
Adiba dan Arsen memilih berdiri di balkon dengan menyaksikan arunika dari ketinggian apartemennya. Ia berpegangan teraris besi sebagai pembatas, angin sepoi-sepoi pagi hari menyapu seluruh isi bumi dengan daun-daun yang berlambai-lambai sesekali meneteskan embun pagi.
"Sen, kamu ngak ke kantor?" Adiba memulai percakapan suasana tidak hening.
"Seperti tidak untuk saat ini, aku masih ingin bersama kamu. Oya kamu ingin konsep pernikahan seperti apa?" tanya Arsen meminta pendapat Adiba agar acara sakral itu berkesan pada mereka. Ia tidak ingin pernikahan yang hanya sekali itu tidak ada istimewanya sama sekali.
Adiba memutar posisinya, ia menatap Arsen yang juga sudah memindahkan posisi berdirinya. Mereka saling berhadapan dengan menyilangkan kedua tangannya masing-masing didada untuk sedikit memberikan kehangatan pada tubuh mereka.
"Aku belum memikirkan itu, apa itu tidak terlalu cepat."
"Lebih cepat lebih baik kata kamu, agar kita tidak berbuat dosa yang tidak tahu kapan datangnya setan berbisik membujuk kita berbuat lebih," jelas Arsen yang mengingat jelas ucapan kekasihnya itu.
Benar?! Aku hanya tidak ingin kamu buru-buru, tanpa meminta restu kedua orangtua kamu. Aku takut jika aku berharap lebih ternyata orangtua kamu tidak mengizinkan pernikahan ini. Batin Adiba.
Adiba yang tidak ingin salah bicara justru membalas perkataan Arsen dengan senyuman.
__ADS_1
"Kamu kok senyum, apa ada yang lucu dengan ucapanku."
"Tidak ada, oya kapan sarapannya datang. Aku sudah sangat lapar ini."
"Mungkin itu," tebak Arsen saat mendengar bel bunyi pintu apartemennya. "Aku buka dulu, kamu tunggu disini!" ucap Arsen yang ingin memperlakukan istimewa hari ini pada wanita yang sah menjadi tunangannya beberapa menit yang lalu.
Adiba mencengkal lengan Arsen, ia berucap sambil memohon. "Biarkan aku saja, kamu yang tunggu disini. Menyiapkan makan adalah tugas seorang istri. Biar aku belajar dari sekarang menjadi istri yang baik untuk menyiapkan segala keperluan seisi rumah ini kelak."
Arsen memeluk Adiba, "Kamu bukan pembantu, kamu adalah calon istriku tidak ada tugas untuk seorang istri. Semua itu kita lakukan bersama-sama."
Adiba merapikan hijabnya, lalu menarik handle pintu.
Cklek.
Laki-laki yang membawa sebuah tas hitam berisi dokumen penting itu menyipitkan matanya. Ia merasa tidak asing dengan wanita didepannya tapi entah dimana ia melihat wanita cantik berhijab itu yang sedang tersenyum ramah menyambutnya.
__ADS_1
"Dek, kok lama siapa yang datang?" teriak Arsen ketika menunggu wanitanya di meja makan tak kunjung datang.
Adiba menoleh, ingin menjawab tapi Arsen telah menghampirinya.
"Kamu," ucap Arsen pada asistennya. "Kamu tunggu disana dulu, aku ada sesuatu pekerjaan yang ingin aku bicarakan dengan dia," ucap Arsen kepada Adiba.
Adiba memilih meninggalkan mereka yang berjalan menuju ruang kerja. Ia memilih ke dapur mencari makanan yang dapat menganjal perutnya yang dari tadi berbunyi meminta diisi.
Ia membuka lemari pendingin tidak ada stock makanan yang dapat ia makan. Mencari buah juga tidak ada. Setelah mencari keseluruh sudut akhirnya ia menemukan mie instan. Terpaksa ia membuatnya walaupun sebenarnya ia sangat menghindari makan itu.
Di ruang kerja, Yuda masih berusaha mengingatnya. Terlintas sekilas bayangan dibenaknya ketika berada di ruangan sang bos mendengar keributan ob
"Itukan OB, yang dulu kenapa ada disini?! Terus kenapa bos memanggil 'Dek'. Apa yang sebenarnya terjadi, kemarin-kemarin bos sangat membencinya sekarang tinggal bersama. Aku harus menginterogasinya. Pikir Yuda.
"Kenapa kamu menatap bosmu seperti itu? Dimana etika kamu," hardik Arsen yang bisa membaca pikiran asistennya yang akan bertanya siapa Adiba.
__ADS_1