ketus Ega.
Ega segera mengambil sabun cair ia letakkan pada penggosok lalu menggusapnya hingga keluar busa. Kemudian menggosok punggung istrinya dengan sangat telaten.
"Aku bisa melakukannya sendiri,sebaiknya kamu cepat bersihkan diri kamu dan cepatlah salat Mas! Aku mau berendam sebentar agar tubuhku yang pegal-pegal ini hilang," jelas Asha dengan sedikit memijat pundaknya.
"Mana yang sakit?" tanya Ega. "Apa ini yang perlu aku pijat? Biar aku lakukan," goda Ega dengan meremas dua aset terindah yang dimiliki sang istri.
"Ah, Mas Ega! Kamu selalu cari kesempatan dalam kesempitan!"
Ega terkekeh. Ia tetap melancarkan aksinya dengan bermain busa di atas dua aset sensitif Asha dengan sangat lihai. Hampir setengah jam mereka mandi bersama melakukan kemesraan yang biasa dilakukan suami istri tanpa melakukan hubungan badan namun tetap merasa intim.
Ega segera menyudahi aksinya kemudian segera mengguyur tubuhnya di bawah shower untuk mandi besar kemudian melakukan salat ashar. Sedangkan Asha segera berdandan di depan cermin untuk tampil sesempurna mungkin agar suaminya tidak akan lagi melirik wanita lain yang membuatnya tergoda apa lagi di pesantren ada saingannya yaitu ustadz Afi.
Semoga saja itu ustadz Afi bisa sadar diri jika laki-laki yang di cintainya itu sudah punya istri agar dia tidak jadi perusak dalam rumah tangan orang lain batin Asha sambil mengenakan hijabnya.
Ega menatap istrinya yang begitu cantik, ia hanya menyungging senyum sambil memasukkan kedua tangannya di dalam saku celananya dengan menyandarkan tubuhnya di dinding.
"Sempurna," puji Asha menatap wajahnya dari pantulan cermin. "Pasti lebih cantik aku dari pada Afi ustadz genit itu," lirih Asha sambil berdiri.
"Apanya yang sempurna?" ledek Ega menghampiri istrinya itu yang senyum-senyum sendiri.
__ADS_1
Apa jangan-jangan Mas Ega mendengar perkataanku barusan tapi aku bicara lirih sekali semoga saja ia tidak mendengarku batin Asha.
"Kamu itu lo, Mas. Kamu begitu sempurna tampan tidak memiliki kekurang apa pun, aku sungguh beruntung memiliki suami seperti kamu," puji Asha mencoba mengalihkan pembicaraan.
Cup
Satu kecupan mendarat pada pipi Ega. Beruntung lipstik yang digunakan Asha dari merk terkenal dengan harga yang mahal jadi tidak meninggalkan bekas merah.
"Sayang kamu mulai nakal ya," ucap Ega yang terkejut akan perlakuan Asha yang begitu tiba-tiba.
Asha hanya tertawa kecil, sedangkan Ega masih sibuk memegangi pipinya bekas ciuman Asha.
Ash melihat suaminya yang berlagak seperti berlebihan itu pun segera menggodanya lagi kini ia tidak memberikan kecupan pada pipinya namun i memberinya pada bibir Ega.
Cup ... Cup ...
"Asha kamu harus tanggung jawab!" teriak Ega.
Kenapa dia menggodaku disaat dia datang bulan? Kamu harus tanggung jawab, Sha! Kamu sudah membangunkan Ega junior, padahal baru saja aku menidurnya dengan sangat lama kini kau membuatnya terbangun lagi batin Ega mengacak-acak rambutnya frustasi karena adik kecilnya mulai menegang.
Ega melihat istrinya duduk di sofa ia segera melambaikan tangan memberi kode pada ruangannya hingga terkunci otomatis dengan tirai yang mulai tertutup semua hingga tidak ada cela sedikit pun.
Ega tidak mau kalah dengan sifat jail istrinya walaupun sebenarnya ia bisa menahan hasratnya tapi ia melakukan ini hanya ingin menggoda istrinya saja. Ega segera mendindih tubuh Asha yang sedang asyik duduk.
"Mas Ega apa yang kamu lakukan?! Aku sedang haid!" tegur Asha. Asha mulai khawatir dengan sikap Ega ia takut jika harus melalukan sesuatu yang terjadi di kamar mandi tadi yang membuatnya geli.
Ega yang melihat wajah istrinya ada kecemasan semakin menindih dengan mendekatkan wajahnya hingga hembusan nafas mereka saling bertemu yang bisa merasakan sapuan nafasnya di wajah mereka.
__ADS_1
"Mas Ega! Jangan meminta hal seperti tadi!" ucap Asha dengan berusaha mendorong tubuh suaminya dari atas tubuhnya namun usahanya sia-sia karena tenaganya tidak sebanding dengan suaminya kini ia pun mengalah pasrah akan apa yang akan dilakukan suaminya terhadap dirinya.
Ega segera mendekat dan mendekat lagi, namun ia tidak melakukan sesuatu ia hanya berbisik di telinga istrinya, "Aku tidak akan melakuan itu kalau kamu tidak membangunkannya maka kamu harus tanggung jawab."
"Tanggungjawab?!"
"Iya," jawab Ega. "Tapi aku masih memberi kamu waktu senggang karena kita akan ada acara dan kamu juga sudah tampil cantik aku tidak akan membuat penampilan kamu ini terbuang percuma maka kita tetap ke pesantren menjalankan rencana kamu, Sayang." Ega berdiri lalu membantu istrinya untuk kembali ke posisi semula.
"Maksud kamu rencana apa?" tanya Asha pura-pura tidak tahu. Benar-benar ya punya suami seorang psikiater juga seorang psikolog jadi ngak bisa berbohong tapi tak apalah biar ia selalu mengerti aku tidak akan membuat aku sakit hati toch aku tidak pernah ada niatan mendua jadi santai saja cintaku juga cuma buat dia seorang Asegaf Albramata seorang Rama kecil malaikatku batin Asha.
"Sudah mengumpatnya! Ayo berangkat!" ajak Ega dengan mengulurkan tangannya.
Asha segera menerima uluran tangan suaminya lalu melingkarkan tangannya pada lengan kekar Ega.
Saat mereka berjalan bersama semua mata menatap ke arah mereka menatap kagum akan kecantikan pasangan sang ceo ya yang begitu sempurna bagaikan bidadari. Asha dan Ega tidak sengaja keluar di saat jam pulang karyawannya hingga mereka berpapasan dengan seluruh karyawan yang tidak lembur itu.
"Sore, Bos," sapa sekertaris Ega yang bernama Rian yang memang sudah biasa dengannya kerena mereka memang bersahabatan dari SMA. "Katanya tidak boleh mengumbar kemesraan di tempat umum tapi kamu," ucap Rian tidak dilanjutkan.
Seketika Asha pun melepas tangannya, lalu berpura-pura tidak melihatnya.
"Bukan urusan kamu! Ini kan left khusus Ceo kenapa juga kamu bisa masuk kesini! Harusnya kan kamu pakai lift sebelah! Lagi pula aku dengan istriku sudah halal," tegas Ega.
"Halal sich halal tapi kalian apa tidak merasakan kasihan pada orang jomblo seperti aku ini, melihat kalian seperti ini rasanya aku mau cuti saja sebulan mau cari pasangan hidup," ucap Rian. "Ini gara-gara kamu yang selalu memberikan aku pekerjaan banyak hingga aku tidak ada waktu untuk mengurus asmaraku," ucapnya lagi.
"Kamu kok jadi menyalahkan aku! Itu karena kamu tidak laku saja," ketus Ega. "Sampai kamu cuti akan aku pecat kamu tanpa pesangon itu mobil bmw juga aku ambil lagi," ancam Ega.
Kejam juga ya suamiku batin Asha.
__ADS_1