
“ Kamu ini sebenarnya dari luar kota atau luar gedung ini saja ?” tanya Nara mendadak heran karena merasakan suaminya yang bisa pergi dan datang begitu saja seperti hantu casper yang bisa menembus dinding.
Aryan menyunggingkan tawa gelinya seraya menyibakkan helaian rambut Nara yang berkibar di wajahnya.
“ Kamu belum tahu sesuatu ?”
“ Apa ?”
“ Besok aku tunjukkan !”
Nara mendadak murung meski suaminya sudah ada di hadapannya saat ini.” Jadi kamu mau pergi lagi?”
Siialnya Aryan mengangguk hingga makin membuat Nara bersedih karena sudah tiga malam ia tak bisa tidur nyenyak meski Aryan sudah melakukan sleep call sepanjang malam.
“ Tinggal sehari lagi, Sayang. Besok pagi sekali aku pergi lagi dan malamnya aku usahakan sudah kembali, atau paling telat lusa pagi. Andai kamu tidak sedang hamil pasti akan kubawa kemanapun.”
Aryan segera mendekap istrinya hingga membuat Nara langsung mendongak dengan perasaan berdebar.
“ Apa kamu bilang ?”
“ Hemm?” Aryan mengangkat alisnya lalu mengerjap menatap Nara yang kelihatan sangat cantik saat ini.
“ Kamu memanggilku…. sayang ?”
Aryan terkesiap, ia pun berucap spontan tanpa mengingatnya lagi . Dan kini ia pun tergeragap kemudian tersipu karena secara tidak langsung telah mengungkapkan perasaannya yang menaikan level lebih tinggi pada wanita yang kini ada di dekapannya.
Akhirnya Aryan mengangguk mengakui, bahwa bibir dan hatinya kini memang menaruh perasaan cinta pada seorang wanita sederhana seperti Elnara Adhizty yang tidak ada apa-apanya dibanding semua wanita yang pernah direngkuh oleh pria itu.
“ Iya, El… Aku….menyayangimu dan juga mencintaimu. Aku tidak hanya sekedar bertanggung jawab terhadap anak ini. Aku membutuhkanmu, bahkan aku takut kehilanganmu.”
Kedua bola mata Nara sudah basah oleh air mata yang siap tumpah kapan saja. Bibirnya bahkan sudah bergetar karena ada seorang pria yang tiba-tiba datang merusak masa depannya kini malah menyatakan perasaan terhadapnya.
Nara kini terisak, napasnya tersengal. Pria yang pernah coba ia hindari malah menempatkan dirinya dalam perasaan yang terdalam. Terlebih Aryan kini makin erat mendekapnya.” Selamat datang di hatiku, El.”
Hingga langit malam semakin menampakkan gemintangnya, Aryan dan Nara sudah berada di peraduan yang sama. Nara bisa tidur lebih awal karena Aryan tak hanya meletakkan tangan di atas perutnya tapi sudah meletakkan seluruh dunianya pada wanita itu.
Nara sudah bernapas dengan teratur tanpa gelisah sama sekali dalam rengkuhan hangat suaminya. Namun Aryan malah sulit memejam memerhatikan wajah polos Nara yang sedang membawa kehidupan lain dalam rahimnya.
__ADS_1
“ El, kengapa kamu masih sulit terbuka denganku ? Apa yang membuatmu ragu ? Apa kamu masih sakit hati padaku ?” lirih Aryan sambil mengelus wajah mulus Nara yang begitu membuat Aryan selalu mengingat kekejamannya pada wanita itu.
Keesokan harinya, Aryan yang sudah berganti pakaian itu kembali ke posisi memeluk istrinya yang masih terlelap. Hingga Nara merasakan aroma segar di depannya, wanita itu akhirnya membuka mata.
“ Kamu sudah mandi, Aryan ?”
Aryan mengangguk lalu memberikan kecupan selamat pagi di dahi Nara yang terbuka bebas.
“ Sudah mau berangkat, ya ?”
“ Eh-hemm. Kamu lelap sekali semalam.”
Nara kemudian membangunkan tubuhnya lalu turun dari ranjang dan segera mencuci wajahnya.
“ Sudah sarapan ? Aku panggil bik Ina dulu. “
“ Tidak perlu. Jonas sudah menungguku.”
“ Hah !” Nara membulatkan mata dan bibirnya saat Aryan juga kemudian bangkit dan mempersiapkan dirinya. “ Kenapa tidak membangunkanku lebih awal ?”
“ Antar kemana ?”
Aryan segera menarik pelan pergelangan tangan istrinya menuju ke satu tempat bersama bik Ina juga yang sudah paham lalu mengikuti di belakang mereka.
“ Kita mau kemana, sih ? Kok malah naik ?” tanya Nara heran karena lift yang mereka naiki saat ini bukannya turun malah menuju ke lantai paling atas lagi.
“ Wuaahhh !” pekik Nara tercengang begitu pintu lift terbuka dan mereka menginjakkan kaki di lantai paling ujung gedung dengan sekat pintu kaca dimana mereka berada saat ini.” Aku baru tahu kalau ada helipad di sini.”
Aryan sudah membuka pintu kaca dan angin langsung berhembus kencang menerbangkan ujung baju homedress serta rambut milik Nara. Sebuah helikopter sudah siap mengantar Aryan menuju bandara saat ini.
“ Aku pergi dulu, ya. Mudah-mudahan nanti malam urusan bisa selesai. Kalaupun terpaksa lembur, besok pagi sekali aku usahakan sudah di rumah.”
“ Jadi kamu naik ini kemana-mana, Ar?”
Aryan hanya tersenyum simpul dengan keheranan istrinya.” Ada satu lagi armada, nanti kalau usia kandunganmu sudah lebih kuat, kita naik bersama ke Singapura menjenguk Ibu mertuaku.”
Nara lantas tersipu bahwa Aryan sudah memanggil sang Ibu sebagai Ibu mertuanya. Kini dengan gagahnya Aryan menaiki helikopter itu diikuti Jonas di belakangnya. Pria itu lantas melambaikan tangan setelah mengenakan seat belt dan penutup telinganya.
__ADS_1
Nara pun membalas lambaian tangan suaminya yang sudah berada di atas mereka.
“ Nyonya, mari kita kembali. Angin di sini sangat kencang.”
Nara pun menurut lalu mengikuti langkah bik Ina kembali ke unit mereka. “ Bik Ina boleh saya tanya ?”
Bik Ina mengangguk seraya menunjukkan senyum teduhnya yang keibuan sekali.
“ Memangnya….. Aryan itu sekaya apa ?”
“ Tuan Muda tidak pernah bicara soal itu pada Nyonya ?”
Nara menggelengkan kepalanya.” Saya gak pernah bertanya , Bik. Saya pikir apa yang dia miliki itu bukan milik saya, jadi saya juga tidak ingin tahu apapun.”
“ Mengapa anda berpikir seperti itu, Nyonya ? Semua yang suami miliki adalah hak istri juga. Tuan Muda Aryan sudah mewarisi perusahaan milik Tuan Arya sejak usia muda. Dan menjadi pengusaha muda yang sukses berkat didikan Tuan Haris yang keras dan disiplin hingga bisa sampai seperti saat ini.”
“ Owwwhhh !” Nara hanya mengangguk saja tanpa ada kesan apapun di pikirannya. Meski sangat takjub dengan apa yang dimiliki suaminya, namun Nara bukan wanita yang suka meminta dan menggantungkan hidupnya pada kemewahan terlebih bukan berasal dari keringatnya sendiri.
Malam harinya, Aryan memberi kabar kalau dirinya tidak bisa pulang dan harus menyelesaikan tanggungan pekerjaannya sampai besok pagi.
Dan Nara harus kembali tidur berteman panggilan video yang menyala sepanjang malam agar tetap merasakan kehadiran Aryan di sampingnya. Hingga pagi kembali menjelang, Nara yang bangun dengan mata panda itu mendudukan dirinya di atas ranjang dengan kantung mata menghitam dan rambut berantakan.
“ Selamat pagi, Nyonya Muda.” Bik Ina masuk kamar dengan segelas susu hangat dan cemilan pagi bahkan saat Nara masih menguap lebar karena tidur tidak nyenyak semalam.
“ Pagi, Bik. Aryan belum pulang, ya ?”
Bik Ina jelas paham keresahan Nara yang kini menjadi kecanduan dengan kehadiran suaminya. Wanita itu lantas membangunkan dirinya turun dari ranjang lalu duduk mencuci wajah dan duduk di sofa dimana susu hangatnya sudah siap di minum pagi ini.
“ Wahh, apa ini ? “ seru Nara senang melihat sebuah kue coklat bulat kecil dengan tulisan di atasnya. “ Selamat hari ibu ?”
“ Iya, Nyonya. Selamat hari ibu untuk Nyonya Muda yang akan segera menjadi seorang ibu.”
Nara menghela napasnya. Baru kali ini seumur hidupnya ada sebuah ucapan yang sama sekali belum masuk dalam rancangannya tahun ini, yaitu menjadi seorang Ibu.
.
...****************...
__ADS_1