
"Sudahlah! Harusnya kamu melupakan dia, kamu juga sudah paham bagaimana sifat Ega. Kamu harusnya tahu siapa yang dari dulu perduli juga cinta padamu, Mit," ucap Kamal dengan menepuk bahu Mita sahabatnya.
"Siapa yang peduli padaku?! Semua orang tidak pernah perduli dengan perasaanku, kamu, Ega, Rian bahkan Rizki tidak pernah menganggap aku sebagai wanita. Kamu tahukan perjuanganku," lirih Mita.
"Aku tahu, jika kamu mengizinkan aku ingin mencintaimu. Ingin menjadi pendamping hidup kamu. Kamu jangan lagi berharap pada orang yang sudah menikah. Biarkan Ega bahagia bersama wanitanya, yang ada disamping Ega dia wanita yang selama ini ia cari sejak kecil. Lihat ketulusanku, aku mencinta kamu dari dulu hingga saat ini," ucap Kamal.
"Kamu jangan bercanda?! Kamu bicara seperti ini agar aku tidak berbuat nekat dengan Ega kan? Kamu takut jika aku menghancurkan hubungan mereka?!" kata Mita menyelidik.
"Tidak, aku memang menyukai kamu. Kamu percaya atau tidak itu terserah kamu yang terpenting aku sudah mengungkapkan isi hatiku. Aku akan menunggu jawaban kamu, aku permisi nona cantik," puji Kamal.
Mita yang baru pertama kali mendapati pujian dari lawan jenisnya membuat pipinya berubah bersemu-semu. Dia adalah sahabat dari Ega, ia tipe wanita tomboy. Satu tahun ini ia pergi tanpa kabar ingin merubah penampilan juga kepribadiannya yang terbilang wanita mafia semata-mata agar Ega bisa melihatnya sebagai seorang wanita namun usahanya sia-sia.
Di kursi lainnya semua para tamu menikmati hidangan yang telah di siapkan semua menikmati acara pesta dengan sangat gembira ada sebagian yang ketakutan atas perbuatannya ingin sekali ia segera bersujud untuk memohon ampun ada juga yang pergi begitu saja meninggalkan acara pesta yang kini tinggal hiburan saja.
Di atas panggung Ega segera menyampaikan motivasi bagi semua para tamu dan bercerita sedikit hidupnya hingga ia bisa sesukses ini.
"Tuan Ega, anda sangat luar biasa," puji host. "Apa disini ada yang ingin mendengar suara Tuan Albram yang berduet romantis dengan sang istri?!" tanya host pada para tamu.
Semua para tamu bersorak-sorak ingin melihat penampilan orang nomer satu itu.
"Nyanyi, Nyanyi, Nyanyi," teriak semua orang.
"Sebetulnya kami tidak bisa bernyanyi, kami takut jika kita bernyanyi semua sakit telinga dan pergi," tolak Ega sambil tertawa.
"Sungguh Tuan Ega yang selalu merendah, padahal suara Tuan sangatlah merdu. Kami pasti akan terkesima dengan suara anda, tolong sekali saja," mohon host mewakili semua para tamu.
Ega segera menatap istrinya, Asha pun menganggukkan kepala jika ia bersedia.
"Baiklah, hanya satu lagu," ucap Ega.
Kini Ega segera menggenggam jari-jemari sang istri lalu berjalan sedikit maju untuk segera membawakan lagu milik Celine Dion dengan judul My heart will go on.
Every night in my dreams
I see you, I feel you
That is how I know you go on
Far across the distance
And spaces between us
__ADS_1
You have come to show you go on
Near, far, wherever you are
I believe that the heart does go on
Once more, you open the door
And you're here in my heart
And my heart will go on and on
Love can touch us one time
And last for a lifetime
And never let go 'til we're gone
Love was when I loved you
One true time I'd hold to
In my life, we'll always go on
Near, far, wherever you are
I believe that the heart does go on
"Selamat malam Tuan Arnod," sapa Ega.
"Selamat malam juga Tuan Ega, sungguh suatu kehormatan bisa di undang ke acara yang sangat penting ini. Istri anda sungguh luar biasa cantik, istri saya ngidam ingin memeluk istrimu, Tuan. Apakah boleh?!" jawab Tuan Arnod.
"Boleh Tuan, dimana istri anda?" sahut Asha sambil tersenyum ramah.
"Dia sedang duduk disana, maklum usia kandungannya baru genap enam bulan. Padahal aku sudah melarangnya ikut agar istirahat saja di rumah tapi ya begitu wanita itu susah di mengerti, tapi sangat menarik untuk dicintai," canda Tuan Arnod.
"Wah, Tuan suka bercanda juga ya."
"Bercanda itu perlu, agar kita awet muda. Mari Nyonya Ega aku perkenalkan dengan istriku," ajaknya berjalan menghampiri istrinya yang sedang duduk di kursi sambil menikmati hidangan yang ada.
"Sayang, ini wanita yang kamu inginkan," ucap Tuan Arnod dengan menepuk bahu istrinya.
__ADS_1
"Mana, Sayang? Apa kamu sudah memberi tahunya?" tanyanya dengan antusias.
"Sudah, lihat siapa yang sedang duduk di depan kamu saat ini?"
Keira diam mematung tak percaya jika ia bisa menatap wanita cantik yang ada di atas panggung tadi.
Satu jam yang lalu.
"Sayang siapa wanita cantik bernyanyi sangat romatis itu? Apa dia rekan bisnismu?" tanya Keira.
"Sepertinya iya, itu istrinya Tuan Ega. Memang kenapa? Apa kamu mengenalnya atau dia pernah menyakiti kamu atau berbuat sesuatu jika iya, aku akan memutuskan kontrak kerjasama dengan perusahan Albram," jelasnya sambil menyesap rokok di tangannya.
Keira menggelengkan kepala.
"Lalu ada apa? Katakanlah?! Aku tidak ingin siapapun membuat kamj sedih atau terluka?" tegasnya.
"Aku ngidam, Sayang."
"Ngidam? Apa hubungannya dengan dia, Sayang?" tanya menyelidik.
"Aku ingin punya putri yang cantik seperti dia. Aku ingin memeluknya, sebentar saja," rengek Keira.
"Sayang, ngidam kamu ini sungguh aneh-aneh sekali. Dulu waktu kamu hamil Leo tidak seperti ini, sekarang minta peluk dia, kemarin menyuruhku makan sepuluh porsi, memintaku memanjangkan kumis dan jenggot lalu memintaku potong rambut tanpa ada sisa di kepalaku," keluh Arnod.
"Namanya juga ngidam, kalau aku sebenarnya juga tidak mau tapi inikan bawaan anak kamu. Kalau anak kamu cantik tapi ileran saja kamu mau," manyun Keira.
"Tidaklah, sudah kamu duduk disini aku akan cari cara dulu," jelas Arnod.
***
"Hai, Mbak," sapa Asha.
"Ya Allah, kamu sangat cantik sekali," puji Keira memeluk Asha. "Semoga anakku nanti lahir cantik seperti kamu," ucapnya.
Asha segera membalas pelukan wanita yang baru saja ia kenal itu dengan mengusap punggung belakangnya.
"Aku ini wanita biasa, Mbak. Mbak lah yang sangat cantik, wajah Mbak sangat sempurna, oya nama Mbak siapa?" tanya Asha melepas pelukkannya.
"Aku Keira, kamu siapa? Terimakasih ya kamu sudah bersedia aku peluk, semoga kita bisa jadi teman."
"Bisa dong, Mbak. Aku Asha, berapa usia kandungan Mbak ini," ucap Asha dengan mengusap perut buncit wanita di depannya ia membayangkan kapan ia bisa hamil seperti itu.
__ADS_1
Bersambung..