Wedding Agreement

Wedding Agreement
Perubahan sikap Aryan


__ADS_3

Setelah kejadian malam penyatuan meski gagal total, namun nyatanya mereka kini menyatukan hati untuk saling menerima satu sama lain. Nara pelan-pelan mulai melunak dengan sikap Aryan yang begitu perhatian dan baik padanya akhir-akhir ini. 


Kedua suami istri yang berawal dari dendam dan kebencian itu bahkan belum keluar dari kamar sejak bangun pagi karena saking nyamannya berada di atas tempat tidur seperti saat ini. 


“ Hari ini aku antar ke sekolah, ya. Sore nanti juga aku usahakan bisa menjemput. Jangan berdua lagi dengan Jonas. Sejak kapan kalian punya panggilan akrab kakak adik seperti kemarin ?” 


Ada sebuah aroma kecemburuan di dalam ucapan Aryan pada asistennya itu yang juga memiliki paras yang lumayan juga. Nara sampai membungkam mulutnya sendiri karena terkekeh mengingat Jonas yang tidak nyaman ia panggil kakak.


“ Mandilah !” Nara kemudian mendorong tubuh Aryan yang sudah berapa kali bicara akan turun mandi namun tak juga bergerak dari tempat tidur.


Berada di dalam selimut seperti ini memang membuat betah sampai Aryan sendiri malas bangun meski tahu matahari juga sudah menampakkan sinar paginya.


“ Baiklah, Lalu kapan kita bisa coba lagi, El? Dokter semalam bilang apa, hem? katanya kamu dikasih cara supaya tidak kram?”


Nara lagi-lagi menyembunyikan wajahnya yang tersipu. Kali ini dengan ujung selimut yang ia tarik hingga menutupi sebagian wajahnya,” Rahasia !” 


“ Heyy, jangan buat aku tidak fokus bekerja hari ini .” Aryan menarik tangan Nara yang menutupi wajanya, namun istrinya itu masih menggeleng dengan wajah memerah.” Awas, ya . Aku cari tahu sendiri nanti !”


Aryan segera bangkit dari ranjang kemudian menuju kamar mandi, sedang Nara kini juga bangun dan menuju lemari pakaian suaminya belajar memilih padu padan pakaian yang akan dikenakan Aryan di kantor hari ini. 


Sementara bik Ina kini sedang membuka pintu utama saat ada bunyi bel yang sengaja dipasang Aryan setelah ia mengganti kode kuncinya beberapa waktu yang lalu.


“ Nyonya besar, silahkan.”


“ Kenapa , bik Ina? kok kaget lihat saya datang,” Herlina memasuki rumah cucunya dengan mengangkat dagu disusul Opa Haris di belakangnya. 


Opa Haris segera menatap sekeliling dengan pandangan dingin seperti biasanya. 


“ Bik Ina ini sudah berapa hari tidak memberi kabar ke saya ? Sampai saya harus ke sini sendiri,” gerutu Herlina hanya disambut anggukan saja oleh bik Ina yang memang sudah diwanti-wanti oleh Aryan untuk tidak sembarang memberi informasi kepada wanita tua itu.


“ Maaf, Nyonya besar. Belum ada sesuatu yang luar biasa. Semua masih baik-baik saja.” 


“ Mana Nara ?”

__ADS_1


“ Baik , saya panggil dulu, Nyonya.” 


Bik Ina segera berjalan setengah menunduk menuju kamar utama. 


“ Iya, Bik?” Nara membuka pintu dan hanya menunjukkan kepalanya karena ia masih mengenakan baju tidur dengan bagian dada terbuka. 


“ Maaf nyonya muda, ada tuan dan nyonya besar.”


Deg !


Jantung Nara tiba-tiba berdegup cepat saat mendengar nama tuan besar yang berarti pria tua yang selama ini menjadi alarm pengingatnya di rumah ini.


“ Ma-makasih, bik.” Nara langsung gugup meski pertemuan terakhirnya dengan Opa Haris kemarin wanita itu sempat mengangkat dagunya dengan berani sambil membalikkan ancaman pria tua itu.


Namun pagi ini ia kembali berkecil hati dengan aura pria yang selalu mengintimidasinya itu.


Karena masih mengenakan baju tidurnya, Nara buru-buru berganti baju lalu pergi keluar setelah menyiapkan pakaian suaminya yang sudah tertata rapi di atas ranjang. 


Nara keluar kamar lalu menyambut Oma Herlina yang langsung memeluknya lalu menyisirnya aneh. “ Bagaimana kabar cucu dan cicit Oma ini, hem ?” Oma Herlina pun tak lupa mengelus perut Nara yang sudah terasa membuncit jika diraba.


“ Pagi-pagi pakai sweater seperti ini mau kemana , Nara? Kamu tidak enak badan ?”


Nara nampak bingung menjawab karena ia terlihat seperti orang yang super salah kostum dengan memakai sweater rajut lengan panjang dengan leher tinggi demi bisa menutupi tanda kepemilikan yang Aryan buat dengan ganas semalam. 


Alhasil Nara hanya menggeleng sebisanya sambil menunjukkan senyum manisnya. 


“ Oh ya, Nara . Oma bawakan celana hamil untukmu. Sepertinya kamu sudah waktunya membeli pakaian hamil . Nanti minta Aryan untuk mengantarmu ke toko baju hamil, ya.”


Oma menunjukkan barang belanjaan yang dibawanya khusus untuk Nara yang memang belum memiliki baju khusus ibu hamil. Tak lama Aryan yang sudah mengenakan pakaian kerja lengkapnya lumayan kaget dengan kedatangan kakek dan neneknya yang tanpa memberitahunya terlebih dahulu.


“ Oma, Opa. Dari mana ?” tanya Aryan basa basi lantas menegakkan tubuh dan membusungkan dadanya dengan pandangan datar.


“ Aryan, besok jadwalnya Nara kontrol kandungan,kan ? Oma antar hari ini saja, ya ? Besok Oma dan Opa mau ke Bandung. Ada acara reuni teman-teman Opa.”

__ADS_1


“ Aryan sibuk Oma !” jawab Aryan dengan cepat hingga membuat Nara bingung.


“ Sesibuk apa ? setiap hari kamu juga sibuk, Ar?” 


“ Hari ini sampai seminggu ke depan Aryan sibuk! Kalau perlu kontrol biar bik Ina yang menemani.”


Nara sontak mengerutkan dahinya dengan perubahan sikap suaminya yang manis sekali saat di kamar tadi. Lalu saat ini ia seperti kembali ke bentuk aslinya sebagai pria dingin. 


Terlebih tadi ia sudah berjanji untuk mengantarnya ke sekolah mode, sekarang tiba-tiba berbalik sikap saat Nara tengah di posisi gemetar berada di dekat Opa Haris meski pria itu tak melakukan apapun padanya.


Nara berharap Aryan menggenggam tangannya saat ini lalu memberikan kekuatan pada dirinya untuk tetap bisa mengangkat wajah di depan pria tua itu. 


“ Kamu ini kenapa sih, Ar ? Masih kaku saja dengan istri, heran !” Oma lantas mengelus kedua lengan Nara untuk menenangkan sementara Aryan kini menghubungi Jonas untuk menjemputnya.


“ Sabarin, Aryan ya, Nara. Kalau begitu biar kita berdua dan Opa saja yang mengantarmu periksa kandungan , bagaimana ?”


Deg !


Jantung Nara makin berdegup hebat bahkan tubuhnya juga gemetar. Mengapa Oma seolah tidak mengerti kegelisahan Nara yang begitu gentar dengan kehadiran Opa Haris di dekatnya. 


 


‘ Tolong aku Aryan !’ batin Nara saat Aryan sedari tadi memunggunginya, bahkan ia menjauhinya dan memilih berdiri di dekat pintu menunggu kedatangan Jonas yang akan menjemputnya. 


“ Nara tidak akan kemana-mana , Oma !” sahut Aryan begitu menekankan ucapannya hingga membuat Opa Haris kini berdiri menghampiri Nara lalu menyunggingkan senyum kemenangannya. 


Nara refleks memundurkan langkahnya sekali begitu Opa Haris dengan ketukan tongkatnya mendekati dirinya saat ini. 


Dan Aryan yang sudah akan pergi kini berbalik dan kembali melakukan penekanan pada mereka. 


“ Tidak ada periksa kandungan karena Nara akan tetap di sini dan tidak boleh keluar selama Aryan berada di luar rumah !” 


.

__ADS_1


...****************...


__ADS_2